| 20 November 2008 |
Kisah
Wayang Barata di Metropolitan
18 Mei 2007 - 18:5 WIB
Angga Haksoro Ardhi
Bersaing dengan tempat hiburan modern di Ibu Kota, Wayang Barata berusaha bertahan hidup. Walau berat, mereka tak menyerah.
Bangunan gedung ini sama sekali tidak mencolok. Pembeda gedung Wayang Orang Barata dengan toko-toko sepanjang Jalan Kali Lio itu hanya ukiran khas Jawa yang terpampang di depannya.
Di dalam gedung itu Pertruk tengah marah-marah karena pethel, sejenis kapak kecil, miliknya hilang. Bahkan Bopo Semar, ayahandanya, tak luput jadi sasaran kemurkaan Petruk.
Adegan itu bagian dari lakon Petruk Kelangan Pethel. Petruk adalah salah satu dari empat punakawan --Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong-- yang merupakan penasihat Pandawa Lima. Dalam lakon itu, pethel Petruk berubah wujud menjadi butho, raksasa jahat.
Uniknya, pertunjukan wayang orang itu saya saksikan di gedung yang berjarak sekitar 100 meter dari pintu masuk terminal bus Pasar Senen, Jakarta Pusat. Gedung wayang orang itu satu-satunya yang bertahan di Jakarta yang kaya tempat hiburan seperti bioskop, gedung teater, kafe, dan diskotek.
Namun, hari itu 250 penonton memadati gedung pertunjukan. Untuk sekali pentas, penonton dapat membeli karcis seharga Rp 15 ribu untuk kelas biasa. Untuk kelas Very Important Person, karcisnya Rp 20 ribu. Soal kenyamanan gedung itu, jangan ditanya. Penonton dapat menikmati pertunjukan di kursi busa warna merah jambu bak di Bioskop 21. Gedung ini juga dilengkapi mesin penyejuk ruangan.
Pelayanan makan dan minum selalu siap memanjakan penonton. Jika perut terasa lapar di tengah-tengah pertunjukan, penonton dapat memesan sepiring nasi goreng ataupun semangkuk mi instan, yang bisa diantar ke bangku masing-masing. Sungguh suasana berbeda, serasa di rumah sendiri.
Barata adalah nama baru kepompok wayang orang Panca Murti yang mentas di gedung ini sejak 1963. Kelompok yang didirikan Djaduk Djayajusuma ini pernah berjaya pada tahun 1970-an. Namun kini pamornya telah redup di hadapan hiburan modern. Tak banyak orang yang tahu kelompok ini masih eksis hingga sekarang.
Lewat penuturan Marsam, pria berumur 57 tahun, saya mendapatkan sejarah lengkap perjalanan kelompok wayang orang ini. Dia salah seorang anggota senior wayang orang Barata. Ia setia dengan kelompok ini dari mulai merintis, masa keemasan, sampai masa mereka harus tunduk mengalah digilas perubahan zaman.
Alkisah, Marsam asal Surakarta, Jawa Tengah, tiba di Jakarta pada tahun 1963. Ia merantau ke Ibu Kota bersama pakdenya untuk mencari ilmu. Untuk mengusir kebosanan, setiap malam Minggu, Marsam diajak pakdenya nonton wayang orang Panca Murti di gedung Barata.
Merasa mendapat kesempatan untuk melipur kangen pada kampung halaman, Marsam malah betah tinggal gedung itu. Ia pun jarang pulang. Bahkan, pada 1967 pria pendek yang selalu mengenakan topi dan kaos oblong ini nekat kabur dari rumah pakdenya. Ia malah bergabung dengan Panca Murti yang membuka cabang baru di Jawa Tengah. Tapi karena belum dipercaya untuk berpentas, Marsam memulai kariernya sebagai portir, tukang sobek karcis.
Nasib Marsam berubah pada suatu hari. Ketika sedang menyaksikan latihan, secara tidak sengaja dia mengomentari salah satu pemain yang melakukan gerakan yang salah. Marsam dimarahi oleh salah satu wiyaga, penabuh alat musik. Katanya ia sok tahu. "Saya dibentak, ‘memang kamu bisa? Menari itu susah! Pakai nyalahin orang!'. Dari situ saya sakit hati," kata Marsam mengenang.
Keinginannya untuk menjadi penari semakin teguh. Pada tahun 1972 Marsam mulai mentas bersama pemain lain. Ia berkeliling Jawa Tengah. Bahkan pernah berpentas di Lampung. Dua tahun kemudian, Wayang Orang Panca Murti bubar bersamaan dengan lesunya undangan pentas di kampung-kampung. Bersama pemain yang masih tersisa, Marsam mendirikan kelompok baru di Kudus, Jawa Tengah. Ia namai kelompoknya Manunggal Jaya.
Setelah beberapa tahun malang-melintang bersama kelompok Manunggal Jaya dengan pendapatan tak pasti, pada akhir tahun 1989 Marsam bergabung lagi dengan teman-teman di Jakarta. Ternyata teman-temannya mendirikan kelompok baru, Wayang Orang Barata. Marsam dianggap pemain senior yang "pulang kandang". Ia pun didaulat sebagai ketua kelompok, hingga saat ini.
Sayang, Marsam tak mendapat jatah rumah di Padepokan Barata yang terletak di Jalan Rumah Sakit, Ancol, Jakarta Utara. Rumah itu diberikan oleh Yayasan Barata pimpinan Darmo Djadiwangsa kepada semua anggota kelompok pada tahun 1977. Hingga kini, Marsam terpaksa menumpang di rumah salah seorang pemain, jika sedang berurusan ke Jakarta.
Karena tidak mendapat imbalan apapun oleh kelompok ini, Marsam mencari kerja sambilan sebagai pengatur acara pernikahan adat Jawa. Kebetulan ia mahir menjadi pranoto coro (pembawa acara) hingga merancang dekorasi. Pendapatannya ia bagi dengan keluarga dan kelompok wayang Barata. "Di wayang ini, ndak ada apa-apanya. Kita cuma melestarikan budaya saja," kata Marsam.
Untuk menyambung hidup, kelompok ini mendapat bantuan dari pemerintah provinsi DKI Jakarta sebesar Rp. 5 juta setiap pentas. Dana itu biasanya digunakan untuk menyewa kostum dan ongkos pemain. Jika ada sisa, uang dibagi rata kepada seluruh pemain yang berjumlah 90 orang. Namun, dua bulan terakhir dana itu tak mengucur dari pemprov.
Pertunjukan Petruk Kelangan Pethel malam terus berlanjut. Di panggung Petruk tengah berperang melawan si butho. Ia memukul, menendang dan menangkis serangan. Raksasa itu mulai limbung setelah kena hantaman Petruk yang tepat mengenai kepalanya. Mendadak, gamelan ditabuh semakin cepat dan semakin nyaring. Lampu panggung tiba-tiba mati. Ruangan gelap gulita. Tak lama kemudian, lampu kembali nyala. Di panggung nampak Petruk dengan gagahnya menggenggam pethel-nya. Pusaka telah kembali pada sang empunya. Pertunjukan berakhir dengan happy ending. (E2)
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Korban: Fokus Lanjutkan Rekomendasi Komnas HAM 13 November 2008 - 11:36 WIB
- Turun Tangan, Presiden! 10 November 2008 - 18:9 WIB
- Golkar Tolak Pemanggilan Tanpa Rapat Internal28 Oktober 2008 - 10:40 WIB
- Keluarga Korban: Temukan 13 Korban Penculikan atau Pansus Dibubarkan24 Oktober 2008 - 11:20 WIB
- Setara Institut Penuhi Undangan Pansus Orang Hilang23 Oktober 2008 - 16:34 WIB
Agenda
Berita Terkini
Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC
20 November 2008 - 18:9 WIB
Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak
20 November 2008 - 16:54 WIB
Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran
20 November 2008 - 15:59 WIB
UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%
20 November 2008 - 15:19 WIB
PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban
20 November 2008 - 14:25 WIB
Inspirasi
Politik Aspal di Sepotong Jalan
31 Oktober 2008 - 9:48 WIB
SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala
Berita Terpopuler
Amrozi Cs Dieksekusi Pukul 00.15 WIB
9 November 2008 - 3:53 WIB
Tolak SKB 4 Menteri, Demo Buruh Ricuh di Istana
6 November 2008 - 18:48 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (2)
9 November 2008 - 8:24 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (1)
9 November 2008 - 8:21 WIB
Pembela Amrozi Cs Ancam Lapor Mahkamah Internasional
7 November 2008 - 18:30 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







