Voice of Human Rights News Center

English English 21 November 2008  

 

Kisah

Segenggam Harapan Karmila

Fathiyah Wardah Alatas

Bayinya meninggal dalam gendongan. Pasangan hidupnya masuk penjara. Dia berjuang keluar dari kubangan nasib.

"Mil, anak elo kok nggak bergerak-gerak. Kok badannya dingin?" kata Dewa, kakak angkat Karmila, saat akan memandikan bayi itu.

Karmila terkejut. Ia lihat bayi yang biasanya ia gendong menelusuri gerbong-gerbong kereta itu ternyata sudah meninggal tanpa sepengetahuannya. Tangis ibu ini pun pecah. "Ya Allah!" serunya. "Kenapa bukan saya saja yang meninggal? Kenapa anak saya yang dicabut nyawanya? Padahal, ia nggak punya dosa."

Bayi itu bernama Fransiska Cinthia Dewi. Umurnya baru dua bulan. Karmila dan Dewa membawanya ke rumah sakit. Dokter memastikan Fransiska memang sudah meninggal. Lalu Dewa menguburkan bayi itu di Kampung Belimbing, Citayam, Bogor. Sayang sekali Karmila tak bisa mengikuti prosesi pemakaman bayinya.

"Pak hajinya ngomong, ini anak kesambet," kata Karmila. "Matinya nggak wajar. Matanya kebuka sedikit, ngeluarin pilek, ngeluarin air mata. Seakan-akan ia nggak rela ninggalian orang tuanya yang hidup di jalanan."

Karmila bekerja sebagai penyapu gerbong kereta listrik jurusan Jakarta-Bogor. Penghasilan perempuan umur 20 tahun ini dari belas kasihan penumpang. Ia menyapu lantai gerbong-gerbong kereta sambil menggendong Fransiska. Namun sejak bayi itu sakit, Karmila tak bisa lagi menyapu gerbong. "Takut debu makin memperparah kondisi Fransiska," katanya.

Sejak itu Karmila beralih menjadi pengemis di Stasiun Depok Baru, Jawa Barat. Ternyata pendapatannya lebih besar ketimbang saat menyapu dari gerbong ke gerbong. Tiap hari ia bisa mengantongi Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu.

Perempuan kurus berkulit gelap ini harus hidup mandiri sejak ibunya meninggal pada tahun 2001. Waktu itu dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Mulanya ia diasuh tetangganya di Petamburan, Jakarta Barat, selama dua tahun. Karena tetangganya itu pindah ke Padang, Sumatera Barat, Karmila pun harus bertahan hidup sendiri. Dia menjadi pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga Arab di Bogor. Sialnya selama dua tahun bekerja dia tak digaji. Karmila pun lari dari rumah keluarga itu dan nekat hidup menggelandang.

 

Awalnya ia mencari makan dengan meminta-minta di Stasiun Kota, Jakarta. Setelah itu ia berkelana sebagai penyapu gerbong. Ia mengikuti kereta dari Jakarta hingga Yogyakarta. Kadang-kadang ia berkelana di berbagai terminal bus di banyak kota.

Di Terminal Baranangsiang, Bogor, Jawa Barat, kehidupan Karmila terguncang. Dia diperkosa seorang laki-laki. "Habis memperkosa saya, dia bilang mau tanggung jawab," katanya. "Tapi saya nggak mau. Namanya trauma. Akhirnya saya kabur. Tiap ketemu laki-laki saya kabur."

Setelah lama berselang, akhirnya Karmila bisa menerima laki-laki dalam kehidupannya. Dia menjalin hubungan asmara dengan Robi dan hidup bersama dengan pria pujaan itu. Robi berjanji menikah Karmila di kampungnya di Palembang, Sumatera Selatan. Tapi rencana indah tinggal rencana. Sampai Karmila melahirkan anak pertama, Halim, pernikahan tak kunjung terjadi. Robi keburu masuk bui di Cipinang. Dia ditangkap polisi dengan tuduhan bekerja sama dengan kawannya memalak penumpang kereta.

"Dia nyimpan barangnya di tempat Robi," kata Karmila. "Padahal, pekerjaan Robi adalah nyapu di kereta."

Robi menjadi penghuni bui saat Karmila mengandung anak pertama. Karmila tak bisa berbuat apa-apa. Untuk menjenguk Robi di Cipinang pun ia tak bisa karena tak memiliki kartu tanda penduduk.

Setelah Robi mendekam di Cipinang, diam-diam Karmila menjalin hubungan dengan Ricky. Dari laki-laki baru ini Karmila melahirkan Fransiska. Namun, setelah Fransiska lahir, Ricky kabur. "Lihat Fransiska dua kali doang," kata Karmila. "Pernah saya cari ke Stasiun Kranji, Bekasi. Saya nyari-nyari ke kolong. Katanya sudah pindah."

Karmila bertahan hidup dari mengemis di Stasiun Depok Baru. Bersama anaknya, Halim, yang baru berumur dua tahun, tiap hari dia duduk di lantai stasiun itu menunggu belas kasihan. Sering kali Halim tertidur di ubin stasiun itu. "Kami mulai minta-minta dari jam tiga sore hingga delapan malam," katanya.

Kini Karmila tinggal bersama ibu angkatnya di Depok Baru. Mereka berpatungan mengontrak sebuah kamar seharga Rp 325 ribu per bulan.

Karmila berharap bisa bersama kembali dengan Robi jika "suaminya" itu keluar dari penjara. "Biar Halim sekolah," ujarnya. "Biar nanti bisa angkat kehidupan orang tuanya. Biar nggak kayak gini lagi. Nggak dihina orang. Nggak diinjak orang." (E2)

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua