| 20 November 2008 |
Kisah
Mereka Bersandar pada Bawang
19 Februari 2008 - 15:52 WIB
Bustanul Arifin
Brebes dikenal sebagai sentra bawang merah. Petani, buruh, dan pedagang besar bergantung pada komoditas ini.
ICIH, 46 tahun, hampir kehilangan suaranya saat mengikuti lelang bawang di lapak Pasar Induk Brebes, Jumat 15 Februari 2008. Pedagang asal Dukuh Kauman Pulo, Brebes, itu berusaha agar harga bawang rogol tetap di bawah Rp 5.000.
"Bawang rogol artinya tidak disatukan dalam gedengan (rangkaian)," katanya. "Kami beli dari petani untuk dijual kembali kepada juragan besar, Taslan. Nanti tengah hari dia akan datang ke lapak ini untuk beli bawang rogol yang akan dikirim ke Pasar Kuningan, Jakarta," kata Icih yang sudah menggeluti bisnis bawang selama lebih dari 10 tahun.
Akhirnya kesepakatan harga para pedagang di lapak berkisar Rp 4.500 hingga Rp 5.000 per kilogram untuk bawang rogol. Sedangkan bawang gedengan laku Rp 6.000 hingga Rp 6.500 per kilogram. Dengan harga tersebut, Wasjan, 55 tahun, petani asal Desa Sisalam, Kecamatan Wanasari, bisa tersenyum lega. "Saya jual hasil panen bulan kemarin dari 1/8 hektare lahan hanya dapat umbi bawang kering kurang dari 1 ton," katanya. "Maka saya jual rogolan saja, sebab banyak yang busuk akibat kurang panas matahari saat penjemuran," ujar Wasjan yang tak mau menyebutkan banyaknya rupiah dari penjualan kali ini.
Puluhan karung transparan warna merah berisi umbi bawang rogol pun mulai diangkut para kuli panggul menuju tempat parkir truk atau mobil pick-up. Untung Supari, 55 tahun, kuli panggul setempat mengatakan, jika harga bagus, upah yang diberikan padagang untuk dirinya juga naik. "Kuli panggul dibayar berdasarkan berat bawang yang diangkut. Kalau kami angkut 1 ton bisa mendapat upah Rp 10.000 tiap kuli, namun bila kurang dari berat tersebut tinggal kemurahan hati orang yang sewa kami," ujar Supari. Setiap hari kuli panggul bawang di Pasar Induk Brebes bisa mengantongi Rp 20.000 jika harga sedang bagus. Jumlah kuli panggul saat ini lebih dari 30 orang. Sebagian besar kuli panggul juga mempunyai kerja sampingan sebagai tukang becak di sekitar Pasar Induk.
Pusat Transaksi Bawang

BERJALAN sejauh dua kilometer dari Pasar Induk Brebes ke arah barat, kita akan sampai di Pusat Transaksi Bawang Merah. Tempat itu tidak begitu luas, berdekatan dengan jembatan Sungai Pemali. Ada 12 ruko di area transaksi, tidak semua ruko dihuni oleh pebisnis bawang. Hanya ada satu ruko yang dijadikan kantor Asosiasi Pedagang Bawang Merah Indonesia (APBMI).
Berbeda dari lapak Pasar Induk, di areal ruko sekitar kantor APBMI transaksi dimulai sejak pukul 05.30. Awal transaksi para juragan bukan tawaran harga bawang, namun menawar upah kerja para buruh butik dan ngrogol bawang. Mayoritas buruh adalah perempuan dari berbagai desa di sekitar kota Brebes.
Buruh butik adalah sebutan untuk mereka yang khusus merangkai (membuat gedengan) umbi bawang basah seusai dipanen dari lahan. Saat umbi bawang sudah kering, kerja mereka membolak-balik rangkaian untuk menghilangkan sampah dan mempercantik penampilan rangkaian bawang agar sedap dipandang. Upah buruh butik berkisar Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per hari. Meski upah itu terbilang besar, waktu kerja mereka lebih dari delapan jam sehari.
Buruh rogol bekerja memotong ujung daun dan akar bawang yang sudah tidak bisa dirangkai lagi. Mereka disewa bila seorang juragan atau pedagang besar akan menjual bawang untuk pemenuhan stok pabrik makanan instan. Upah buruh rogol diberikan dalam ukuran hasil kerja. Dari tiap kilogram bawang yang dirogol mereka mendapatkan upah Rp 200. Terkadang anak-anak perempuan ikut menjadi buruh rogol, terutama saat liburan sekolah.
Bila transaksi buruh butik dan rogol selesai, beberapa unit truk akan mengantarkan mereka menuju lahan atau gudang bawang milik pedagang yang membeli jasa mereka.

Transaksi berlanjut antarpedagang besar dengan perantara petani pemilik bawang. Perantara ini hanya membawa monser (contoh) rangkaian bawang merah kering dari gudang milik petani. Jika kesepakatan tercapai, perantara akan mengantar truk pengangkut beserta kuli panggul mengambil bawang. Menurut Budi, 37 tahun, salah satu perantara, jika nasib sedang baik dia bisa memperolah upah jasa Rp 2 juta dari petani. "Kerja perantara hanya menghubungkan petani pemilik bawang dengan pedagang. Jam kerja sebentar, tapi hasil memuaskan," ujarnya.
Karena proses transaksi yang cepat inilah Pusat Transaksi Bawang Merah tutup pada tengah hari. Menurut Ketua APBMI H Asmawi Isa, jika harga sedang bagus nilai transaksi mencapai Rp 1 miliar lebih. "Pada November kemarin saat harga bawang mencapai Rp 13.000 per kilogram nilai transaksi mencapai Rp 2 miliar lebih," kata Asmawi.
Asal Mula Bisnis Bawang
Hampir semua juragan atau pedagang partai besar tidak tahu persis asal muasal bisnis bawang merah di Brebes. Saat ini juragan asli daerah yang dianggap paling sukses adalah Sanjir, 67 tahun, warga Desa Keboledan, dan Rohmah, 66 tahun, warga Desa Pagejugan. Pedagang besar lainnya adalah pendatang dari Medan dan Surabaya.
Menurut pemerhati budaya Atmo Tan Sidik, bisnis bawang merah mulai populer di awal tahun 1950-an. "Saat itu ada juragan yang paling dikenal bernama Sui Gie dan Gwo Yang. Mereka pedagang besar yang sering membeli bawang petani. Namun pasca tragedi 65, nama-nama juragan bawang berubah menjadi nama lokal pribumi. Bahkan bisnis mulai dikuasai para haji. Namun saat ini pendatang dari Medan yang menguasai perdagangan bawang," katanya.
Pemerintah Kabupaten Brebes tidak pernah melakukan telaah ilmiah tentang sejarah dimulainya bisnis umbi bawang merah. Birokrasi hanya lebih mengejar pemenuhan target pajak pendapatan daerah.
Lain halnya penuturan Yanto, 56 tahun. Menurut mantan pebisnis bawang pada tahun 1988 sampai 1992 ini, bisnis bawang sudah ada sejak awal kemerdekaan. "Kakek saya sudah berdagang bawang ke Jakarta sejak awal kemerdekaan. Karena alat transportasi masih sebatas kereta api dan perahu, maka jumlah bawang yang dijual tidak banyak," katanya.

Sebelum bank memberikan layanan transfer uang secara on line, pedagang memiliki kurir khusus yang bertugas membawa uang penjualan bawang. Banyak cerita suka-duka menjadi kurir juragan bawang. Mugheni, 57 tahun, mantan kurir pada awal tahun 1980-an menuturkan, "Agar tidak diincar perampok, sering kali kami menyamar atau uang dimasukkan dalam tempat yang tidak diduga perampok. Pernah kami masukkan uang hasil dagangan dalam kompor minyak, tas anyaman tikar pandan yang rusak, atau saku khusus dalam celana."
Kehadiran telepon seluler lumayan membantu petani bawang menambah pendapatan. Rosyid, 54 tahun, petani asal Desa Luwungragi, menuturkan, sebelum ada telepon genggam, petani percaya sepenuhnya informasi dari perantara mengenai harga bawang. "Waktu itu kami sering rugi akibat ditipu perantara soal patokan harga di pasar. Sedangkan sambungan telepon dari pemerintah tidak pernah sampai desa kami. Untung ada HP hingga bisa langsung tanya harga dengan teman-teman petani di kota," kata Rosyid. (E2)
Foto-foto oleh Bustanul Arifin:
Foto 01: Buruh 'butik' khusus merangkai bawang;
Foto 02: Buruh 'rogol' atau memotong daun dan akar bawang, untuk dijual secara 'protolan' dimasukkan dalam karung plastik;
Foto 03: Nara sumber pedagang bawangnya Idih dan juragan bernama Plompong penyetok bawang untuk pasar Kuningan Jakarta;
Foto 04: Suasana transaksi bawang di lapak pasar induk Brebes pada dini hari pukul 04.45 WIB.
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Rapor Merah untuk SBY-JK21 Oktober 2008 - 11:36 WIB
- Pemanggilan Jenderal Jangan Jadi 'Dagangan'21 Oktober 2008 - 10:16 WIB
- Suciwati: Munir Jadi Target Korps Baret Merah16 September 2008 - 15:47 WIB
- Rp 500 Juta Bea Debat Lambang Palang Merah22 Agustus 2008 - 17:28 WIB
- Penurunan Bendera di Bireun Belum Tentu Makar17 Agustus 2008 - 14:53 WIB
Artikel Terkait
- Hari Palang Merah Internasional: Kebersamaan untuk Kemanusiaan8 Mei 2007 - 15:5 WIB
Agenda
Berita Terkini
Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC
20 November 2008 - 18:9 WIB
Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak
20 November 2008 - 16:54 WIB
Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran
20 November 2008 - 15:59 WIB
UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%
20 November 2008 - 15:19 WIB
PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban
20 November 2008 - 14:25 WIB
Inspirasi
Politik Aspal di Sepotong Jalan
31 Oktober 2008 - 9:48 WIB
SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala
Berita Terpopuler
Amrozi Cs Dieksekusi Pukul 00.15 WIB
9 November 2008 - 3:53 WIB
Tolak SKB 4 Menteri, Demo Buruh Ricuh di Istana
6 November 2008 - 18:48 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (2)
9 November 2008 - 8:24 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (1)
9 November 2008 - 8:21 WIB
Pembela Amrozi Cs Ancam Lapor Mahkamah Internasional
7 November 2008 - 18:30 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







