| 20 November 2008 |
Kisah
Minyak Langka, Sopir Sengsara
13 Mei 2008 - 13:26 WIB
Yuliyanti

Pasokan minyak tanah bersubsidi dihentikan. Bagaimana nasib para sopir truk tangki?
SLAMET Waluyo baru saja mengisi minyak tanah dari tangki ke drum-drum di pangkalan minyak di Cibubur, Jakarta Timur. Pagi itu pangkalan masih sepi, tidak ada antrean pembeli seperti dua bulan lalu. Maklum, sejak pemerintah melakukan konversi minyak tanah dengan gas elpiji pelan-pelan masyarakat meninggalkan minyak tanah sebagai bahan bakar memasak.
Telepon genggam Slamet berdering. Dia berharap ada order mengirim minyak tanah. Ia harus menunggu giliran mengirim minyak. Telepon seluler tak pernah lepas dari tangannya, berharap ada panggilan permintaan mengirim minyak. Slamet belum beruntung. Panggilan itu bukan permintaan mengirim minyak. "Seminggu paling ada tarikan dua sampai empat kali," katanya. "Kalau dulu sehari dua kali narik."
April lalu merupakan bulan terakhir Slamet, sang sopir tangki, mengisi minyak tanah ke pangkalan. Agen tempat dia bekerja sudah tidak mendapat jatah minyak lagi dari Pertamina. Otomatis pekerjaan yang telah digelutinya selama 14 tahun sebagai sopir tangki minyak tanah pun berakhir.
Slamet tidak sendiri. Kawan-kawan seprofesinya yang biasa berkumpul di depo minyak tanah Pelumpang, Jakarta Utara, bernasib sama. Taruna misalnya. Sudah dua bulan ia tidak mendapat kerja mengirim minyak, karena agen tempatnya bekerja sudah tidak lagi mendapat jatah minyak walau kontraknya dengan Pertamina belum berakhir.
Sutrisno juga mengalami nasib yang sama. Sopir pada sebuah agen di dekat Taman Mini Indonesia Indah ini jarang mendapatkan permintaan mengirim minyak. Bosnya memiliki 13 mobil tangki, namun kini hanya 4 mobil yang beroperasi. Para sopir harus bergantian mengoperasikan tangki itu agar semua tetap memiliki penghasilan. "Sekarang seminggu (narik) tiga kali," kata Sutrisno.
Menurut Taruna, para sopir masih ragu untuk berhenti bekerja. Pasalnya mereka masih menunggu keputusan agen tempatnya bekerja yang selama ini menjadi rekanan Pertamina. "Belum cari pekerjaan lain, karena belum ada kepastian," katanya. "Kita ragu-ragu carinya, bos juga belum ambil keputusan."
Suasana di depo Pelumpang kini sudah tidak seramai dulu. Tak lagi tampak hilir-mudik mobil-mobil tangki. Yang tampak hanya polisi dari kesatuan Brigade Mobil dan tentara dengan senjata lengkap. Para sopir tangki hanya tampak duduk-duduk di sebuah warung dekat pos pengisian bahan bakar. Sebagian sopir sudah pulang kampung karena tak mampu bertahan hidup di Jakarta. "Saya sudah sebulan nongkrong, luntang-lantung," kata Taruna.
Daerah Pelumpang bukan hanya dikenal sebagai tempat depo distribusi bahan bakar untuk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek). Daerah ini juga terkenal sebagai tempat tinggal para sopir tangki minyak tanah. Mereka tinggal di atas tanah sengketa di Jalan Tanah Merah di atas Bendungan Melayu dan Rawa Sengon Pelumpang. Menurut Slamet, sejak reformasi 1998 warga yang dulunya digusur pada tahun 1989 mendirikan kembali rumah di kawasan itu. Sebagian mereka adalah sopir tangki minyak tanah yang sudah bekerja belasan tahun.
Siang itu Sutrisna, Adi, dan Lukas terlihat santai di rumah kontrakan mereka di Plumpang. Sudah sebulan mereka jarang menarik mobil tangki. Kalaupun mendapat jatah narik, hanya seminggu atau sebulan sekali. Itu pun untuk satu sampai dua kali pengisian saja. Namun mereka menolak tawaran menjadi sopir tabung gas elpiji berukuran 3 kg itu. "Karena kebanyakan bos tidak banyak yang ngambil gas," kata Adi. "Kalau mau ambil gas, bos mikir dulu. Keberatan. Modal gede, untung sedikt."
Adi menolak menjadi sopir pengangkut gas elpiji. Pasalnya ia dan teman sekamarnya pernah mencoba menjadi sopir gas elpiji ke pangkalan-pangkalan. Teman sekamarnya sampai mengalami turun berok (hernia) karena harus mengangkat gas yang jumlahnya tidak sedikit. "Teman saya sudah dua minggu nggak bisa bangun, karena kecapaian harus angkat gas," katanya.
Menjadi distributor gas elpiji pun tak menjanjikan untung besar. Dari setiap tabung distributor hanya mengantongi untung Rp 450 . "Kita berangkat subuh pulang jam 10 malam," kata Adi. "Sementara bos nggak ngeluarin gaji, untuk operasional saja (sopir) ngeluarin uang."
Kondisi itu berbeda dari saat mereka masih menjadi sopir tangki minyak tanah. Meskipun tidak ada sistem gaji bulanan, penghasilan mereka lumayan besar. Setiap kali narik sopir tangki mendapatkan Rp 200.000. Uang itu digunakan untuk membeli 10 liter solar, makan, dan membayar pungutan liar di depo. Sisanya dibagi antara sopir dan kernet. Sehari mereka bisa dua kali narik dengan pendapatan bersih lebih dari Rp 200.000. Padahal mereka bekerja cuma tiga sampai empat jam per hari.
Sutrisna, Slamet, dan Taruna hanya bisa pasrah. Mereka tak bisa bekerja kembali menjadi sopir tangki minyak. Mencari pekerjaan baru pun tak gampang. Berapa pesangon yang mereka terima dari dari pemilik agen? Mereka bertiga menjawab serentak, "Alhamdulillah... tak sepeser pun!" (E2)
Foto-foto: VHRmedia.com/Dian Ali Rahman
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Kejagung Hentikan Penyidikan Kasus VLCC 20 November 2008 - 18:9 WIB
- Bush Longgarkan Perlindungan Spesies Langka 20 November 2008 - 13:16 WIB
- KPK Minta Pihak Terkait Penyidikan BLBI Lengkapi Data 20 November 2008 - 11:37 WIB
- Lembaga Publik Harus Sediakan Informasi On Line19 November 2008 - 16:14 WIB
- Mahasiswa Protes Kenaikan APBD Jateng 19 November 2008 - 14:34 WIB
Kisah Terkait
- Jalan-jalan ke Kampung Amrozi (1)14 November 2008 - 11:52 WIB
- Tolak Bala ala Serikat Pekerja (3, habis)12 Agustus 2008 - 11:54 WIB
- Tolak Bala ala Serikat Pekerja (2)11 Agustus 2008 - 15:31 WIB
- Tolak Bala ala Serikat Pekerja (1)8 Agustus 2008 - 14:21 WIB
- Kantin Kejujuran1 Agustus 2008 - 12:47 WIB
Artikel Terkait
- Kematian Mahdi dan Kegalauan yang Tersisa25 April 2008 - 12:39 WIB
- Memutus Kemiskinan dan Jalan Ekonomi Rakyat8 April 2008 - 17:24 WIB
- Antara Ronodipuro dan Soeharto 29 Januari 2008 - 12:22 WIB
- Kontraktor Keamanan Partikelir3 September 2007 - 5:39 WIB
- Kontraktor Keamanan Partikelir 24 Agustus 2007 - 13:41 WIB
Agenda
Berita Terkini
Kejagung Hentikan Penyidikan Kasus VLCC
20 November 2008 - 18:9 WIB
Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak
20 November 2008 - 16:54 WIB
Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran
20 November 2008 - 15:59 WIB
UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%
20 November 2008 - 15:19 WIB
PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban
20 November 2008 - 14:25 WIB
Inspirasi
Politik Aspal di Sepotong Jalan
31 Oktober 2008 - 9:48 WIB
SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala
Berita Terpopuler
Amrozi Cs Dieksekusi Pukul 00.15 WIB
9 November 2008 - 3:53 WIB
Tolak SKB 4 Menteri, Demo Buruh Ricuh di Istana
6 November 2008 - 18:48 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (2)
9 November 2008 - 8:24 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (1)
9 November 2008 - 8:21 WIB
Pembela Amrozi Cs Ancam Lapor Mahkamah Internasional
7 November 2008 - 18:30 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







