| 29 Agustus 2008 |
Sikap
Ide Gila, Show Off, atau Nurani?
8 Januari 2008 - 17:59 WIB
FX Rudy Gunawan
Tiga orang pengelola radio komunitas dari Malang, Brebes, dan Gebang (perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah) terdampar di Jakarta pada saat perayaan malam tahun baru 2008. Lazimnya "orang daerah" akan antusias merayakan tahun baru di Monas, Taman Impian Jaya Ancol, atau pusat-pusat keramaian lain di Jakarta. Tapi ketiga orang pengelola radio komunitas ini bukan orang yang lazim. Mereka tidak pergi melihat kembang api atau nonton konser musik pergantian tahun. Di tengah guyuran hujan deras yang sudah menenggelamkan beberapa daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan juga Sumatera Utara, ketiga orang ini memutuskan untuk melakukan "solidaritas" pada para korban bencana di berbagai daerah yang tidak bisa merayakan tahun baru. Mereka memutuskan berjalan kaki sejauh kaki melangkah. Rute awal adalah kawasan Senayan ke patung Pancoran. Maka berjalanlah mereka beberapa waktu sebelum lonceng tahun baru berbunyi. Mereka sepakat untuk hanya berbekal sebotol air mineral ukuran tanggung. Tidak makan dan tidak ngemil.
Dan di tengah guyuran hujan deras, ketiga orang ini memulai perjalanan mereka menuju patung Pancoran. Tidak jelas rute mana yang mereka ambil, tapi yang jelas mereka baru tiba di patung Pancoran pukul 03.00 dini hari. Setidaknya 4-5 jam mereka berjalan terus-menerus walaupun dalam keadaan basah kuyup. Lapar dan dingin menikam tubuh mereka di tengah keriuhan terompet tahun baru dan kemeriahan kembang api aneka warna. Dingin dan lapar yang sama pasti dirasakan juga oleh puluhan ribu orang di berbagai daerah yang dilanda banjir. Penderitaan yang dilakoni atau dijalani (sebenarnya agak kurang pas menerjemahkan kata Jawa dilakoni dengan "dijalani", tapi apa boleh buat, sulit mencari padanan lainnya) ketiga orang ini mungkin bisa kita cap sebagai "artifisial". Mengada-ada. Aneh-aneh. Sok. Atau apa saja yang bisa memuaskan orang-orang yang ingin menuding atau hanya terbiasa memberi "cap". Namun apa pun tudingan orang, sikap ketiga orang ini adalah sebuah pilihan sah. Mereka berhak melakukannya sebagai ekspresi kepedulian dan keprihatinan yang tulus atau bahkan sebagai sikap sok prihatin belaka.
Bagaimana kita menyikapi bencana setelah sekian puluh bencana besar terus-menerus terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Masihkah kita memiliki kepedulian dan keprihatinan? Atau barangkali kita sudah imun atau kebal? Pertanyaan ini relevan untuk kita semua, terutama mereka yang selama ini selalu peduli pada penderitaan sesamanya. Tsunami Aceh, kita tahu, masih menyisakan begitu banyak permasalahan serius yang terkait dengan pertanyaan ini. Kuatnya indikasi korupsi, penyelewengan, manipulasi, penipuan, dan kolusi dalam penggunaan atau penyaluran dana bantuan yang mencapai triliunan rupiah, sungguh memicu pertanyaan dasar tentang hati nurani serta harkat dan martabat kita sebagai manusia. Dalam situasi penuh penderitaan, mungkin memang diperlukan ide-ide gila untuk merayakan datangnya tahun baru. Kita memang harus optimistis memandang masa depan. Ini tak perlu diperdebatkan. Semua orang pasti sepakat tentang sikap dasar ini. Semua orang perlu menghibur diri dan melupakan segala penderitaan. Ini sangat bisa diperdebatkan. Terutama bila penderitaan itu tengah menghajar ratusan ribu atau jutaan orang persis di malam tahun baru.
Kita tetap bisa dan boleh merayakan tahun baru. Masalahnya adalah cara kita merayakannya. Kalau kita masih memiliki nurani, tentulah sangat tidak etis bila kita membeli home theater seharga 2 miliar rupiah hanya untuk mendengarkan gemuruh pembunuhan lain di layar kaca atau kemeriahan tahun baru di berbagai negara. Seorang fotografer free lance kebetulan pernah memotret sebuah rumah dengan home theater seharga miliaran rupiah yang membuat saya berdecak tak habis mengerti. Bagaimana bisa orang tega membelinya sementara jutaan orang masih kelaparan di sekelilingnya? Ketika saya tanyakan kehebatan perangkat audiovisual itu pada teman fotografer yang memotretnya, dia tak bisa menjelaskan apa kehebatannya. "Mungkin hanya telinga-telinga orang kaya yang bisa merasakan kehebatannya," jelasnya.
Katakanlah orang kaya yang membeli home theater itu memiliki sebuah ide gila yang didasari oleh hasrat show off belaka dan sama sekali tidak memiliki nurani yang membuatnya berpikir tentang penderitaan yang terjadi di sekelilingnya. Sementara tiga orang pengelola radio komunitas yang merayakan tahun baru dengan ikut prihatin pada para korban bencana, memiliki ide gila yang justru berbasis pada nurani mereka. Ada perbedaan yang sangat mendasar di antara orang kaya dan para pengelola radio komunitas itu. Seharusnya kita bisa melihat dengan jernih perbedaan-perbedaan kecil namun prinsip yang ada pada orang-orang di sekitar kita. Tanpa bisa melihat dengan jernih kita hanya akan menjadi tukang tuding, tukang cap yang tak pernah berbuat apa-apa selain menuding dan memberi cap. Menjadi manusia tukang tuding akhirnya juga akan mengikis kepekaan dan kepedulian kita. Perlahan-lahan nurani kita pun akan pupus dan menghilang. Lalu jadilah kita manusia-manusia tanpa nurani yang tidak memiliki ide gila apa pun dan juga tidak mampu untuk show off apa pun. Ini adalah jenis manusia yang sungguh paling memprihatinkan. Apakah kita hanya akan menjadi manusia jenis itu di tahun 2008? Kita sendiri yang menentukan. Selamat tahun baru 2008. Semoga menjadi tahun yang baik bagi kita semua. (*)
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Rombongan Presiden Dihadang 9 Demonstran26 Agustus 2008 - 15:12 WIB
- Indonesia agar Utamakan Energi Terbarukan21 Agustus 2008 - 14:5 WIB
- Pemerintah Didesak Kendalikan Tembakau8 Agustus 2008 - 15:40 WIB
- Tim Kecil Angket BBM Usul Panggil Presiden8 Agustus 2008 - 11:36 WIB
- DPR Studi Banding atau Pelesir ke Luar Negeri 7 Agustus 2008 - 11:33 WIB
Artikel Terkait
- Antara Ronodipuro dan Soeharto 29 Januari 2008 - 12:22 WIB
- Militer Dalam Suprastruktur Ideologi 5 November 2007 - 15:16 WIB
Agenda
Berita Terkini
Minim Informasi Buruh Migran Picu Trafficking
29 Agustus 2008 - 15:51 WIB
Jika Terbukti, Tjahjo Kumolo Siap Mundur
29 Agustus 2008 - 14:23 WIB
Menteri PU: Prioritaskan Warga Perum TAS I
29 Agustus 2008 - 13:57 WIB
Anulir Vonis, Korban Dapat Ajukan PK
29 Agustus 2008 - 13:37 WIB
Pemerintah Jangan Cuma Mengacu Ekonomi Global
29 Agustus 2008 - 12:46 WIB
Inspirasi
Kampus, Rumah Bersalin, dan Anak Jalanan
25 Juli 2008 - 14:10 WIB
Tidak biasanya saya menumpang angkutan umum saat jam-jam sibuk. Tapi Senin malam lalu saya menghabiskan sekitar satu jam di angkutan umum menuju sebuah rumah sakit bersalin di kota ini untuk memberi selamat kepada teman lama yang baru dikaruniai anak pertama.
Pukul 20.38. Saya turun sekitar lima meter menjelang halte tempat saya
Berita Terpopuler
Pegawai Honorer Surabaya Tak Terdata BKN
8 Agustus 2008 - 16:24 WIB
Anggaran Pendidikan Utamakan Gaji Guru
15 Agustus 2008 - 16:58 WIB
Pengesahan PP 41/2007 Jatim Molor
1 Agustus 2008 - 16:1 WIB
Status Tersangka Bupati Sleman Belum Jelas
1 Agustus 2008 - 15:33 WIB
Peraturan 5 Menteri Tak Berkekuatan Mengikat
1 Agustus 2008 - 16:33 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB








