Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Kisah

Mereka Juga Terlilit BBM (1)

Liza Desylanhi

Santi Dampak kenaikan harga bahan bakar bukan hanya dirasakan warga miskin. Pekerja kantoran pun dibuat kewalahan.

 

 

MATAHARI belum lagi terbit. Santi -bukan nama sebenarnya-- sudah mengayuh sepedanya menuju halaman Kantor Wali Kota Depok, lengkap dengan stelan blazer dan sepatu kerja warta hitam.

 

Setiap hari Santi harus berpacu dengan kokok ayam agar tak ketinggalan mobil jemputan yang rutin mengantar dia ke Bandara Soekarno-Hatta, tempat kerjanya. Santi adalah karyawan perusahaan perbaikan dan perawatan pesawat terbang di Cengkareng. Jabatannya lumayan: corporate communications officer.

Sepeda Santi dinamai Faster. Setiap pagi dia menempuh jarak sekitar 7 km. Begitu juga tiap sore. Dulu ia menggunakan jasa ojek menuju tempat jemputan. "(Ongkosnya) 15 ribu rupiah dari rumah sampai ke pinggir jalan untuk naik jemputan. Sedangkan ongkos pulang 5 ribu rupiah," katanya.

Itu belum termasuk potongan untuk bus jemputan. Setiap bulan gaji Santi dipotong sekitar Rp 700 ribu untuk membayar mobil jemputan Rp 35 ribu per hari. Ongkos jemputan memang sedikit lebih murah dibanding ongkos DAMRI jurusan bandara.

 

Santi juga pernah menggunakan jasa angkutan umum secara ketengan alias gonta-ganti angkutan dari rumahnya hingga Kantor Wali Kota Depok. "Sudah angkotnya lama, Kopaja juga lelet jalannya," katanya sedikit geram. Akibatnya beberapa kali Santi ketinggalan bus jemputan, meski sudah berangkat pagi-pagi sekali.

 

Akhir tahun lalu Santi memutuskan memilih sepeda sebagai kendaraan alternatif. Awal tahun dia mencari sepeda yang murah meriah. Akhirnya di sebuah bengkel sepeda dekat rumahnya dia menemukan Faster. Dengan uang Rp 350 ribu perempuan berwajah bulat ini berhasil membawa pulang Faster.

 

Santi punya alasan khusus memilih bersepeda. Pertama, sepeda merupakan kendaraan tanpa ongkos. "Kendaraan yang kita nggak ngeluarin uang, maksudnya biar ‘pahe' (paket hemat) gitu loh," katanya. "Intinya memang untuk penghematan. Me-minimize-lah pengeluaran-pengeluaran kita sebulan. Soalnya masih ngerasa gali lubang tutup lubang." Foto: Dian Ali Rachman (Bersambung...)

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua