| 03 September 2010 |
Kisah
Museum Santet
18 Desember 2008 - 14:2 WIB
Yovinus Guntur Wicaksono
Banyak orang tak percaya santet. Tapi seorang dokter di Surabaya meyakininya ada. Museum ini adalah buktinya.
JIKA berkunjung ke museum ini, Anda pasti terperanjat. Di tempat ini Anda akan menemukan benda-benda santet dan jimat yang diyakini oleh masyarakat Indonesia memiliki kekuatan magis untuk menyakiti dan menyembuhkan. Menurut Hariyadi Soeprapto, perintis museum ini, secara rasional, santet memang tidak bisa dijelaskan. Namun, ada beberapa bukti, bahwa santet bisa disembuhkan dengan cara-cara medis, meski terkesan di luar pakem dunia kedokteran.
Dengan membuat museum ini, Hariyadi berharap para pengunjung tersadarkan akan kesehatan dalam dirinya, melalui "penghargaan" dan pelayanan kepada sesama dan lingkungan. "Terkadang kita sering menyepelekan barang atau sesuatu yang tidak memiliki nilai," katanya. "Namun, dengan keberadaan museum ini, saya ingin menunjukkan bila bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki nilai estetika dan mampu menghargai sesuatu yang dinilai tidak penting ini," ia menambahkan.
Hariyadi harus rela bertapa di beberapa tempat yang dinilai keramat untuk mendapatkan referensi tentang dunia santet. Selain itu, ia harus "melobi" para dukun agar bersedia menyerahkan barang-barang yang biasa digunakan sebagai media santet maupun media penangkal santet.
Media yang digunakan untuk menyantet antara lain tanah kuburan, boneka, paku bengkok, usus hewan dan otak manusia. Sebagian besar benda koleksi didapatkannya dari Banyuwangi, Jawa Timur.
Desainer interior museum, Budi Sundarto, memasang etalase khusus untuk terapi relijius, seperti kitab Taurat, Alquran, patung Bunda Maria, kitab suci Wreda dan lain sebagainya. Benda-bena relijius tersebut dipampang di museum ini untuk mengingatkan pengunjung agar tidak melakukan hal yang dilarang tuhan, seperti menyantet.
Museum ini dibagi dalam beberapa ruang. Ada Sasana Budaya, yang menyimpan benda-benda bernuansa majis. Ada juga Sasana Kespro yang memamerkan berbagai peralatan kesehatan reproduksi, salah satunya adalah wadah untuk menyimpan ari-ari. Ada pula kursi antik dari Madura untuk wanita usai melahirkan dan sedang mengalami masa nifas.
Di sasana Genetika dipamerkan berbagai silsilah garis dinasti. Di sini terdapat silsilah keluarga berbagai kerajaan di Indonesia. Foto: Yovius Guntur Wicaksono.
©2010 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Dinkes Jombang agar Optimalkan Program KRR28 Agustus 2008 - 13:31 WIB
- Uap Lumpur Ancam Warga Sidoarjo14 Juli 2008 - 18:13 WIB
- Menteri Kesehatan Desak Namru 2 Ditutup26 Juni 2008 - 10:50 WIB
- Buruh Tuntut Jaminan Kesehatan Gratis24 April 2008 - 13:3 WIB
- Kurang, Dana APBN untuk Kesehatan Warga Miskin10 Maret 2008 - 17:25 WIB
Kisah Terkait
- Celaka Hantui Buruh Konstruksi1 Mei 2007 - 11:52 WIB
- Mengharap Kesaktian Kartu Sehat4 April 2007 - 12:57 WIB
- Robohnya Klinik Kami21 Maret 2007 - 13:48 WIB
Agenda
Berita Terkini
Wajah Baru VHRmedia
21 Januari 2009 - 14:20 WIB
Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM
16 Januari 2009 - 23:54 WIB
Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid
16 Januari 2009 - 21:33 WIB
Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror
16 Januari 2009 - 21:15 WIB
LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III
16 Januari 2009 - 21:4 WIB
Inspirasi
Politik Aspal di Sepotong Jalan
31 Oktober 2008 - 9:48 WIB
SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala
Berita Terpopuler
Tidak ada data 5 Berita terpopuler
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







