Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Kisah

Mereka yang Tak Terkucuri BLT (2)

Yuliyanti

antri BLTUANG BLT itu juga ditunggu Maryani sejak kartu BLT itu dibagikan di kampungnya. Sayangnya, setelah menunggu beberapa hari, ternyata nama suaminya sudah dicoret dari daftar penerima BLT karena sudah meninggal dunia dua tahun lalu .

Maryani yang bekerja sebagai pedagang makanan itu menjadi tulang punggung keluarga. Sehari-harinya, dia bekerja sebagai pembantu beserta kedua anaknya yang tinggal bersama di rumah sempit.

“Orang-orang dapat (BLT), ibu juga pengin dapat. Ibu butuh, punya anak satu laki-laki… kalau nggak cari makan sendiri, nggak ada yang kasih makan,” kata Maryani di kantor pos.

 

Takut Membagikan

 

Mardiyono, lurah Senen, tidak mengelak adanya sejumlah warganya yang kini menjada tidak menerima BLT. Menurutnya, berdasarkan keputusan rapat, kartu BLT tidak dapat diwariskan kepada anak dan istri. “Kecuali jatah warisan orang kaya (yang bisa diwariskan),” katanya. “Untuk menayakan hal itu tanya ke BPS yang melakukan pendataan, bukan ke kita,” tambahnya.

Data di kelurahan Senen menunjukkan, terjadi penyusutan keluarga yang menerima bantuan. Mengacu data BPS tahun 2005, kelurahan Senen tercatat 177 orang yang menerima bantuan. Namun setelah diverifikasi karena meninggal dunia dan pindah, jumlahnya tinggal 158 orang.

“Kita gak berhak menambahkan karena nggak punya kewenangan,” katanya. “Karena BPS punya acuan 14 kriteria (penerima BLT), bukan kita. Karena kalau kelurahn yang punya kriteria, jangan sampai kita yang diamuk massa,” tambahnya.

RW 04 kelurahan Senen termasuk kampung padat penduduk dan miskin. Tak heran, pada pembagian BLT tahun 2005 sempat terjadi protes oleh warga kepada ketua RW dan lurah.

“Katanya ada sebagian warga yang berhak menerima tapi tidak menerima, yang haerusnya tidak berhak malah menerima, “ kenang Boiran, ketuqa RW 04. Tapi protes tersebut tidak berlangsung lama. Menurut Boiran, warga yang protes diajak berdialog oleh lurah sehingga tidak menimbulkan kekerasan. Dia juga menyangkal bahwa pendataan keluarga miskin pernah melibatkan pengurus RW.

Pada hari Jumat, 23 Mei, sehari sebelum kartu BLT dibagikan, Boiran dan para ketua RT sempat berkumpul di pos RW karena para ketua RT enggan membagikan kartu BLT kepada warganya. Mereka takut diprotes warganya seperti tahun 2005. Apalagi mereka juga harus menjelaskan kepada warganya yang sekarang tidak mendapat uang bantuan dari pemerintah, sementara tiga tahun lalu menerima.

“Kelurahan minta dibagikan, tapi saya nggak mau,” katanya. “Kita sudah bagikan ke setiap ketua RT, tapi mereka juga menolak membagikan karena takut disalahin warganya,” tambah Boiran yang ditemui di kantor pos RW. (Foto: Dian Alirachman) (Bersambung...)

 

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua