Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Kisah

Menari Dalam Gelap

Dian Pangastuti

Para tunanetra itu menjuarai berbagai festival tari tingkat internasional. Semangat untuk mandiri mendorong mereka berprestasi.


Siapa nyana sepetak garasi dapat diubah menjadi "kawah candradimuka". Garasi itu menjadi tempat menempa para penyandang kemampuan lain menjadi insan mandiri berprestasi. Yayasan Gembira Siswa Terpadu memanfaatkan garasi untuk mendidik sekitar 50 siswa penyandang kemampuan lain. Berbagai aktivitas, termasuk kesenian, digelar di situ. Mereka berlatih menyanyi dan menari.


Garasi di rumah di Jalan Pulo Raya IV Nomor 2, Jakarta Selatan, itu selalu ramai. Di garasi inilah para penyandang cacat ganda, tunagrahita dan tunadaksa, belajar mempersempit kesenjangan dengan insan lain.


Senja itu sedikitnya 30 anak-anak berlatih menari. Gerakan mereka yang padu-padan dengan irama rebana yang ditingkahi suara bonang dan saron, menghadirkan keindahan tari giring-giring yang nyaris sempurna. Satu di antara pemain musik itu adalah Jumadi, yang memainkan rebana dengan akurasi irama yang apik. Namun, sesekali Jumadi memperagakan gerak tarian, seirama hentakan rebana. "Awalnya saya bergabung ini diajak teman, namanya Mas Riki," kata Jumadi. "Diajak berkegiatan... nyanyi-nyanyi, sedikit hura-hura, makan-makan. Awalnya dari situ."


Bagi lelaki berusia 37 tahun ini, menari dan berkesenian bukanlah hal mudah. Namun, berkat kesabaran para pembimbingnya, mereka dilatih untuk melahirkan kebanggaan diri. "Pertama, saya bangga, rasanya seneng. Kedua, ternyata walaupun aslinya bukan penari, saya bisa melakukan itu karena bimbingan pelatih sanggar tari," tutur Jumadi yang telah bergabung di Krida Budaya Penyandang Cacat sejak tahun 1993.


Jumadi mengaku semua itu diraihnya dengan kerja keras dan panjang. Bahkan, ia sebelumnya tidak pernah bermimpi dapat berkeliling ke empat penjuru dunia untuk menampilkan tarian bersama teman-temannya yang berkemampuan lain. "Kan jarang ya orang tunanetra yang keahliannya nari," katanya.


Meski Jumadi bersama sedikitnya 50 orang lainnya mengalami keterbatasan, prestasi mereka memukau dunia internasional. Mereka mengikuti berbagai festival internasional dan pergelaran di banyak negara seperti Prancis, Italia, Vatikan, Belanda, Hongaria, Slovakia, Serbia, Maroko, Mongolia, Jepang, Singapura, dan Australia. Mereka telah mengukir berbagai prestasi dan meraih berbagai medali emas. Mereka juga meraih Special Golden Trophy dan terpilih sebagai Penampil Terbaik dan Peserta Terbaik pada Huhhot International Festival di Mongolia tahun 2004. Mereka juga pernah menjadi juara I Brunsum Festival di Belanda tahun 2004, juara I Wataboshi Music Festival di Jepang tahun 1997, dan Peserta Terbaik pada Abilympic di Perth, Australia, tahun 1995.


Percaya Diri, Harga Diri, Mandiri

Semangat dan optimisme hingga mencapai prestasi merupakan buah kerja keras berbagai pihak. Lies Koesbiono selaku Ketua Yayasan GR Siswa Terpadu, misalnya. Ia selalu menekankan kepada puluhan anak didiknya agar menjadi insan mandiri berprestasi, meski dengan segala keterbatasannya. "Saya tekankan kepada anak-anak saya, terutama ada empat hal. Pertama adalah selfconvidence (harus percaya diri), kalo sudah percaya diri kamu harus membentuk harga diri," katanya. "Harga dirimu bukan seperti pengemis."

Setelah harga diri kemudian meniti kemandirian, apa pun, sekecil apa pun. "Meniti kemandirian itu menjadi tuan dari usahanya sendiri," tambahnya. Prestasi itu harus mereka raih. Setelah ketiga hal itu mereka dapatkan, pasti mereka bisa.


Prestasi telah mereka raih, penghargaan telah mereka boyong. Namun, semua itu tak membuat mereka puas. Begitupun yang dirasakan Lies Koesbiono. Perempuan 66 tahun ini terus mencurahkan pikiran dan tenaga selama puluhan tahun guna meningkatkan citra orang-orang berkemampuan lain. "Tuhan memerintahkan kepada saya untuk memberdayakan mereka yang cacat ini," katanya. "Ada semangat dalam setiap gemulai tangan dan gerak kaki mereka. "


Selagi asa tetap ada, berpantang menyerah pasrah. Mungkin itu yang ada di benak dan tertanam di dalam hati para penghuni Yayasan GR Siswa Terpadu. "Saya sudah terima apa adanya, karena saya ditakdirkan sudah begini, tunanetra. Saya menerima hidup ini, apa pun risikonya," kata Jumadi. (E2)

- Aksi panggung para penari Krida Budaya Penyandang Cacat (Foto: Dian Pangastuti)

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

    Tidak ada data 5 Artikel terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua