Voice of Human Rights News Center

English English 21 November 2008  

 

Kisah

Sumarna Si Manusia Gerobak

Angga Haksoro Ardhi

Bagai siput, manusia gerobak menyeret rumahnya ke mana-mana. Ia punya rumah, tapi tanpa alamat.

Hujan mengguyur Jakarta tiada henti, memaksa setiap orang berteduh. Gerobak-gerobak pemulung diparkir semrawut, mencari lindung dari hujan. Sebagian berteduh di bawah rindang pepohonan. Sebagian di emperan warung. Mendung masih menggantung berat, pertanda hujan besar segera menyusul. Banjir tinggal menunggu waktu, ritual tahunan kota Jakarta.

Di Jalan Surabaya, Cikini, Menteng, Sumarna memarkir gerobaknya. Gerobak seng tak bercat beratap terpal plastik warna biru itulah "rumah" Sumarna. Di dalam "rumah" ukuran 2 x 1 meter itu seluruh kekayaan Sumarna disimpan. Sarung lusuh, bantal kotor, dan beberapa potong pakaian kusut berjejalan di ruang sempit. Ada juga ember kecil, sikat gigi, sepotong sabun mandi, dan handuk kecil tergantung di dinding gerobak.

Lelaki usia 78 tahun itu membenahi atap gerobaknya. Terpal lusuh itu tak mampu lagi menahan bocor di sana sini yang membuatnya kewalahan menampik derasnya hujan. Gerobak itu pun basah.

Sumarna sudah terlalu letih. Mata tuanya lelah menahan kantuk. Ia rebahkan diri di "peraduannya" di gerobak itu. Ditariknya selimut ke dada dan merelakan kakinya basah oleh tetes air rembesan hujan. Matanya dipejamkan, mencoba melupakan dingin yang menyerang hingga ke tulang.

Seperti siput, Sumarna dan ratusan manusia gerobak lain di Jakarta membawa "rumah" mereka ke mana pun pergi. Setiap hari manusia gerobak menyusuri jalan-jalan Ibu Kota. Mereka memiliki rumah, tapi tidak punya alamat tetap.

"Emang susah sih hidup di jalanan. Kalau hujan kedinginan, panas kepanasan," kata Sumarna. Sembari bercerita, lelaki tua ini sesekali menyeka tetesan air hujan yang mampir di wajahnya dengan handuk kecil yang setia melingkar di lehernya. Jika hari panas handuk lusuh itu yang menghapus keringat ketika dia bekerja.

Usianya baru sepuluh tahun ketika Sumarna menginjakkan kaki di Jakarta. Bocah sebatang kara asal Desa Cirangrang, Cikopo, Bandung, Jawa Barat, ini tiba di Ibu kota karena diajak tetangganya. Namun akhirnya dia ditinggalkan sendirian. Sumarna kecil harus melanjutkan kehidupan, apa pun jalannya.

Sumarna pun berkelana di Jakarta tanpa uang di tangan. Bocah ini belajar bertahan hidup di belantara Ibu Kota dengan satu-satunya cara yang ia tahu. Mengais sampah, mendapatkan barang bekas, menjualnya ke pengumpul, dan membeli makanan untuk bertahan hidup. Dia pun tidur di emper-emper toko. Saat itu belum terbersit ide untuk tinggal dalam gerobak.

Selama 27 tahun Sumarna mencoba menyisihkan penghasilan yang tak seberapa untuk pulang ke kampung halaman. Namun di tanah kelahirannya Sumarna bingung. Tak ada pekerjaan di sana. Uang simpanan selama memulung di Jakarta pun habis dalam hitungan bulan. Tanpa pekerjaan, jiwa muda Sumarna gelisah. Akhirnya dia membulatkan tekad untuk kembali bergelut di Ibu Kota.

Hanya berbekal keyakinan, lelaki berkulit legam ini menginjakkan kaki untuk kedua kali di Jakarta. Kembali memulung seperti kali pertama dia datang. Kawasan Cikini menjadi pilihan untuk mencoba peruntungan. Saat itu Cikini belum seramai sekarang. Sumarna mengaku dialah pemulung pertama di sana, sehingga masih cukup mudah mendapatkan lapak untuk sekadar menumpang tidur.

Harapan untuk mendapatkan pekerjaan lain juga tetap dipupuknya. Namun nasib baik tak juga menghampiri. Selama 41 tahun Sumarna terjebak dalam liang kemiskinan. Selama itu pula dia hidup sebagai tunawisma. Mulai banyak pemulung lain yang juga bertarung di Cikini memaksa Sumarna beringsut menyingkir. Akhirnya ide cemerlang datang untuk menempati rumah gerobak.

Meski akrab dengan dingin angin malam, Sumarna tak bisa memungkiri usianya kian senja. Kini ia kerap sakit. Walau sakit yang kerap mampir hanya flu biasa, dia tak mampu berobat ke dokter karena biayanya tak sebanding dengan pendapatannya. Sumarna pun memilih melawan sakit dengan obat kelas warung yang harganya relatif terjangkau.

Sehari-hari Sumarna mandi di warung dekat pangkalan gerobaknya di Cikini. Pemilik warung tak pernah keberatan lelaki tua itu menumpang mandi. Namun, untuk buang hajat, Sumarna harus melakukannya di toilet umum Pasar Cikini.

Tinggal di gerobak adalah pilihan Sumarna. Ia tak mau menetap di gubuk seperti tunawisma lain. Sebab, dengan gerobak ia bisa menghindari aparat yang sering "menggaruk" para tunawisma yang terus bertambah di Jakarta. Jika ada operasi, Sumarna langsung menarik gerobaknya, berpindah ke tempat yang dirasa aman.

Pemerintah tidak pernah mau tahu nasib Sumarna dan kaumnya yang tidak mampu memiliki tempat tinggal semestinya. Orang-orang kecil dan papa itu dilihat hanya sebagai sampah kota yang mengganggu keindahan. Pemerintah merasa upaya untuk menyingkirkan mereka setara dengan yang dilakukan untuk membangun lampu hias kota.

Kini Sumarna tak muda lagi. Otot-otot tubuhnya sudah tak sekuat dulu. Geraknya sudah lamban. Ia tak lagi bisa mengais gelas plastik bekas sebanyak dulu. Kini dalam sehari ia hanya mampu mengumpulkan uang Rp 10 ribu. Uang hasil cucuran keringat itu hanya cukup untuk makan. Nyaris tak ada yang tersisa.

Betapapun sulit hidupnya, Sumarna tak kehilangan perhatian dan kasih sayang. Semampunya dia berusaha membantu orang lain. Kini menanggung hidup keponakannya di kampung. Bocah yatim itu diangkatnya sebagai anak.

Sumarna tidak ingin nasib buruknya menurun pada anaknya. Dia bertekad membuka warung untuk anak itu. Selain bisa menafkahi anak angkatnya, Sumarna berharap bisa menetap di warung itu. Ia bermimpi melewatkan hari tua dengan hidup tenang di warung itu. Dia sudah capek kucing-kucingan dengan aparat ketertiban di Jakarta. Namun, mengumpulkan modal Rp 15 juta bukanlah perkara gampang bagi dia. Ia tak yakin bisa melakukan itu di Jakarta. "Tanah mana dapet 15 juta?" tanyanya, lebih kepada diri sendiri.

Senja menjemput malam. Lampu-lampu jalanan mulai menyala. Awan hitam menggantung di langit Jakarta. Hujan tak juga reda. Tampaknya cuaca akan kembali menghalangi Sumarna mengais-ngais sampah dan menemukan barang bekas. Untung masih ada "tabungan" satu karung gelas plastik bekas yang bisa dijualnya untuk makan esok hari.

Sumarna kembali tidur. Lelah berkelana di belantara Ibu Kota segera mengantarnya ke alam mimpi. Tetes air hujan yang menerobos terpal plastik gerobaknya tak mampu mengusik tidur lelapnya. Mungkin Sumarna bermimpi mendapatkan uang Rp 15 juta untuk masa depan anaknya dan hari tuanya. (E2)

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

    Tidak ada data 5 Kisah terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua