Voice of Human Rights News Center

English English 03 September 2010  

            Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com   

 

Sikap

Ide Gila, Show Off, atau Nurani?

FX Rudy Gunawan

Tiga orang pengelola radio komunitas dari Malang, Brebes, dan Gebang (perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah) terdampar di Jakarta pada saat perayaan malam tahun baru 2008. Lazimnya "orang daerah" akan antusias merayakan tahun baru di Monas, Taman Impian Jaya Ancol, atau pusat-pusat keramaian lain di Jakarta. Tapi ketiga orang pengelola radio komunitas ini bukan orang yang lazim. Mereka tidak pergi melihat kembang api atau nonton konser musik pergantian tahun. Di tengah guyuran hujan deras yang sudah menenggelamkan beberapa daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan juga Sumatera Utara, ketiga orang ini memutuskan untuk melakukan "solidaritas" pada para korban bencana di berbagai daerah yang tidak bisa merayakan tahun baru. Mereka memutuskan berjalan kaki sejauh kaki melangkah. Rute awal adalah kawasan Senayan ke patung Pancoran. Maka berjalanlah mereka beberapa waktu sebelum lonceng tahun baru berbunyi. Mereka sepakat untuk hanya berbekal sebotol air mineral ukuran tanggung. Tidak makan dan tidak ngemil.

 

Dan di tengah guyuran hujan deras, ketiga orang ini memulai perjalanan mereka menuju patung Pancoran. Tidak jelas rute mana yang mereka ambil, tapi yang jelas mereka baru tiba di patung Pancoran pukul 03.00 dini hari. Setidaknya 4-5 jam mereka berjalan terus-menerus walaupun dalam keadaan basah kuyup. Lapar dan dingin menikam tubuh mereka di tengah keriuhan terompet tahun baru dan kemeriahan kembang api aneka warna. Dingin dan lapar yang sama pasti dirasakan juga oleh puluhan ribu orang di berbagai daerah yang dilanda banjir. Penderitaan yang dilakoni atau dijalani (sebenarnya agak kurang pas menerjemahkan kata Jawa dilakoni dengan "dijalani", tapi apa boleh buat, sulit mencari padanan lainnya) ketiga orang ini mungkin bisa kita cap sebagai "artifisial". Mengada-ada. Aneh-aneh. Sok. Atau apa saja yang bisa memuaskan orang-orang yang ingin menuding atau hanya terbiasa memberi "cap".  Namun apa pun tudingan orang, sikap ketiga orang ini adalah sebuah pilihan sah. Mereka berhak melakukannya sebagai ekspresi kepedulian dan keprihatinan yang tulus atau bahkan sebagai sikap sok prihatin belaka.

 

Bagaimana kita menyikapi bencana setelah sekian puluh bencana besar terus-menerus terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Masihkah kita memiliki kepedulian dan keprihatinan? Atau barangkali kita sudah imun atau kebal? Pertanyaan ini relevan untuk kita semua, terutama mereka yang selama ini selalu peduli pada penderitaan sesamanya. Tsunami Aceh, kita tahu, masih menyisakan begitu banyak permasalahan serius yang terkait dengan pertanyaan ini. Kuatnya indikasi korupsi, penyelewengan, manipulasi, penipuan, dan kolusi dalam penggunaan atau penyaluran dana bantuan yang mencapai triliunan rupiah, sungguh memicu pertanyaan dasar tentang hati nurani serta harkat dan martabat kita sebagai manusia. Dalam situasi penuh penderitaan, mungkin memang diperlukan ide-ide gila untuk merayakan datangnya tahun baru. Kita memang harus optimistis memandang masa depan. Ini tak perlu diperdebatkan. Semua orang pasti sepakat tentang sikap dasar ini. Semua orang perlu menghibur diri dan melupakan segala penderitaan. Ini sangat bisa diperdebatkan. Terutama bila penderitaan itu tengah menghajar ratusan ribu atau jutaan orang persis di malam tahun baru.  

 

Kita tetap bisa dan boleh merayakan tahun baru. Masalahnya adalah cara kita merayakannya. Kalau kita masih memiliki nurani, tentulah sangat tidak etis bila kita membeli home theater seharga 2 miliar rupiah hanya untuk mendengarkan gemuruh pembunuhan lain di layar kaca atau kemeriahan tahun baru di berbagai negara. Seorang fotografer free lance kebetulan pernah memotret sebuah rumah dengan home theater seharga miliaran rupiah yang membuat saya berdecak tak habis mengerti. Bagaimana bisa orang tega membelinya sementara jutaan orang masih kelaparan di sekelilingnya? Ketika saya tanyakan kehebatan perangkat audiovisual itu pada teman fotografer yang memotretnya, dia tak bisa menjelaskan apa kehebatannya. "Mungkin hanya telinga-telinga orang kaya yang bisa merasakan kehebatannya," jelasnya.

 

Katakanlah orang kaya yang membeli home theater itu memiliki sebuah ide gila yang didasari oleh hasrat show off belaka dan sama sekali tidak memiliki nurani yang membuatnya berpikir tentang penderitaan yang terjadi di sekelilingnya. Sementara tiga orang pengelola radio komunitas yang merayakan tahun baru dengan ikut prihatin pada para korban bencana, memiliki ide gila yang justru berbasis pada nurani mereka. Ada perbedaan yang sangat mendasar di antara orang kaya dan para pengelola radio komunitas itu. Seharusnya kita bisa melihat dengan jernih perbedaan-perbedaan kecil namun prinsip yang ada pada orang-orang di sekitar kita. Tanpa bisa melihat dengan jernih kita hanya akan menjadi tukang tuding, tukang cap yang tak pernah berbuat apa-apa selain menuding dan memberi cap. Menjadi manusia tukang tuding akhirnya juga akan mengikis kepekaan dan kepedulian kita. Perlahan-lahan nurani kita pun akan pupus dan menghilang. Lalu jadilah kita manusia-manusia tanpa nurani yang tidak memiliki ide gila apa pun dan juga tidak mampu untuk show off apa pun. Ini adalah jenis manusia yang sungguh paling memprihatinkan. Apakah kita hanya akan menjadi manusia jenis itu di tahun 2008? Kita sendiri yang menentukan. Selamat tahun baru 2008. Semoga menjadi tahun yang baik bagi kita semua. (*)

©2010 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

    Tidak ada data 5 Kisah terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Wajah Baru VHRmedia

21 Januari 2009 - 14:20 WIB

Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM

16 Januari 2009 - 23:54 WIB

Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid

16 Januari 2009 - 21:33 WIB

Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror

16 Januari 2009 - 21:15 WIB

LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III

16 Januari 2009 - 21:4 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Tidak ada data 5 Berita terpopuler

Arsip Berita »

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua