Voice of Human Rights News Center

English English 21 November 2008  

 

Kisah

Mereka Juga Terlilit BBM (2)

Liza Desylanhi

sepedaDampak kenaikan harga bahan bakar menerpa semua kalangan. Pekerja kantoran pun harus pandai berhitung mengikuti kenaikan harga kebutuhan.

PAHE alias paket hemat. Begitu Santi menyebut jurusnya untuk menekan pengeluaran. Bukan hanya ongkos transportasi yang dihemat. Ia juga menghemat dan menekan anggaran makannya.

 

"Kalau Senin sering puasa, kalau Kamis kayaknya nggak mungkin puasa. Kan Selasa sama Kamis itu ada kunjungan anak sekolah. Jika Kamis puasa, bukan fisik saja yang drop, tapi suara juga nggak keluar selama jadi guide karena harus nerangain pesawat ke ratusan orang," ujarnya.

 

Setiap hari kerja Santi makan di kantor tiga kali. Ia tak punya waktu sarapan di rumah. Makan malam bersama keluarga juga tidak mungkin. Ia pulang pukul 5 sore dan perjalanan dari Cengkareng ke rumahnya memakan waktu sekitar 3 jam. Paling cepat Santi tiba di rumah pukul 8 malam.

 

Bukan hanya perutnya yang harus ditahan. Santi juga mengatur ketat pengeluarannya yang lain. "Saya membatasi diri untuk membeli macam-macam," katanya. "Ini sepatu sebenarnya udah rusak, (tapi) ditahan-tahan untuk beli. Harga 150 ribu rupiah saja kayaknya sayang gitu."

 

Bahkan untuk kebutuhan penting bagi kebanyakan perempuan, Santi mengaku kini membatasi diri. "Dulu masih mau beli-beli parfum, tapi sekarang mikir dulu buat beli bedak, lisptik."

 

Untuk menghadapi terjangan kenaikan harga akibat kenaikan harga BBM, Santi memang harus memperketat anggaran. Dia mengaku hanya menunggu kebijakan pemerintah dan perusahaannya agar kehidupannya lebih baik. Ia berharap perusahaannya mau menaikkan gaji untuk menyesuaikan dengan harga-harga saat ini. "Saya rasa ada juga pertimbanngan perusahaan untuk naikin gaji karyawan, ya syukur-syukur bisa balance," katanya.

 

Ternyata bukan hanya Santi yang kini mengencangkan ikat pinggang. Kenaikan harga-harga mendorong rekan-rekannya menempuh langkah serupa. Beberapa di antara mereka ada yang memilih berhenti langganan bus jemputan. Gantinya, mereka kredit sepeda motor. Sedangkan mereka yang bujang lebih memilih indekos di sekitar bandara.

 

Santi sepakat subsidi BBM hendaknya tidak dinikmati orang kaya. Namun kenaikan harga BBM mengakibatkan kelas menengan ke bawah semakin menderita. Santi juga mempertanyakan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM. Bagi dia, kenaikan harga BBM tetap menyisakan pertanyaan: akan seperti apa lagi menjalani hidup ke depan? (E2) Foto oleh Dian Ali Rachman.

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua