Voice of Human Rights News Center

English English 21 November 2008  

 

Lakon

Kejamnya Rezim Soeharto (6)

Margiyono

Disiksa di Tempat Rahasia

 PADA hari Rabu 13 Maret 1998 sekitar pukul 19.00 dari toko buku Gramedia Matraman saya menghubungi rumah kontrakan --saat itu saya tinggal serumah bersama Nezar Patria, Aan Rusdianto, dan Bimo Petrus di Rusun Klender Blok 37 Nomor 7 lantai II, Jakarta Timur-- melalui telepon dan diterima Nezar Patria. Setelah tahu bahwa ia ada di rumah, saya bilang pada Nezar untuk menunggu di rumah, karena saya membawa makan malam dan kebetulan ia belum makan. Saya bilang pada Nezar bahwa dalam satu jam saya akan sampai di rumah.

 

Pukul 20.15. Saya turun dari kendaraan angkutan umum kemudian berjalan menuju rumah. Di sekitar rumah tak ada yang mencurigakan, kecuali adanya sekelompok ibu-ibu yang duduk-duduk di tangga naik ke kontrakan. Saya minta permisi pada ibu-ibu ini untuk lewat. Sesampai di depan pintu saya ketuk pintu berkali-kali, namun tak ada jawaban dari dalam. Saya tengok ke arah ibu-ibu tadi, namun mereka kemudian bubar secara serempak. Kemudian saya ketuk pintu beberapa kali lagi dan yang keluar adalah tetangga, yang tinggal tepat berhadapan dengan kontrakan kami. Ia (seorang perempuan masih muda) bilang pada saya, "Orangnya sedang keluar, Mas. Sebentar lagi katanya akan balik."

 

Kemudian saya cari kunci di kantong celana dan menemukannya. Begitu saya buka pintu, ruangan gelap. Semua lampu padam kecuali lampu kamar. Lampu saya nyalakan dan saya melihat banyak keanehan. Pertama, saya lihat laptop tidak ada, juga beberapa tas berisi buku-buku dan barang cetakan lain yang biasanya berserakan di lantai. Gagang telepon juga tidak berada di tempatnya. Di dapur saya juga dapatkan seplastik buah jeruk untuk minuman, dan tuangan air dalam gelas yang masih hangat. Saya jadi penasaran dan agak panik.

 

Saya memastikan sesuatu telah terjadi. Kemudian memikirkan beberapa kemungkinan. Pertama, Nezar sedang melakukan evakuasi karena sesuatu terjadi pada kawan yang lain sebagaimana pengalaman-pengalaman sebelumnya. Kedua, Nezar diculik dari rumah. Karena menganggap kemungkinan pertama lebih besar --berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya-- saya kirim pesan melalui pager pada Nezar untuk menghubungi rumah.

 

Setelah beberapa saat saya menunggu, telepon berdering tiga kali, namun dari kawan yang lain. Kepada mereka saya jelaskan apa yang terjadi. Telepon dari Nezar yang saya tunggu-tunggu tidak datang juga. Akhirnya saya segera masukkan catatan-catatan penting ke dalam tas untuk pergi. Kemudian saya tengok ke luar melalui jendela. Di sana ada beberapa orang berbadan besar mengawasi saya. Saya jadi panik. Sesaat setelah itu, sebelum saya keluar, pintu sudah diketuk. Karena tak ada alternatif untuk lolos, saya buka pintu dan ada sekitar 10 orang masuk. Empat orang di antaranya berpakaian seragam hijau dan membawa HT, dan yang lainnya berpakaian preman termasuk dua orang tua berpeci yang saya kira adalah perangkat kelurahan. Setelah memeriksa saya, mereka (4 orang berpakaian termasuk bapak tua berpeci) menuntun saya keluar menuju kendaraan L300 yang disediakan. Saya duduk di belakang sopir, diapit oleh mereka. Sekitar 15 menit kemudian sampai di Markas Koramil Duren Sawit.


Di Koramil


Ada satu kejadian janggal saat saya berada di Koramil ini. Saat itu saya sedang ditanyai (bukan interogasi). Namun tiba-tiba saja ada orang lain yang juga ditanyai oleh mereka. Ia mengaku bernama Jaka, memakai topi dan badannya tidak terlalu besar namun kekar. Tingginya sekitar 165 cm. Ia mengaku tinggal di dekat LP Cipinang dan ikut ditangkap bersama saya saat sedang main di tempat kawannya di dekat rumah kontrakan saya. Mendengar jawabannya itu, saya heran karena setahu saya yang ditangkap dari rumah saat itu cuma saya. Ia lebih banyak ditanya dari pada saya. Kemudian dia bilang pada para tentara ini bahwa ia tidak berhak ditangkap karena sedang main dan tidak kenal dengan saya. Dan kalau tetap ditangkap ia akan mendatangkan kakaknya yang perwira tinggi ABRI. Mereka malah marah dan menendangi si Jaka ini.

Pada saat yang sama si Jaka menerima telepon melalui mobile phone dari kakaknya yang pimpinan ABRI tersebut dan ia berbicara di depan para tentara ini. Di Koramil ini hanya makan waktu sekitar 15 menit. Kami kemudian dinaikkan kendaraan bak terbuka patroli Polisi Militer. Duduk di kursi bak mobil tersebut dengan diborgol. Empat orang polisi militer berseragam lengkap mengapit kami masing-masing di sebelah kiri dan kanan.

 

Di Kodim


Sekitar 20 menit kemudian kami sampai di Kodim Jakarta Timur. Di depan tangga pintu Kodim tampak mobil mewah BMW (saya lupa warnanya) parkir dan di sampingnya ada seorang berpakaian batik, berbadan tegap, sangat gagah, kulit putih berdiri ditemani 2 orang berpakaian dinas militer. Orang-orang ini tampak sedang menunggu kami, sehingga begitu kami sampai, seorang yang berpakaian batik berteriak pada anggota PM yang membawa kami, "Cepat turunkan mereka!" Namun anggota PM yang membawa kami tak juga menuruti perintahnya. Kami masih tetap di atas kendaraan bak terbuka tersebut.

 

Orang berbaju batik ini berteriak lagi, "Kalian menghormati saya atau tidak! Ayo segera turunkan mereka!" Baru setelah berulang kali orang berbaju batik berteriak demikian, borgol kami dibuka dan kami diturunkan dari kendaraan. Kami lalu dibawa ke ruang tamu Kodim. Kami tidak sempat ditanyai apa-apa. Sekitar lima menit kemudian kami disuruh keluar. Saat keluar ini si Jaka menggandeng saya sambil membisiki saya, "Mugi, kamu selamat. Kamu selamat. Kita pulang ke rumahku." Saya sempat berharap apa yang dikatakan si Jaka benar, walau saya yakin hal itu tidak mungkin.

 

Kemudian saya disuruh masuk ke dalam mobil BMW yang sudah menunggu. Di dalamnya saya sempat melihat banyak map berserakan. Sepuluh detik di dalam BMW tadi lalu saya di suruh keluar lagi untuk pindah ke kendaraan lain. Saya dituntun menuju ke mobil kijang yang parkir agak jauh dari BMW tadi. Saya disuruh masuk ke dalam mobil Kijang tersebut kemudian masuk juga lima orang yang duduk mengapit saya. Mulai saat inilah saya sadar sepenuh-penuhnya bahwa jiwa saya benar-benar terancam.

 

Sebelum kendaraan dijalankan mereka menyuruh saya membuka baju, kemudian mereka menutupkannya pada mata saya. Di dalam kendaraan mereka tidak banyak tanya tentang aktivitas saya, namun mereka lebih banyak berbicara tentang mereka sendiri. Mereka bilang bahwa mereka adalah kelompok mafia yang bisa melakukan apa saja, pada siapa saja, dan untuk siapa saja asalkan ada uang.

 

Mereka memegang pistol yang kadang mengancamkannya pada saya dan HT yang selalu digunakannya untuk berkomunikasi dengan yang lain. Sandi-sandi yang mereka sebut adalah Elang, Harimau, dan Rajawali. Perjalanan yang kami lalui sepertinya cukup jauh, namun tampaknya tidak melewati jalan tol. Mereka kelihatannya juga tidak hafal dengan betul rute ke tujuan sehingga kadang mereka berdebat. Bahkan sempat balik lagi karena nyasar. Kadang juga terjebak kemacetan. Musik dalam kendaraan tidak dibunyikan dengan keras, hingga saya sempat mendengar suara lalu lintas yang cukup padat.


Di Tempat "X"


Sekitar satu jam kemudian kendaraan berhenti. Saya disuruh turun dan berjalan dituntun oleh mereka. Sekitar 10 meter kemudian saya disuruh berhenti. Kemudian saya disuruh buka sepatu dan celana, hingga tinggal celana dalam yang saya pakai. Udaranya sangat dingin seperti di luar ruangan dan sampai saat itu saya memang belum merasa telah memasuki ruangan.

Kemudian saya mulai mendengar suara orang berbisik-bisik diselingi suara-suara seperti cambuk dan raungan alarm seperti alarm mobil. Kemudian saya dipukul di perut berkali-kali dan pada muka sampai saya terjatuh. Kemudian ditidurkan telentang di atas tempat tidur lipat dari terpal. Kedua kaki dan tangan saya diikatkan pada tempat tidur. Saat itulah saya mulai diinterogasi dengan cara disetrum dengan alat setrum yang suaranya seperti cambuk. Penyetruman ini dilakukan pada seluruh bagian kaki saya, terutama pada bagian sendi lutut.

 

Interogasi pertama yang mereka ajukan adalah mengenai identitas Nezar, kemudian mengenai Aan. Setelah itu mereka berganti menginterogasi Nezar dan kemudian Aan. Saat itulah, ketika saya mendengat jeritan dan suara Nezar dan Aan yang disetrum dan dipukul, saya baru tahu bahwa di situ sudah ada Nezar dan Aan. Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya adalah mengenai keterlibatan saya dalam kerja dan struktur organisasi PRD, nama Mirah Mahardika sebagai koordinator KPP-PRD, dan terutama tentang posisi Andi Arief.

 

Setelah disetrum berkali-kali saya menjawabnya dengan jawaban bahwa saya baru saja di Jakarta sehingga saya tidak tahu banyak tentang hal-hal tersebut. Juga bahwa selama ini kalau ketemu dengan kawan yang lain kami melalui seorang kawan yaitu Bimo Petrus, jadi saya tidak tahu nama dan posisi kawan-kawan yang lain. Kemudian mereka mengejar saya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Andi Arief dan Bimo Petrus lagi, dengan setruman berkali-kali. Mengenai Andi Arief, saya menjawab bahwa setelah 27 Juli 1996 dan ia lulus dari UGM saya jarang ketemu dia. Namun karena rumahnya di Lampung, saya bilang bahwa ia di Lampung sebagaimana kawan-kawan bilang pada saya. Namun mereka tidak percaya dengan berkata, "Dia tidak ada di sana. Berapa sih luasnya Lampung? Saya telah mencarinya di setiap jengkal tanah di Lampung."

 

Mereka terus dan tetap memaksa saya untuk mengatakan tentang di mana dan bagaimana menangkap Andi Arief, namun saya menjawabnya dengan jawaban yang sama. Untuk hal itu mereka menggunakan cara-cara kekerasan dengan cara menyetrum dan juga dengan cara halus dengan merayu saya. Jawaban saya tetap sama. Pertanyaan tentang hal ini terus diberikan sampai hari kedua. Mereka pun akhirnya menyerah --mungkin percaya. Kemudian dengan paspor saya yang mereka dapatkan, mereka memaksa saya untuk mengakui bahwa saya adalah pengurus PRD, lalu mereka bertanya tentang kerja internasional PRD dan donatur-donaturnya.

 

Pada hari kedua sore hari saya mendengar mereka terburu-buru memindahkan kursi-kursi yang ada di ruangan tersebut. Tampaknya mereka merapikan ruangan. Beberapa saat setelah itu datang beberapa orang yang kemudian berbicara dengan kami. Tepatnya diskusi masalah program-program PRD, khususnya masalah Timor Timur, Aceh, dan Irian Barat, serta situasi politik sekarang.

 

Hari kedua ini penyiksaan fisik pada saya sudah tidak banyak, namun mereka hanya menakut-nakuti. Selama 2 hari di tempat ini saya sempat keluar 3 kali, yaitu 2 kali kencing dan sekali saat difoto. Tempat kencing (toilet --saya tahu karena sempat meraba-raba saat ambil air) jauhnya kira-kira 25 meter dari tempat interogasi. Untuk menuju ke tempat ini saya harus berjalan dituntun oleh dua orang melalui koridor berlantai halus. Saat difoto dengan Polaroid, tempat yang dipakai adalah juga di WC yang saya pakai untuk kencing berdasarkan arah dan jarak yang saya tempuh. Saat diambil foto saya ini tutup mata saya dibuka, namun seorang yang mengambil foto saya memakai penutup kepala. Posisi saya juga selalu berada di atas tempat tidur lipat ini, namun siang hari pertama saya boleh ganti posisi miring dan ikatan hanya tinggal pada tangan kiri. Sehingga kadang-kadang mereka membolehkan saya mengambil posisi duduk, terutama saat makan pada pagi, siang, dan malam hari. Makanan yang saya dapatkan memang cukup enak dan bergizi (nasi padang) namun saya tidak pernah habis karena bibir saya pecah karena pukulan mereka.

 

Selama dua hari dua malam itu pula saya merasa bahwa saya tidak pernah dipindahkan dari tempat ini. Dan saya selalu berada satu tempat ini dengan Aan dan Nezar karena saya selalu bisa mendengar suara mereka di sebelah saya. Namun kadang-kadang mereka menjauhkan posisi di antara kami. Suara semacam alarm juga selalu meraung-raung di dalam ruangan bersama suara alat setrum yang seperti suara cambuk dan getaran-getaran kuat. Suara tersebut berhenti hanya pada saat tak ada interogasi pada kami, yang saya rasa waktunya adalah setelah tengah malam setelah mereka menyuruh kami tidur untuk beristirahat.

 

Di Sebuah Tempat di Lantai 2


Tutup mata saya dibuka untuk interogasi sekitar pukul 13.00 hari Minggu 15 Maret 1998. Saya disuruh pakai baju dan sepatu lalu diborgol lagi. Dengan mata tetap tertutup saya kemudian dibawa naik kendaraan. Satu jam kemudian kendaraan berhenti, dan saya disuruh turun. Lalu dituntun memasuki sebuah gedung. Di dalam gedung saat menaiki tangga, saya sempat mendengar suara perempuan yang sepertinya ibu yang suka kerja di dapur. Kemudian berhenti, tutup mata saya dibuka, dan ternyata saya berada di sebuah ruangan di lantai dua.


Saya lihat-lihat ruangan itu sukup luas dan disekat-sekat. Ruangan di lantai dua tersebut menghadap halaman yang cukup luas dan sekitar 300 meter di kejauhan terdapat jalan raya. Dalam ruangan itu tergantung sebuah kalender UKI Jakarta. Sebelum diinterogasi, saya disuruh makan dulu dan borgol dilepas. Interogator 2 orang yang didampingi sekitar 5 orang. Juga difoto dan di-shoot dengan kamera video. Semua interogator tidak ada yang mukanya tertutup kecuali seorang yang membawa handycam yang menutup mukanya dengan koran.


Interogasi

Setelah interogasi selesai mata saya ditutup lagi. Kemudian dibawa turun dan diborgol bersama orang lain yang ternyata adalah Aan. Kemudian naik kendaraan bersama Aan dan Nezar. Dari suaranya, di dalam kendaraan terdengar ada sekitar 5 orang. Dalam kendaraan tersebut mereka meneror kami dengan bilang pada kami untuk berjanji tidak berbohong kalau diinterogasi nanti dengan ancaman pistol yang ditempelkan di kepala saya. Mereka juga menyuruh kami agar berdoa dan meninggalkan pesan terakhir untuk orang tua kami.


Sekitar satu jam kemudian kendaraan berhenti. Lalu turun, tutup mata dan borgol dibuka, dan ternyata kami sudah berada di Polda Metro Jaya. Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul empat. Kemudian kami langsung diperiksa sampai pukul sembilan malam, tanpa pengacara. Dari pemeriksaan tersebut saya tahu bahwa saya diduga melakukan tindak pidana subversi. Setelah pemeriksaan selesai kami langsung dimasukkan ke dalam sel isolasi masing-masing satu orang.


Pada dua bulan pertama kami bahkan tak diperbolehkan mengikuti kegiatan senam tiap hari Rabu dan Jumat, demikian juga salat Jumat. Baru satu bulan terakhir kami sudah diizinkan mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut. Pada Minggu 17 Mei 1998 saya bersama Nezar dan Aan diperiksa oleh Puspom ABRI sebagai saksi atas kasus penculikan yang terjadi pada kami. Setelah 83 hari mendekam di tahanan isolasi ini, saat kami bersiap-siap untuk menghadapi sidang pengadilan kasus politik pertama "Era Reformasi", tiba-tiba pada Jumat 5 Juni 1998 kami disuruh menandatangani Surat Perintah Penangguhan Penahanan dari Polda Metro Jaya. Mulai saat itulah, kira-kira pukul 14.00 kami kembali menghirup udara "kebebasan". Namun saat menulis kesaksian ini saya masih ragu akan "kebebasan" tersebut mengingat perkembangan kehidupan politik nasional yang belum menentu, khususnya pengalaman pribadi saya dan juga kawan-kawan korban penculikan yang lain.

 

(Berdasarkan kesaksian yang ditulis oleh Mugiyanto, korban penculikan oleh Tim Mawar Komando Pasukan Khusus).

©2008 VHRmedia.com


Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua