Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Lakon

Karamnya Harapanku Menjadi TKI

Andi Haryanto

AKU bekerja di Malaysia kurang lebih satu tahun. Kemudian aku tertangkap operasi aparat keamanan Malaysia saat sedang bekerja bersama kakakku. Hanya aku yang ditangkap karena tidak memiliki paspor dan surat izin kerja. Setelah dipenjara selama satu minggu, aku dibuang ke Dumai, Riau.

 

Dumai adalah salah satu kota pembuangan tenaga kerja Indonesia tak berdokumen.  Para tenaga kerja Indonesia sering memplesetkan Dumai sebagai kependekan dari Dunia Manusia Iblis. Sebab, para TKI yang dibuang di Dumai mengalami penderitaan yang luar biasa, seperti yang aku alami.

 

Sesuai dengan yang pernah kudengar, di kota Dumai memang banyak sekali preman yang bekerja sama dengan polisi untuk meraih keuntungan dari para TKI yang dipulangkan dari negeri jiran. Mereka beroperasi dengan istilah nulung tapi mentung (menolong tapi memeras). Para TKI yang dipulangkan kebanyakan tidak memiliki uang sama sekali, kemudian diantar pulang dan membayar sesampai di rumah dengan bayaran melebihi standar perjalanan.

 

Harapanku adalah punya rumah sendiri. Jadi, kuputuskan untuk masuk kembali ke negeri jiran Malaysia dengan cara ilegal .

 

Dari sinilah peristiwa kapal karam itu terjadi. Aku bersama sekitar 80 TKI ilegal berangkat dengan kapal tongkang dari Dumai menuju Port Kelang, Malaysia. Karena ombak yang terlalu besar, akhirnya nahkoda memutuskan istirahat dan bermalam di Pulau Rupat. Baru keesokan harinya, sekitar pukul 22.00 WIB kami berangkat kembali, meski ombak masih besar.

 

Setelah perjalanan beberapa jam, perahu yang kami naiki bocor. Meski air sudah kami kuras dan laju diperlambat,  perahu yang kami naiki pun mulai tenggelam. Hanya bagian depannya yang terapung. Hal itu terjadi karena kapal mengangkut penumpang terlalu banyak, sementara ombak begitu besar. Kapal yang kami naiki tidak mampu menahan hantaman ombak.

 

Sebelum kapal itu tenggelam aku sudah terlebih dulu meloncat ke laut. Aku berenang bersama para TKI lain dengan memperebutkan drum-drum bekas bensin yang sebelumnya ada di bagian belakang kapal untuk bertahan hidup. Setelah mendapatkan sebuah drum, aku pun menjauh dari para TKI yang tengah berjuang melawan maut.

 

Teriakan, rintihan, dan ratapan para TKI yang tenggelam di tengah laut sampai saat ini masih melekat di benakku. Beberapa menit setelah kejadian, seorang pria asal Jombang, Jawa Timur, berenang mendekatiku. Kubiarkan ia berpegangan tong bersamaku.

 

Dari pagi sampai malam ada beberapa kapal barang yang melintas di kejauhan, tapi tak satu pun orang yang ada di kapal itu mendengar teriakan dan melihat kami. Kondisiku semakin melemah karena kedinginan, kepanasan, dan kelaparan. Cita-cita dan harapanku untuk mengubah nasib di negeri orang membuatku tetap bersemangat untuk bertahan hidup.

 

Keesokan harinya, meski kondisiku semakin melemah, kami tetap berjuang agar tetap hidup. Tiap kali ada kapal melintas kami berenang melawan arus ombak yang datang menghamtam untuk mendekati kapal itu. Kami berteriak meminta tolong dengan harapan ada awak kapal yang mendengar dan menolong.

 

Malamnya kondisiku semakin melemah. Aku semakin menggigil kedinginan, lapar, capek, dan mengantuk. Tanganku yang memegang tong sesekali terlepas karena kondisiku semakin melemah. Tapi orang Jombang yang satu tong denganku membantuku untuk selalu sadar, sabar, berdoa, dan berdoa. Karena yang bisa kami lakukan hanyalah berdoa dan berdoa, sambil menunggu keajaiban ada orang yang menolong kami.

 

Sepanjang siang yang bisa kulihat hanyalah gumpalan ombak yang selalu datang mengombang-ambingkan kami. Di malam hari yang bisa kulihat hanyalah bintang-bintang yang hanya membisu menyaksikan deritaku. Tubuhku pun mulai digigiti ikan-ikan laut yang seolah mendapat makanan nikmat.

 

Setelah dua hari dua malam terapung-apung di tengah laut, sekitar pukul 10.00 pagi ada satu kapal pengangkut barang yang menuju Malaysia. Awaknya melihat dan mendengar teriakan kami yang sedang terapung di tengah laut. Mereka lalu menolong dan merawat kami di kabin kapal.

 

Setiba di dermaga Port Kelang, Malaysia, kapal barang yang kunaiki diperiksa petugas imigrasi. Mereka mendapati kami yang terbaring lemah di kabin kapal. Nahkoda kapal bercerita mengenai kami kepada petugas imigrasi. Kami pun diperbolehkan mengikuti kapal barang kembali ke Indonesia dengan diberikan uang 100 ringgit Malaysia.

 

Namun kapal yang kunaiki tidak langsung menuju Indonesia dan harus mengirim barang terakhir ke kota Banting, Malaysia. Setiba di kota itu kami ditangkap polisi Malaysia. Meski sudah mendengar kisahku dari nahkoda, para polisi itu tak peduli. Mereka malah minta kami imbalan uang.  Karena tidak bisa memenuhi permintaan tersebut, akhirnya kami ditangkap dan dijebloskan ke lokap atau sel di kota Banting.

 

Kami dipenjara selama seminggu. Lalu kami dipindahkan ke penjara yang lebih besar, yaitu Penjara Pekan Nanas, selama satu minggu pula. Kemudian kami dipulangkan ke Indonesia, dengan kota tujuan: Dumai. Dumai, kota tempat pembuanganku saat pertama kali ditangkap. Dumai, kota kejam penuh preman dan polisi yang berkelakuan preman pula. (E2)

 

Ditulis oleh Andi Haryanto atas penuturan Hery, TKI asal Banyuwangi yang menumpang kapal tongkang pengangkut TKI yang karam pada Agustus 2000.

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua