| 07 Oktober 2008 |
Kisah
Masih Ada Damai di Cisalada (2)
20 Juni 2008 - 11:54 WIB
Indah Nurmasari
Jemaat Ahmadiyah tetap hidup rukun dengan para tetangga. Konflik keyakinan yang terus diberitakan media tak menjalar ke kampung itu.
Ghalib bingung saat menyaksikan langsung peristiwa penyerangan terhadap pengikut Ahmadiyah di Parung itu. Dia pun bertanya apa yang sebenarnya terjadi. "Ada orang gila lagi ngamuk...." jawab ayahnya sembari segera menyingkir.
Lalu Ghalib dan sang ayah mengamankan diri ke masjid. Ia melihat anak-anak perempuan berlarian ketakutan. "Saya ngumpet juga," katanya. "Takut kena batu. Saudara saya kena (batu pada) keningnya. Saya lihat sendiri. Terus saya anterin saudara ke rumah sakit."
Khaula menyimak cerita Ghalib dengan saksama. Tiba-tiba gadis kecil ini mengatakan ingin Ahmadiyah tidak dilukai dan masjid-masjidnya tidak dibakar. Khaula melihat serangan terhadap Ahmadiyah di televisi dan mendengar cerita dari para orang tua. "Ahmadiyah biar aman gitu," katanya. "Jangan diapa-apain masjidnya. Ntar Allah marah kalau masjidnya diancurin," katanya dengan ekspresi lugu.
BU ITO berusia 65 tahun. Setiap hari ia berbelanja di Pasar Selasa yang tak jauh dari kampungnya. Pasar itu didatangi warga dari berbagai desa. Sebagian pengunjung adalah penganut Ahmadiyah.
Berita mengenai tuntutan pembubaran Ahmadiyah tak membuat hubungan Bu Ito dengan komunitas di pasar renggang. "Mereka juga tahu kalau saya pengurus Ahmadiyah Cisalada," katanya. "Mereka juga baik-baik saja. Nggak ada masalah."
Ketua RW 05 Kampung Cisalada Humaedi menuturkan, sejak dia lahir tidak pernah ada pertentangan antara warga Kampung Cisalada dengan warga kampung lain karena masalah keyakinan warga kampungnya sejak tahun 1934. "Orang-orang sini, alhamdullilah, rukun-rukun saja," katanya.

Bukan hanya itu, serangan terhadap warga Ahmadiyah di berbagai tempat malah menimbulkan simpati warga sekitar. Pria berumur 62 tahun ini mengungkapkan beberapa kali sempat mendengar kabar Kampung Cisalada akan diserang. Namun isu itu tidak pernah terbukti.
Humaedi meyakini, kampung mereka damai karena anugerah dan penjagaan Allah. Hal itu juga karena mereka telah menjalin hubungan yang baik dengan siapa pun.
Bahkan, jika ada pihak yang akan menyerang mereka, kampung-kampung tetangga sudah siap membantu menyelamatkan Cisalada. "Makanya, dengan dirusaknya mesjid kami, kami lillahi ta'ala. Tidak ada kebencian," katanya. (Bersambung...)
Foto-foto VHRmedia/Dian Ali Rachman
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Egi Sujana: Buyung dan GM Picu Insiden Monas16 September 2008 - 12:47 WIB
- Perempuan Korban FPI Minta Perlindungan10 September 2008 - 18:14 WIB
- Jaksa Minta VCD Ceramah Rizieq Diputar8 September 2008 - 14:59 WIB
- Dievaluasi, SK Larangan Ahmadiyah di Sumsel3 September 2008 - 16:0 WIB
- FPI Minta Buku 'Hitam Putih FPI' Ditarik15 Agustus 2008 - 14:6 WIB
Kisah Terkait
- Masih Ada Damai di Cisalada (3)25 Juni 2008 - 12:50 WIB
- Masih Ada Damai di Cisalada (1)18 Juni 2008 - 17:9 WIB
Agenda
Berita Terkini
Jimly: Negarawan Jangan Jadi Politisi
7 Oktober 2008 - 18:29 WIB
Warga Taman BMW Bertahan
7 Oktober 2008 - 17:46 WIB
11 Parpol Tak Penuhi Kuota Caleg Perempuan
7 Oktober 2008 - 16:59 WIB
ASEAN Siapkan Aturan Perlindungan Buruh Migran
7 Oktober 2008 - 16:11 WIB
Komnas HAM: Stop Diskriminasikan Warga Miskin
7 Oktober 2008 - 15:42 WIB
Inspirasi
Pendatang dan Makelar yang Menjengkelkan
10 September 2008 - 9:17 WIB
DUA tahun lalu saya membeli tanah dan mendirikan rumah - yang belum juga rampung hingga sekarang - di kampung di pinggiran kota Semarang. Gebyog, Kecamatan Gunungpati, itulah kampung saya sekarang.
Saya memang memilih tinggal di kampung, jauh dari keramaian. Jujur, saya menyingkiri
Berita Terpopuler
Penumpang Kereta Bekasi-Jakarta Membeludak
2 Oktober 2008 - 14:29 WIB
Lebaran Pluralis di Kalimalang
1 Oktober 2008 - 11:16 WIB
Arus Mudik Berlanjut Hingga Hari Ini
2 Oktober 2008 - 13:2 WIB
Bom Bunuh Diri Terus Terjadi di Irak
2 Oktober 2008 - 14:47 WIB
Pengesahan RUU MA Hari Ini Batal
6 Oktober 2008 - 12:32 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







