Voice of Human Rights News Center

English English 07 Oktober 2008  

 

Kisah

Masih Ada Damai di Cisalada (3)

Indah Nurmasari

 Jemaat Ahmadiyah tetap rukun dengan para tetangga. Konflik keyakinan yang terus diliput media seakan tak mengusik kerukunan itu.

 

HUMAEDI tidak takut atas dikeluarkannya surat keputusan tiga menteri yang berisi pembatasan aktivitas Ahmadiyah. Ia merasa ajaran Ahmadiyah tidak salah. Bahkan pada tahun 1953 Departemen Kehakiman telah mengeluarkan surat keputusan yang mengesahkan Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Pengesahan tu dituangkan dalam keputusan RI.No.JA.5/23/13 tanggal 13 Maret 1953. Bagi Humaedi, ia memilih keyakinan secara sukarela.

 

Begitu pula Bu Ito. Ia merasa tidak takut atas keluarnya SKB tersebut. "Nggak," katanya. "Nggak begitu takut. Saya tetap yakin sekali dengan keyakinan ini. Saya tidak dipaksa ikut Ahmadiyah dan keyakinan ini tidak bisa diutak-atik lagi."

 

Walau Cisalada tampak damai, warganya tetap mengantisipasi kemungkinan terjadi penyerangan. Setiap hari para perempuan memasak secara bergantian di dapur umum. Dapur umum itu diperuntukkan setiap orang yang bertamu di desa itu, termasuk para polisi yang menjaga desa mereka. Kegiatan semacam ini telah dilakukan sejak tahun 1934.

 

"Gunanya untuk menjamu tamu," ujar Maulana MLM Gulam Wahyuddin SY, penanggung jawab Ahmadiyah di Cisalada. "Tamu itu rezeki. Hargailah tamu. Tamu yang datang ke sini nggak akan kelaparan."

 

Menutup kunjungan kami selama sehari di kampung Cisalada, Ketua Jemaat Ahmadiyah Cabang Cisalada, Basyiruddin Ahmad, menjelaskan asal mula Ahmadiyah masuk di kampung ini.

 

Dulu orang tua mereka pengikut Islam Tarekat yang mempunyai guru KH Abdurahman dari Banten. Kuburan guru tersebut ada di Cisalada. Istri muda guru itu memang orang Cisalada. Sebelum meninggal dunia, KH Abdurrahman berwasiat kepada istrinya bahwa jika ia meninggal, bila mendengar orang membawa atau mengaku Imam Mahdi sudah datang harus diterima. "Entah itu bangsa Cina, Bombay, India, atau bangsa bule, yang penting mereka membawa ajaran Alquran dan Hadist itu harus diterima. Itu amanat beliau," kata Basyiruddin.

 

Sekitar tahun 1934 di Jakarta, murid KH Abdurrahman yang di Sadeng, Jakarta, datang. Katanya ada berita Imam Mahdi sudah tiba di Jakarta. (E2)

Foto-foto: VHRmedia/Dian Ali Rachman

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

    Tidak ada data 5 Artikel terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Warga Taman BMW Bertahan

7 Oktober 2008 - 17:46 WIB

11 Parpol Tak Penuhi Kuota Caleg Perempuan

7 Oktober 2008 - 16:59 WIB

ASEAN Siapkan Aturan Perlindungan Buruh Migran

7 Oktober 2008 - 16:11 WIB

Komnas HAM: Stop Diskriminasikan Warga Miskin

7 Oktober 2008 - 15:42 WIB

Pemprov Papua Tuntut 30% Pajak PT Freeport

7 Oktober 2008 - 14:16 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Pendatang dan Makelar yang Menjengkelkan

10 September 2008 - 9:17 WIB

 DUA tahun lalu saya membeli tanah dan mendirikan rumah - yang belum juga rampung hingga sekarang - di kampung di pinggiran kota Semarang. Gebyog, Kecamatan Gunungpati, itulah kampung saya sekarang.


Saya memang memilih tinggal di kampung, jauh dari keramaian. Jujur, saya menyingkiri

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Penumpang Kereta Bekasi-Jakarta Membeludak

2 Oktober 2008 - 14:29 WIB

Lebaran Pluralis di Kalimalang

1 Oktober 2008 - 11:16 WIB

Arus Mudik Berlanjut Hingga Hari Ini

2 Oktober 2008 - 13:2 WIB

Bom Bunuh Diri Terus Terjadi di Irak

2 Oktober 2008 - 14:47 WIB

Pengesahan RUU MA Hari Ini Batal

6 Oktober 2008 - 12:32 WIB

Arsip Berita »

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua