Voice of Human Rights News Center

English English 03 September 2010  

            Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com   

 

Sikap

Gie

FX Rudy Gunawan

Di sebuah kantor lembaga swadaya masyarakat, seorang office boy tengah asyik memasak menu makan siang. Panggil saja dia Gie. Dia bukan Soe Hok Gie, aktivis angkatan 66 yang melegenda itu tentunya, tapi namanya memang mengandung kata "gie", yakni Tugimin. Wajah Gie berkeringat dipanggang hawa panas kompor yang memenuhi dapur berukuran 2 meter persegi. Otot-otot lengannya tampak kekar saat Gie serius mengulek sambal sebagai pelengkap menu utama, sayur asem dan ikan asin. Tidak setiap hari Gie memasak makan siang untuk para aktivis di tempat kerjanya dan justu karena itulah masakan Gie selalu dinanti-nanti. Semua aktivis suka masakan Gie. Meskipun berkeringat, wajah Gie terlihat ceria dan bersemangat. Tak ada beban di wajahnya. Yang terlihat adalah ketulusan untuk melayani. Beberapa kali ia mengusap keringat dengan menggunakan lengan baju kaosnya, mencegah butir keringat terjatuh ke atas cobek. Siang itu ia mengenakan kaos bertuliskan "Ayo Perangi dan Lawan Korupsi!"

 

Siapa saja yang melihat Gie asyik memasak biasanya langsung berkomentar, memberikan satu-dua pujian, sambil menahan liur menetes. Siapa saja yang melihat Gie memasak, pasti akan mendapatkan wajah sederhana yang sungguh tulus, asyik meracik, mengulek, atau mengaduk sesuatu. Mungkin ini sesuatu yang sepele bagi sebagian besar orang, tapi bila kita mau menyempatkan diri untuk sengaja mencari sebuah ketulusan pada wajah-wajah yang berseliweran di pasar, mal, alun-alun, restoran-restoran, kantor-kantor pemerintah, kantor-kantor swasta, kampus-kampus, atau di mana saja, saya berani bertaruh, kita tidak akan mudah menemukannya. Mungkin di antara seribu wajah yang kita pelototi, hanya ada satu wajah setengah tulus yang kita temukan. Kalau beruntung, mungkin kita akan menemukan dua-tiga wajah tulus di antara seribu wajah itu. Sungguh, ketulusan untuk melayani sesama sudah lama menjadi barang langka di dunia tempat kita hidup kini. Setidaknya menurut pengamatan saya, orang-orang kini lebih banyak berpamrih dalam segala hal.

 

Orang yang tulus melayani biasanya masih bisa kita temukan di desa-desa kecil yang kebetulan kita kunjungi dalam sebuah perjalanan. Kita mungkin masih mendapatkan orang-orang yang menawarkan bantuan dengan spontan ketika ban mobil kita kempes dan tak ada tukang tambal ban di sekitar tempat itu. Kita mungkin masih mendapatkan keramahtamahan yang jujur dan bukan basa-basi ketika kita bertanya arah pada seorang penduduk desa di pelosok Indonesia. Di kota-kota besar memang tetap ada peluang kita mendapatkan ketulusan, tapi probabilitasnya tetap lebih kecil dibandingkan dengan di desa-desa. Gie adalah contoh konkret profil orang desa karena ia memang berasal dari desa kecil di pelosok Jawa Tengah. Desanya, menurut Gie, adalah sebuah desa miskin dengan tingkat pendidikan masyarakat yang sangat rendah karena tidak ada kemampuan untuk membiayai sekolah. Padahal, menurut cerita Gie pada saya dalam suatu kesempatan ngobrol berdua, penduduk desanya, baik lelaki maupun perempuan, adalah orang-orang yang sangat rajin bekerja, tidak pernah malas untuk melakukan pekerjaan apa pun asal tidak melanggar hukum.

 

Saya tak bisa menjawab pertanyaan polos Gie tentang kemiskinan desanya. "Mengapa kami hidup miskin, Mas? Kan kami semua bukan orang yang malas, kami selalu rajin bekerja tiap hari. Mengapa kami tetap miskin?" Saya sungguh ingin menjawabnya dengan sesederhana mungkin, tapi apakah ada penjelasan sederhana tentang kemiskinan? Masalahnya pasti selalu kompleks dan pelik. Saya membuang muka sejenak dari tatapan Gie yang sungguh polos dan mengharap penjelasan. Saya harus memilih satu jawaban yang paling bisa menjelaskan mengapa orang-orang desa Gie yang rajin bekerja dan tulus melayani sesame harus hidup dalam kemiskinan? Jawaban sederhana apa yang harus saya sampaikan? Jangan-jangan sebenarnya saya memang tidak bisa menjawab pertanyaannya. Sejujurnya saya memang malah ingin belajar bagaimana bisa memiliki ketulusan seperti dirinya. Tapi saya harus menjawab pertanyaannya, saya tidak ingin mengecewakan Gie dan juga mengecewakan diri sendiri.

 

"Pripun, Mas? Bagaimana? Apa jawaban pertanyaan saya?"

Saya menghela nafas panjang. Saya sudah menemukan sebuah jawaban, tapi jawaban itu sungguh pahit dan menyakitkan untuk disampaikan.

"Baiklah, Gie. Saya akan menjawab pertanyaanmu dengan jujur, tapi jawaban ini hanya salah satu dari sekian banyak penyebab lainnya. Jawaban ini juga mungkin menyakiti hatimu. Kamu paham?"

"Paham, Mas."

"Kamu siap untuk mendengar jawaban saya?"

"Inggih. Siap, Mas."

"Gie, menurut saya, salah satu penyebab miskinnya desamu adalah karena kalian memiliki ketulusan yang luar biasa dalam melayani pada sesama manusia...."

"Hah? Kok bisa, Mas? Kulo mboten ngertos. Ndak ngerti saya...."

"Itulah, Gie. Pahit, kan? Tapi justru karena itulah, orang-orang pinter, para pemimpin, para politisi, para aktivis, para pejabat, para mahasiswa, seharusnya belajar dari kamu dan orang-orang desamu tentang ketulusan. Barulah orang-orang desamu tidak akan miskin lagi!"

 

Gie manthuk-manthuk, menggangguk-anggukkan kepalanya. Saya menatapnya dengan perasaan kacau balau. Sungguh saya ingin belajar ketulusan kepadanya. Sungguh saya ingin semua orang meneladaninya. (*)

©2010 VHRmedia.com


Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Wajah Baru VHRmedia

21 Januari 2009 - 14:20 WIB

Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM

16 Januari 2009 - 23:54 WIB

Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid

16 Januari 2009 - 21:33 WIB

Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror

16 Januari 2009 - 21:15 WIB

LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III

16 Januari 2009 - 21:4 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Tidak ada data 5 Berita terpopuler

Arsip Berita »

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua