Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Kisah

Terbakarnya Sekolah Kami

Fathiyah Wardah Alatas

Sekolah Darurat Kartini terbakar bersama ratusan rumah warga kolong tol Penjaringan. Sekolah gratis itu kini tinggal puing-puing, dan tak akan dibangun lagi di kolong tol.

 

Boleh jadi orang yang mengunjungi Sekolah Darurat Kartini di kawasan Lodan, Ancol, Jakarta Utara, akan jatuh haru. "Gedung" sekolah itu di bawah jembatan tol dan di pinggir jalan yang dipenuhi lapak barang bekas dan gunungan pasir.

 

Bangunannya berdinding kayu lapis, tanpa jendela, dan hanya memiliki satu pintu untuk keluar-masuk. Lantainya dari semen dan masih ada pelur basah di sana-sini. Sekolah seluas seratus meter persegi ini tak memiliki ruang kelas. Semua murid, taman kanak-kanak sampai sekolah menengah umum, berkumpul dalam satu ruangan itu. Mereka semua berseragam putih-biru telur asin. Kursinya kebanyakan dari plastik. Meja dan papan tulisnya buatan sendiri.

 

Meski sangat sederhana, suasananya sama seperti sekolah-sekolah lain. Ada mimik serius, tawa, dan canda. Deru mesin kendaraan yang melintas di atas jembatan atau di depan jalan sama sekali tak mengganggu. Ketika VHRmedia berkunjung ke sana, Sabtu tiga pekan lalu, murid-murid Sekolah Kartini sedang belajar. Murid kelas III SD belajar baca-tulis dan kelas II menggambar.

 

"Saya senang sekolah di sini. Ibu

gurunya mengajar dengan baik

sampai pintar."

(Lia Amalia, murid Sekolah Darurat Kartini)

Para murid tidak patah semangat walau belajar di tempat darurat. "Saya senang sekolah di sini. Ibu gurunya mengajar dengan baik sampai pintar," kata Lia Amelia, siswa kelas IV SD. Ia mengaku sekarang pintar memasak sop, sayur, dan mengolah daging.

 

Lia, sulung dari tiga bersaudara, adalah gambaran anak tak mampu yang memang hanya bisa bersekolah gratis. Ayahnya penarik gerobak barang dan ibunya bekerja sebagai penimbang gula di pelabuhan. Mereka tinggal dekat rel kereta di daerah Ancol. Ia bercita-cita menjadi dokter.

 

Nasib serupa dialami Hendrik, kelas III SMU. Bapaknya sopir angkutan kayu di Pelabuhan Tanjung Priok. Ia baru lima bulan di Sekolah Kartini lantaran tidak ada biaya meneruskan sekolah formal di Tangerang, Banten. Namun ia tidak malu. "Kalau memang niat belajar, tempatnya di mana aja sama," ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini.

 

Kehadiran Sekolah Kartini ini disambut gembira orang tua murid. "Pendidikannya bagus. Sudah itu kita tidak dipungut biaya sama sekali," kata Irmayanti. Dua anaknya bersekolah di sini, seorang di TK dan seorang lagi lagi di SD. Maklum, suaminya cuma sopir taksi.

 

Ia juga dapat keuntungan saat menunggu dua buah hatinya belajar. Mereka diajari merias pengantin dan keterampilan salon. Semuanya gratis dan bahkan

mereka dibelikan peralatan untuk itu. "Ibu guru baik banget, kayak dewi penolong," puji Irmayanti.

 

Sekolah itu kini memiliki 420 murid dari TK sampai SMU. Mereka masuk tiap hari mulai pukul 07.00 hingga 13.00, Senin sampai Sabtu. Jumlah guru 12 orang. Salah seorang di antaranya Yusman. Ia mengajar Fisika dan Biologi murid SMP dan SMU.

 

Yusman sudah satu setengah tahun mengajar di Sekolah Kartini. Awalnya lantaran lulusan politeknik elektro Universitas Indonesia ini kesulitan mencari pekerjaan. Namun lama-lama ia merasa senang bisa menyumbangkan ilmunya. "Saya memang dari kuliah sudah berkecimpung di pendidikan nonformal," katanya.

 

Selain di Sekolah Darurat Kartini, Yusman juga mengajar di sebuah sekolah informal di kawasan Pekojan, Jakarta Barat, tak jauh dari rumahnya di daerah Krukut.

 

"Kami pilih daerah kumuh karena

memang mereka tak bisa

bersekolah"

(Sri Rosiyanti, pendiri Sekolah Darurat Kartini)

Sekolah Darurat Kartini ini dibentuk oleh sepasang ibu kembar, Sri Rosianti dan Sri Rianti, pada tahun 1996. Sebeluimnya Rosianti sudah mengajar gratis anak-anak tak mampu di daerah Jembatan Tiga dan Rawa Bebek, Jakarta Barat. Mengajar gratis sudah dilakoni kakak beradik ini sejak mereka ikut suami masing-masing. Rosianti di pedalaman Kalimantan dan Rianti di pedalaman Lombok, Nusa Tenggara Barat.

 

Ide mendirikan sekolah gratis ini muncul pada 1990. Ketika itu Rosianti terpaksa menitipkan mobilnya di sebuah gudang di daerah Pluit, Jakarta Utara, untuk menghindari tawuran. Di sana ia menemukan pemandangan yang menyentuh hati. "Saya baru lihat, ternyata di bawah tol ada rumah-rumah kumuh. Betapa kasihan mereka, hidup sengsara," ujar Rosianti yang lebih tua lima menit ketimbang Rianti.

 

Sejak itu ia bertekad mencurahkan waktu dan pikirannya untuk memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak kolong jembatan dan tak mampu. "Kami pilih daerah kumuh karena memang mereka tak bisa bersekolah," ujar ibu empat anak ini.

 

Ibu Kembar sadar, pendidikan akademis tidak akan menjamin anak-anak kurang mampu ini mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Karena itu, mereka juga mengajarkan keterampilan, seperti menyulam, bengkel, dan memasak. "Kalau tidak bisa meneruskan sekolah, dia sudah punya keterampilan dan keterampilan itu bisa untuk mencari uang," kata Rosianti.

 

Semua itu berbuah hasil. Anak-anak SMU lulusan Sekolah Darurat Kartini diterima kerja di mal. Bahkan ada yang menjadi tentara, polisi, pengusaha dan wartawan. Rosianti mengaku tiap tahun bisa meluluskan seratus orang. "Tanpa ijazah nasional murid saya kerja di Carefour. Laku kok pake stempel saya, Ibu Guru Kembar, gitu," ujarnya.

 

Pada 7 Agustus lalu si jago merah mengamuk di kolong jembatan tol Penjaringan. Ratusan rumah hangus. Tak terkecuali Sekolah Darurat Kartini. Para murid sekolah itu tak bisa lagi belajar. Mereka kini membersihkan puing-puing sekolah itu. Namun Pemerintah Jakarta Utara melarang mereka membangun kembali tempat itu. Bu Kembar dan 400 muridnya pun terusir. (E1)

 

Foto-foto oleh Angga Haksoro Ardhi: Suasana di RT 0/RW O, Kampung Kolong Tol Penjaringan sebelum terbakar. Di sinilah Sekolah Darurat Kartini yang didirikan Bu Kembar berada.

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua