Voice of Human Rights News Center

English English 28 Agustus 2008  

 

Sikap

Ayin, Amin, SBY, Manusia Kawat, dll

FX Rudy Gunawan

Setidaknya ada empat sosok manusia yang menjadi sorotan jutaan pasang mata pembaca berita di berbagai media massa saat ini. Ayin atau Artalyta menjadi sorotan karena dialah perempuan cantik (hmm, ini tentu relatif) pertama yang berhasil diringkus dan diseret KPK ke pengadilan. Amin (lengkapnya Al Amin Nur Nasution), meski masih terkait dengan kegigihan kiprah KPK, menjadi sorotan jutaan pasang mata, juga karena dia suami (mungkin akan segera menjadi "eks") penyanyi dangdut Kristina, yang tak puas digoyang dangdut  istrinya sehingga selalu minta bonus perempuan cantik dalam kiprahnya sebagai koruptor. Bagaimana dengan SBY? Sebagai presiden yang pintar bermusik dan bernyanyi, SBY selalu mendapat porsi sorotan yang besar dari jutaan pasang mata rakyat, baik yang miskin, yang pemberontak, yang oportunis, yang koruptor, yang bejat dan jahanam,  maupun yang baik, jujur, dan bijaksana. Untuk kategori rakyat yang terakhir, kita perlu garis bawahi atau kita bold-kan huruf-hurufnya. Mengapa? Saya hanya khawatir orang tidak lagi mau membacanya karena banyak yang sudah tidak percaya pada kebaikan, kejujuran, dan kebijaksanaan.

 

Ketiga sosok tersebut berhasil menyedot perhatian masyarakat dari keseharian hidup yang tengah  dihajar kelangkaan BBM, krisis listrik, atau didera kemiskinan yang mencekik. Pada diri Ayin ada berbagai sensasi yang dibutuhkan masyarakat untuk menghibur diri dari berbagai kesulitan hidup yang memurukkan mereka. Pada diri Amin, melekat sensasi dunia infotainment melalui posisinya sebagai suami Kristina. Ini juga memiliki magnitude yang besar bagi masyarakat dibanding koruptor lain seperti Bulyan Royan. Lalu bagaimana dengan SBY? Tentu beda. SBY memiliki magnitude yang jauh lebih besar dan kuat bukan karena dia pandai bermusik dan bernyanyi, melainkan karena dia seorang presiden yang memangku tanggung jawab besar atas semua kejadian di negeri ini. Ia adalah orang yang diharapkan mampu menjadi baik, jujur, dan bijaksana. Mampu menjadi problem solver bagi semua persoalan yang menghimpit rakyat. Harapan ini adalah harapan seluruh rakyat Indonesia. Harapan ini terutama adalah harapan bagi orang-orang yang mengalami penderitaan aneh bin ajaib bin absurd seperti si Manusia Kawat!   

 

Sosok dan kehidupan si Manusia Kawat yang terekspos sehubungan dengan diselenggarakannya Pekan Olah Raga Nasional (PON) di Samarinda, Kalimantan Timur, menimbulkan sensasi dan rasa ingin tahu yang besar bagi semua orang.  Foto dirinya, dengan kawat-kawat seukuran peniti besar menjeramut keluar dari perut sampai dada, membuat miris semua orang yang melihat, mungkin kecuali para dokter yang biasa melakukan autopsi. Tapi siapa pun yang tak terbiasa melihat jarum suntik, tak terbiasa melihat darah, dan tak menyukai kekerasan, pasti akan miris. Siapa pun dengan kategori seperti itu pasti akan sulit membayangkan penderitaan seperti apa yang dirasakan dan dialami si Manusia Kawat.

 

Penderitaan absurd itulah yang dialami Manusia Kawat. Tapi sebenarnya, penderitaan absurd bukanlah monopoli penderitaan si manusia kawat saja. Para korban lumpur Lapindo, korban pelanggaran HAM mulai dari Lekra, Gerwani, Tanjung Priok, Talang Sari, 27 Juli, Semanggi, bahkan sampai pedagang kaki lima yang setiap hari digusur, juga merasakan penderitaan yang absurd. Para pelacur jalanan, pengemis di lampu-lampu merah, orang-orang miskin dan renta yang pingsan mengantre uang seratus ribu rupiah, juga mengalami penderitaan yang absurd.  Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dan gegap gempita derap pembangunan, hidup bagi jutaan rakyat Indonesia adalah seabasurd keberadaan si Manusia Kawat. Berbagai analisis, teori, dan upaya untuk mencari solusi seakan membentur dinding gaib yang membuyarkannya seketika, persis seperti kawat-kawat di perut si Manusia Kawat yang segera tumbuh lagi sesaat setelah dokter mencabutinya. Kawat-kawat itu bahkan bergerak-gerak bak cacing kepanasan mengejek dokter yang memeriksa melalui sinar X-ray.

 

Bagaimana kita harus menyikapi absurditas penderitaan semacam itu? Tak ada teori yang mampu memberikan jawaban memuaskan untuk pertanyaan itu, tapi sebuah jawaban di kepala saya justru muncul dari puisi kawan saya yang hingga kini raib tak jelas rimbanya (ini juga bagian dari absurditas hidup kita), Wiji Thukul: "hanya ada satu kata, lawan!"  Ya, kita hanya harus terus melawannya sampai titik darah penghabisan. Kita hanya harus terus berjuang sampai ajal menjemput. Itulah cara menghadapi absurditas yang paling ampuh. Dengan melawan kita telah memberi makna pada keberadaan kita di tengah absurditas itu. Jangan berpikir tentang hasil perlawanan itu, karena hasil itu mungkin baru terlihat di masa datang yang lebih baik. (*)

©2008 VHRmedia.com


Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Inspirasi

Kampus, Rumah Bersalin, dan Anak Jalanan

25 Juli 2008 - 14:10 WIB

Tidak biasanya saya menumpang angkutan umum saat jam-jam sibuk. Tapi Senin malam lalu saya menghabiskan sekitar satu jam di angkutan umum menuju sebuah rumah sakit bersalin di kota ini untuk memberi selamat kepada teman lama yang baru dikaruniai anak pertama.


Pukul 20.38. Saya turun sekitar lima meter menjelang halte tempat saya

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Pegawai Honorer Surabaya Tak Terdata BKN

8 Agustus 2008 - 16:24 WIB

Anggaran Pendidikan Utamakan Gaji Guru

15 Agustus 2008 - 16:58 WIB

Pengesahan PP 41/2007 Jatim Molor

1 Agustus 2008 - 16:1 WIB

Status Tersangka Bupati Sleman Belum Jelas

1 Agustus 2008 - 15:33 WIB

Peraturan 5 Menteri Tak Berkekuatan Mengikat

1 Agustus 2008 - 16:33 WIB

Arsip Berita »

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua
Teater Sandekala