Voice of Human Rights News Center

English English 21 November 2008  

 

Kisah

The Yellow Envelope

Keluarga dan kekasih dapat menerima walau Idong mengidap HIV. Sebuah modal untuk bangkit.

Indra Suwandra (31) alias Idong sekilas tampak bugar dan sehat. Siapa sangka, jebolan Jurusan Teknik Farmasi Universitas Pancasila ini hidup dengan human immunodeficiency virus (HIV)/ Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

Virus perusak kekebalan tubuh itu menjangkiti Idong melalui jarum suntik yang ia gunakan untuk mengonsumsi narkotika. Sembilan tahun Idong kecanduan narkotika. Hampir semua jenis narkotika pernah dia coba. Setiap kali ia ingin meninggalkan narkotika, tubuhnya memberontak, kejang-kejang dan kesakitan. Sakaw.

Idong pun masuk rehabilitasi untuk melepaskan diri dari kecanduan madat. "Karena sudah mentok. Jadi kasus. Capek. Kalau gua nyerah, udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi," katanya.

Bersama para pengguna narkotika lain, Idong menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Bogor, Jawa Barat.

Seminggu Idong menjalani rehabilitasi, dokter menyarankan menjalani tes voluntary counseling and testing (VCT) untuk mengetahui apakah terjangkit HIV. Ia melakukan tes itu pada 7 Desember 2004. Setelah pengujian, dokter memberikan hasil pemeriksaan dalam sebuah amplop kuning. Hasilnya, bagai petir di siang bolong, Idong menerima amplop warna kuning bertuliskan "reaktif".

"Gengku menyebutnya the yellow envelope, amplop kuning yang mengubah hidup seseorang," kata Idong.

Itu artinya Idong positif terjangkiti HIV. Idong frustrasi. Ia tak menyangka terinfeksi virus yang paling menakutkan di zaman modern ini. Virus yang belum ditemukan obatnya. Pengidapnya bukan hanya terancam maut, melainkan juga dikucilkan masyarakat.

Padahal, Idong selalu berhati-hati dalam menggunakan jarum suntik. Ia sangat selektif memilih rekan untuk bergantian alat suntik. Namun toh sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Idong positif HIV.

Berhari-hari Idong depresi. Ia merasakan langit seakan runtuh di atas kepalanya. Ia tidak tahu bagaimana harus memberi tahu keluarganya. Yang ia tahu, hidupnya tinggal menghitung hari.

"Di badanku ada virus yang sampai sekarang belum ada obatnya! Stres! Stres banget!" katanya.

Idong akhirnya memberanikan diri untuk memberi tahu derita yang ia alami kepada keluarganya. Tak di sangka, ternyata keluarganya menanggapi informasi itu biasa-biasa saja. Tidak ada perlakuan yang berubah terhadap anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

"Seminggu setelah itu orang tuaku datang, aku kasih tahu mereka. Orang tua nggak masalah," katanya. "Mereka malah nggak percaya aku terinfeksi HIV. Menurut mereka, orang yang terinfeksi HIV itu kurus, terkulai tak berdaya, dan mendapat bantuan infus. Kenyataannya, aku malah lebih gemuk dibanding dulu."

Mereka tetap membiarkan Idong menggunakan piring dan gelas tanpa dikhususkan. Kakaknya pun tetap membiarkan Idong bermain-main dengan keponakan, tanpa takut tertular.

Perlakuan keluarga yang positif membuat Idong tegar menghadapi kenyataan. Idong pun aktif mencari informasi tentang HIV. Dia rajin mengikuti kegiatan-kegiatan penyadaraan bahaya HIV/AIDS. Hal itu membuatnya semakin tegar berperang melawan HIV. Ia bertekad tidak mau kalah melawan HIV.

Beruntung juga, kekasihnya, Qorry Amalia (25), bisa menerima kondisi Idong. Bulan lalu, Oi, panggilan akrab Qorry, telah menikahi Idong. Banyak orang yang bertanya-tanya mengapa Oi mau menikahi pengidap HIV. Teman-temannya juga bertanya apakah tidak takut tertular. Oi yakin ia tidak akan tertular virus itu selama tetap berhati-hati. Baginya, hidup dengan pria yang dicintai merupakan pilihan yang tak dapat ditawar.

"Aku tidak pernah lihat dia sebagai orang yang terinfeksi HIV. Dia sama kayak orang normal, cuma mungkin sistem kekebalan tubuh dia beda," kata Oi.

Jalan hidup membawa Idong bertemu dengan aktivis Yayasan Taman Sriganis pimpinan sastrawan Putu Oka Sukanta. Mantan penyair Lembaga Kebudayaan Rakyat ini menawarkan terapi meditasi dan olah napas untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap HIV. Di tempat ini para pasien disuguhi menu sehat dan pengobatan acupressure.

"Dalam kasus HIV yang sudah ditangani oleh kedokteran modern, ia ditempatkan sebagai komplemeneter atau pembantu. Tapi intinya pengobatan tradidional," kata Putu Oka.

Menurut Putu, olah napas mampu memaksimalkan oksigen yang diserap tubuh sehingga ketahanan tubuh meningkat. Sedangkan meditasi bisa menurunkan ketegangan syaraf, kondisi yang diperlukan untuk menjaga stamina tubuh. Sementara acupressure dapat melancarkan peredaran darah dan metabolisme tubuh, sehingga obat yang dikonsumsi terserap tubuh secara maksimal. Kondisi tubuh yang tetap prima membuat masa inkubasi HIV menjadi panjang.

Idong pun merasakan manfaat setelah mengikuti terapi di Sriganis. Daya tahan tubuhnya meningkat. "Terapi ini lebih ke arah psikis. Tenangnya itu secara mental, psikis, dibantu dengan meditasi," katanya.

Sejak mengidap HIV, Idong harus menghindari stres. Jika stres datang, ketahanan tubuhnya akan turun drastis, sehingga virus di tubuhnya mulai bertingkah.

"Kalau kita stres, syaraf-syarat, urat-urat badan tegang semua, penyakit mudah masuk. Hormon endorphin yang kita punya, morfin alamiah sebagai penahan rasa sakit, tidak bekerja optimal," jelasnya.

Dengan meditasi, Idong juga bisa mengontrol kecanduannya terhadap narkotika. "Kalau ada sugesti, aku tahu harus ngapain. Meditasi bisa intervensi ke alam bawah sadar kita."

Walau tetap diterima orang-orang terdekatnya, Idong tetap berjuang keras melawan diskriminasi dari masyarakat. Banyak penerima "amplop kuning" seperti Idong yang dikucilkan masyarat. Padahal, tak ada alasan untuk bersikap diskriminatif terhadap Idong dan penerima "amplop kuning" lainnya. (E2)

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

    Tidak ada data 5 Artikel terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua