Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Kisah

Mereka yang Tak Terkucuri BLT (1)

Yuliyanti

antri penerima BLT di SenenBanyak orang miskin tak dapat bantuan langsung tunai. Ada yang dicoret karena statusnya menjanda.

Sahyati, 46 tahun, tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ditemani cucunya janda beranak satu ini menyaksikan tetangganya yang sedang berjajar di antri untuk mencairkan Bantuan Lansung Tunai (BLT) di kantor pos Kelurahan Senen, Jakarta Pusat pada hari Sabtu 24 Mei lalu.

Air matanya tak kuasa ditahannya. Tahun ini Sahyati tidak menerima mendapat kartu BLT dari seperti tahun 2005. Alasannya, suaminya, Priyono, sudah dicoret dari daftar penerima BLT sebab sudah meninggal dunia. “Sekarang, nggak ada bapaknya, gak dapat (BLT),” katanya. “Saya sedih, anak satu, jadi babu. Bisa ngasih (uang), tapi nggak layak.”

Agar tetap mendapat dana kompenasasi kenaikan bahan bakar itu, Sahyati mendatangi ketua RT setempat, mendatangi kantor kelurahan hingga kantor kecamatan. Tapi, hasilnya nihil. Ketua RT mengatakan yang terdaftar sebagai penerima BLT adalah suami Sahyati, dan BLT tidak dapat diwariskan. Jadi, setelah suaminya meninggal dunia keluarga tersebut tak dicatat sebagai penerima bantuan BLT. “Mungkin belum rejeki. Nanti ada susulan...” kata ketua RT ditirikuan Sahyati.

Mendiang suami Sahyati bekerja sebagai tukang potong ayam di pasar Proyek Senen, Jakarta Pusat. Kini, setelah suaminya tiada, Sahyati memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan bekerja sebagai tukang cuci pakaian.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Sejak suaminya meninggal 4 bulan lalu, penyakit diabetes menyerang Sahyati sehingga tak mampu bekerja lagi. Oleh karena itu, Sahyati sangat berharap mendapat bantuan pemerintah itu. “Kalau dapat saya cukup-cukupin. Saya kalau ngomong (soal BLT) nangis terus.. suami saya baru 100 hari meninggal,” katanya. “Sekarang seperak saja gak ada yang ngasih. Sekarang saya gak bisa kerja, kena penyakit gula, gak bisa apa-apa, badan saya lemas. Kalau saya bisa kerja mungkin masih dapat uang,” tambahnya.(Foto: Dian Alirachman)

 

(bersambung...)

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua