| 28 Agustus 2008 |
Sikap
Ayin, Amin, SBY, Manusia Kawat, dll
15 Juli 2008 - 13:46 WIB
FX Rudy Gunawan
Setidaknya ada empat sosok manusia yang menjadi sorotan jutaan pasang mata pembaca berita di berbagai media massa saat ini. Ayin atau Artalyta menjadi sorotan karena dialah perempuan cantik (hmm, ini tentu relatif) pertama yang berhasil diringkus dan diseret KPK ke pengadilan. Amin (lengkapnya Al Amin Nur Nasution), meski masih terkait dengan kegigihan kiprah KPK, menjadi sorotan jutaan pasang mata, juga karena dia suami (mungkin akan segera menjadi "eks") penyanyi dangdut Kristina, yang tak puas digoyang dangdut istrinya sehingga selalu minta bonus perempuan cantik dalam kiprahnya sebagai koruptor. Bagaimana dengan SBY? Sebagai presiden yang pintar bermusik dan bernyanyi, SBY selalu mendapat porsi sorotan yang besar dari jutaan pasang mata rakyat, baik yang miskin, yang pemberontak, yang oportunis, yang koruptor, yang bejat dan jahanam, maupun yang baik, jujur, dan bijaksana. Untuk kategori rakyat yang terakhir, kita perlu garis bawahi atau kita bold-kan huruf-hurufnya. Mengapa? Saya hanya khawatir orang tidak lagi mau membacanya karena banyak yang sudah tidak percaya pada kebaikan, kejujuran, dan kebijaksanaan.
Ketiga sosok tersebut berhasil menyedot perhatian masyarakat dari keseharian hidup yang tengah dihajar kelangkaan BBM, krisis listrik, atau didera kemiskinan yang mencekik. Pada diri Ayin ada berbagai sensasi yang dibutuhkan masyarakat untuk menghibur diri dari berbagai kesulitan hidup yang memurukkan mereka. Pada diri Amin, melekat sensasi dunia infotainment melalui posisinya sebagai suami Kristina. Ini juga memiliki magnitude yang besar bagi masyarakat dibanding koruptor lain seperti Bulyan Royan. Lalu bagaimana dengan SBY? Tentu beda. SBY memiliki magnitude yang jauh lebih besar dan kuat bukan karena dia pandai bermusik dan bernyanyi, melainkan karena dia seorang presiden yang memangku tanggung jawab besar atas semua kejadian di negeri ini. Ia adalah orang yang diharapkan mampu menjadi baik, jujur, dan bijaksana. Mampu menjadi problem solver bagi semua persoalan yang menghimpit rakyat. Harapan ini adalah harapan seluruh rakyat Indonesia. Harapan ini terutama adalah harapan bagi orang-orang yang mengalami penderitaan aneh bin ajaib bin absurd seperti si Manusia Kawat!
Sosok dan kehidupan si Manusia Kawat yang terekspos sehubungan dengan diselenggarakannya Pekan Olah Raga Nasional (PON) di Samarinda, Kalimantan Timur, menimbulkan sensasi dan rasa ingin tahu yang besar bagi semua orang. Foto dirinya, dengan kawat-kawat seukuran peniti besar menjeramut keluar dari perut sampai dada, membuat miris semua orang yang melihat, mungkin kecuali para dokter yang biasa melakukan autopsi. Tapi siapa pun yang tak terbiasa melihat jarum suntik, tak terbiasa melihat darah, dan tak menyukai kekerasan, pasti akan miris. Siapa pun dengan kategori seperti itu pasti akan sulit membayangkan penderitaan seperti apa yang dirasakan dan dialami si Manusia Kawat.
Penderitaan absurd itulah yang dialami Manusia Kawat. Tapi sebenarnya, penderitaan absurd bukanlah monopoli penderitaan si manusia kawat saja. Para korban lumpur Lapindo, korban pelanggaran HAM mulai dari Lekra, Gerwani, Tanjung Priok, Talang Sari, 27 Juli, Semanggi, bahkan sampai pedagang kaki lima yang setiap hari digusur, juga merasakan penderitaan yang absurd. Para pelacur jalanan, pengemis di lampu-lampu merah, orang-orang miskin dan renta yang pingsan mengantre uang seratus ribu rupiah, juga mengalami penderitaan yang absurd. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dan gegap gempita derap pembangunan, hidup bagi jutaan rakyat Indonesia adalah seabasurd keberadaan si Manusia Kawat. Berbagai analisis, teori, dan upaya untuk mencari solusi seakan membentur dinding gaib yang membuyarkannya seketika, persis seperti kawat-kawat di perut si Manusia Kawat yang segera tumbuh lagi sesaat setelah dokter mencabutinya. Kawat-kawat itu bahkan bergerak-gerak bak cacing kepanasan mengejek dokter yang memeriksa melalui sinar X-ray.
Bagaimana kita harus menyikapi absurditas penderitaan semacam itu? Tak ada teori yang mampu memberikan jawaban memuaskan untuk pertanyaan itu, tapi sebuah jawaban di kepala saya justru muncul dari puisi kawan saya yang hingga kini raib tak jelas rimbanya (ini juga bagian dari absurditas hidup kita), Wiji Thukul: "hanya ada satu kata, lawan!" Ya, kita hanya harus terus melawannya sampai titik darah penghabisan. Kita hanya harus terus berjuang sampai ajal menjemput. Itulah cara menghadapi absurditas yang paling ampuh. Dengan melawan kita telah memberi makna pada keberadaan kita di tengah absurditas itu. Jangan berpikir tentang hasil perlawanan itu, karena hasil itu mungkin baru terlihat di masa datang yang lebih baik. (*)
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Ketua MK: Perlu Keseimbangan Pemenuhan HAM9 Juli 2008 - 12:23 WIB
- Korban Trafficking Perlu Penanganan Khusus9 Juli 2008 - 11:39 WIB
- Komnas HAM Siapkan Rencana Strategis 5 Tahun 8 Juli 2008 - 10:17 WIB
- Polisi Gagalkan Perdagangan Manusia ke 5 Negara4 Januari 2008 - 19:29 WIB
- Aliansi Rakyat Demo Konjen Amerika Serikat 10 Desember 2007 - 16:49 WIB
Artikel Terkait
- Cita-cita yang Belum Sepenuhnya Tergapai23 Agustus 2007 - 14:46 WIB
- Magang Kerja, Modus Baru Trafficking27 Juli 2007 - 14:36 WIB
Agenda
Berita Terkini
Polda Jatim Akan Usut Kasus Salah Tangkap
28 Agustus 2008 - 15:15 WIB
Dinkes Jombang agar Optimalkan Program KRR
28 Agustus 2008 - 13:31 WIB
IMF Diduga Intervensi, Segera Revisi UU Migas
28 Agustus 2008 - 13:17 WIB
Bekas Ketua DPRD Sleman Diadili Awal September
28 Agustus 2008 - 12:15 WIB
Perpanjangan Jabatan Kapolri Hambat Regenerasi
28 Agustus 2008 - 11:9 WIB
Inspirasi
Kampus, Rumah Bersalin, dan Anak Jalanan
25 Juli 2008 - 14:10 WIB
Tidak biasanya saya menumpang angkutan umum saat jam-jam sibuk. Tapi Senin malam lalu saya menghabiskan sekitar satu jam di angkutan umum menuju sebuah rumah sakit bersalin di kota ini untuk memberi selamat kepada teman lama yang baru dikaruniai anak pertama.
Pukul 20.38. Saya turun sekitar lima meter menjelang halte tempat saya
Berita Terpopuler
Pegawai Honorer Surabaya Tak Terdata BKN
8 Agustus 2008 - 16:24 WIB
Anggaran Pendidikan Utamakan Gaji Guru
15 Agustus 2008 - 16:58 WIB
Pengesahan PP 41/2007 Jatim Molor
1 Agustus 2008 - 16:1 WIB
Status Tersangka Bupati Sleman Belum Jelas
1 Agustus 2008 - 15:33 WIB
Peraturan 5 Menteri Tak Berkekuatan Mengikat
1 Agustus 2008 - 16:33 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB








