| 03 September 2010 |
Sikap
Hari HAM, Hari Antikorupsi, dan Hari-hari Biasa
12 Desember 2008 - 15:20 WIB
FX Rudy Gunawan
Pada bulan Desember ini kita memperingati sejumlah hari penting yang merupakan perayaan untuk memuliakan kemanusiaan kita. Misalnya 9 Desember yang diperingati sebagai Hari Antikorupsi Sedunia dan 10 Desember yang sudah lama kita peringati sebagai Hari Hak Asasi Manusia Sedunia. Sebelumnya, tanggal 7 Desember adalah peringatan Hari Sukarelawan Sedunia. Mungkin di berbagai belahah dunia lain, banyak juga negara yang memiliki peringatan, yang juga mungkin perayaan, penting di bulan Desember untuk memuliakan kemanusiaan kita. Seperti di Indonesia kita juga merayakan Hari Ibu pada 22 Desember, persis tiga hari sebelum umat Kristen dan Katholik merayakan hari besar Natal.
Bulan Desember menjadi momen penting bagi kemanusiaan kita. Kita diingatkan agar menjadi lebih manusiawi, menjadi manusia yang lebih baik, adil, dan peduli pada tahun-tahun mendatang. Di televisi sejak awal bulan ini kampanye partai-partai yang akan bertarung dalam Pemilihan Umum 2009 pun memanfaatkan momentum penting bulan Desember sebagai perayaan kemanusiaan kita. Tentulah ini sah-sah saja sebagai sebuah bentuk kampanye untuk menarik minat masyarakat. Namun, pemanfaatan momentum perayaan tersebut harus dipahami memiliki konsekuensi yang harus dipenuhi oleh partai yang menggunakannya untuk materi kampanye. Katakanlah sebuah partai yang berkampanye memakai momentum Hari Antikorupsi Sedunia, maka harus benar-benar berjuang melawan dan memberantas korupsi. Terutama jika partai tersebut menjadi partai pemenang pemilu nanti.
Kebetulan pula, di bulan Desember 2008 ini umat Islam di seluruh dunia juga merayakan hari besar Idul Adha. Semangat berkorban adalah sesuatu yang erat kaitannya dengan kualitas kemanusiaan seseorang, karena itu perayaan Idul Adha 1429 Hijriah yang jatuh pada 8 Desember lalu terasa sangat menyatu dengan perayaan hari-hari penting untuk memuliakan nilai kemanusiaan. Kita tahu, pengorbanan untuk memajukan kehidupan kita sebagai manusia, sebagai warga masyarakat, dan sebagai rakyat Indonesia, masih sangat diperlukan dalam semua tataran kehidupan. Nilai-nilai warisan keluhuran budaya lokal kita seperti gotong-royong, musyawarah, solidaritas, tepo seliro atau toleransi, semakin hari kian memudar dan terancam lenyap bila kita tak segera menguatkannya kembali. Sayang, upaya-upaya untuk itu, baik dari pihak yang berwenang dalam pemerintahan maupun lembaga-lembaga swadaya masyarakat, masih sangat sedikit.
Di bulan Desember juga kita diingatkan bahwa satu tahun sudah akan berlalu. Satu tahun sudah akan kita lewati. Apakah yang sudah kita lakukan selama setahun ini? Kesadaran untuk merenungkan kembali hidup dan perbuatan kita selama setahun pun muncul pada bulan Desember. Kita mencoba melihat ulang, meninjau, dan mengkaji hidup kita untuk merencanakan sesuatu yang lebih baik pada tahun berikutnya. Mungkin tidak semua kita melakukannya. Mungkin segelintir saja dari kita yang melakukannya dengan sungguh serius dan setulus hati. Upaya memaknai kembali hidup dan perbuatan-perbuatan ini memang kerap kita abaikan, karena saking lelahnya menghadapi berbagai persoalan dalam hidup sepanjang tahun-tahun yang sudah kita lewati.
Sebenarnya kita tidak perlu merasa lelah untuk melakukannya. Sebenarnya setiap hari kita bisa melakukannya. Setiap hari di hari-hari yang biasa saja. Hari-hari di mana tidak ada peringatan atau perayaaan apa pun. Hanya sebuah hari biasa di mana kita bisa menemukannya di bulan apa pun pada tahun berapa pun. Hari-hari biasa saja yang biasanya berlalu begitu saja. Seolah tanpa makna apa pun. Di hari-hari biasa saja itulah seharusnya kita menemukan waktu untuk diri kita. Mungkin di sebuah malam yang tak berbintang. Atau mungkin di pagi hari menjelang fajar yang siap merekah merah dan embun masih menempel di rumput dan dedauan. Bahkan di siang hari yang terik pun kita bisa menemukan waktu untuk itu. Pada kesempatan-kesempatan seperti itu kita seharusnya mencoba merenung untuk memperbaiki kualitas hidup dan kualitas diri kita sebagai manusia seutuhnya.
Barangkali di hari-hari biasa itu kita justru menemukan sesuatu yang penting untuk menata kembali diri dan hidup kita. Peringatan dan perayaan hari-hari penting dan besar untuk memuliakan kemanusiaan kita sebenarnya hanya alat untuk membantu menemukan hari-hari biasa saja itu. Sebab, untuk menjadi lebih baik, yang kita perlukan pertama-tama adalah niat pribadi, bukan sesuatu dari luar diri kita. Dan setiap hari sepanjang tahun adalah kesempatan yang diberikan kepada kita semua untuk menjadi manusia yang lebih baik. (*)
©2010 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM16 Januari 2009 - 23:54 WIB
- Harifin Tumpa Terpilih sebagai Ketua MA 15 Januari 2009 - 17:29 WIB
- Tiap Hari Terjadi Pelanggaran Kebebasan Beragama Sepanjang 2008 14 Januari 2009 - 11:43 WIB
- DPR: Hakim Kasasi Harus Gunakan Argumen Kuat 12 Januari 2009 - 16:49 WIB
- Masih Ada Peluang Kasasi Vonis Bebas Muchdi Pr6 Januari 2009 - 13:30 WIB
Kisah Terkait
- Ramadan ala BMI Hong Kong (2, Habis)24 September 2008 - 13:1 WIB
- Mendadak Ngemis (3, Habis)17 September 2008 - 13:38 WIB
- Di Laut Bangkrut di Darat Melarat 23 Agustus 2007 - 16:53 WIB
- Si Kuning Bus Anak Sekolah16 Agustus 2007 - 15:7 WIB
- Sumarna Si Manusia Gerobak7 Februari 2007 - 13:55 WIB
Artikel Terkait
- Menyusui, Memberikan Kasih dan Hak Bayi4 Agustus 2008 - 17:43 WIB
- Hari Antipenyiksaan: Menghapus Budaya Menyiksa26 Juni 2008 - 9:53 WIB
- Cita-cita yang Belum Sepenuhnya Tergapai23 Agustus 2007 - 14:46 WIB
- Magang Kerja, Modus Baru Trafficking27 Juli 2007 - 14:36 WIB
Agenda
Berita Terkini
Wajah Baru VHRmedia
21 Januari 2009 - 14:20 WIB
Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM
16 Januari 2009 - 23:54 WIB
Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid
16 Januari 2009 - 21:33 WIB
Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror
16 Januari 2009 - 21:15 WIB
LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III
16 Januari 2009 - 21:4 WIB
Inspirasi
Politik Aspal di Sepotong Jalan
31 Oktober 2008 - 9:48 WIB
SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala
Berita Terpopuler
Tidak ada data 5 Berita terpopuler
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







