Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Kisah

Pojok Indonesia di Hong Kong

Fransisca Ria Susanti

Buruh migran Indonesia menemukan tempat pelarian. Sekadar jembatan rindu rumah dan kampung halaman.


 TOKO kecil itu persis di depan kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia di ruas Kewicks Street, Causeway Bay, Hong Kong. Deretan mi instan dengan trademark Indonesia berjajar memenuhi rak di depan toko.

Sekali lihat, orang langsung tahu toko itu milik orang Indonesia. Setidaknya, papan nama besar dengan huruf putih dan background merah berbunyi Warung Chandra menjadi penanda. Ternyata nama pemilik tidak sama dengan nama warungnya. Pemiliknya lebih akrab dipanggil Ferry. Nama depannya sama dengan nama Konsul Jenderal RI yang berkantor di seberangnya.


Beberapa bulan lalu Ferry gusar. Ia jengkel atas sebuah surat pembaca yang dimuat tabloid Jakarta yang juga beredar di Hong Kong. Penulis surat tersebut menyebut-nyebut warungnya berperan sebagai "broker" pengurusan paspor. "Padahal saya cuma kasih tempat buat orang yang suka bantuin anak-anak ngisi paspor. Saya hanya kasihan mereka nggak punya tempat," keluhnya.


Orang yang dimaksud Ferry adalah seorang perempuan asal Singkawang. Perempuan itu merantau di Hong Kong sejak puluhan tahun lalu dan bekerja apa saja asal bisa makan. Namun kemudian terdampar di sudut Leighton Road, menawarkan jasa pengisian formulir kepada para buruh migran Indonesia yang kerap bingung dengan urusan administrasi. Ia biasa menunggu di teras Warung Chandra, duduk atau berdiri diam-diam dan sesekali menawarkan jasa jika ada perempuan pekerja migran yang melintas di dekatnya, dari KJRI ke Warung Chandra atau sebaliknya.


Ferry mengaku tidak tega melihatnya. Ia kemudian menawarkan tempatnya untuk digunakan sebagai tempat "berteduh" dari terik dan hujan. Namun tawaran ini berbuntut tudingan warungnya ikut membantu tindakan licik untuk memeras buruh migran.


"Banyak warung Indonesia yang melakukan praktik seperti itu," kata Ketua Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI) Eni Lestari.


Uniknya, ratusan warung Indonesia di Hong Kong juga tempat "mengadu" bagi perempuan Indonesia yang bekerja di negeri ini sebagai pembantu rumah tangga. Data terakhir mencatat sekitar 110.000 warga Indonesia merantau di Hong Kong sebagai pekerja rumah tangga.


Setiap Minggu, yang merupakan hari libur bagi mayoritas buruh migran, warung-warung Indonesia di kawasan Causeway Bay ramai dengan celoteh berlogat Jawa Timur. Tak mengherankan, karena mayoritas buruh migran yang bekerja di Hong Kong berasal dari kawasan timur Pulau Jawa.


Causeway Bay selalu menjadi sentral pertemuan para buruh migran asal Indonesia. Victoria Park yang merupakan taman terluas di Hong Kong selalu dijejali ribuan perempuan asal Indonesia. Sejumlah restoran franchise seperti KFC dan McDonald's juga dipenuhi sosok-sosok berkulit sawo matang yang tak tertampung lagi di warung Indonesia.


Padahal jumlah warung Indonesia di kawasan Causeway tak bisa dibilang sedikit. Selain Warung Chandra milik Ferry, ada warung Indonesia dengan dua nama sama di kawasan tersebut. Ada juga Warung Malang, Sedap Gurih, Warung Blitar, dan sebagainya. Sementara di kawasan Kowloon dan New Territories yang terletak di luar Hong Kong Island, warung-warung Indonesia juga berjajar.

Tempat Mengadu
 BAGI sebagian besar buruh migran Indonesia, warung-warung itu juga menjadi tempat "pelarian" saat menghadapi masalah di rumah majikan. Di sini mereka bertemu dengan sesama pekerja yang menggunakan bahasa yang sama.


Dari sini pula biasanya ada informasi tentang apa yang harus dilakukan dan ke mana harus mengadu atau berlindung. Jika kasus yang dihadapi berupa penganiayaan atau pemberian upah di bawah standar peraturan Hong Kong, mereka dianjurkan kembali ke majikan dan mengumpulkan bukti agar gugatan yang bakal diajukan ke Labor Department tak sia-sia.


Lastri (20), buruh migran Indonesia asal Ngawi, misalnya, mengaku pergi ke warung Indonesia di dekat rumah majikannya untuk mengeluhkan tindak pelecehan seksual yang dilakukan majikannya. Oleh seorang pekerja asal Indonesia, Lastri diberi sebuah tape recorder untuk merekam pernyataan majikan jika kembali berulah. "Katanya, tindak pelecehan seksual harus punya bukti kuat. Kalau tidak, nggak ada gunanya kita bikin gugatan," ungkap Lastri.


Sementara seorang pekerja perempuan asal Blitar yang kena aniaya majikannya dan kabur ke warung Indonesia di kawasan Yeun Long langsung dibekali handphone oleh seorang pekerja lain yang ditemuinya. "Ia bilang saya bisa menggunakan handphone tersebut untuk menghubungi penanggung jawab shelter (tempat penampungan pekerja yang tengah menghadapi masalah)," tutur perempuan itu.


Solidaritas yang muncul di warung-warung Indonesia tersebut seolah menjadi penopang bagi ribuan perempuan Indonesia untuk bertahan di tanah rantau. Banyak dari mereka yang harus menyimpan rindu bertahun-tahun kepada buah hati, menyimpan sakit hati karena dikhianati suami, diperlakukan tak adil oleh majikan, ataupun didiskriminasi oleh birokrasi hanya karena status mereka sebagai pekerja rumah tangga.


Di warung-warung itu para buruh migran Indonesia dapat mencecap makanan yang bumbunya mereka kenal sambil berbincang ringan dengan bahasa sendiri. Setidaknya mereka merasa menemukan tempat untuk sejenak "pulang".(E4)
Foto-foto: Moh Fanani & Etik Juwita

©2008 VHRmedia.com


Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

PKL Surabaya Tolak Perda Penggunaan Jalan

20 November 2008 - 13:38 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua