Voice of Human Rights News Center

English English 03 September 2010  

            Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com   

 

Sikap

Mari Mendongeng Lagi!

FX Rudy Gunawan

Tutup ember plastik besar berwarna merah adalah matahari. Ember mandi bayi yang bolong bagian bawahnya adalah perahu. Kardus bekas berbentuk jajaran genjang dengan lubang kecil di ujungnya menjadi  seekor hiu besar, ganas, dan buta yang siap mencaplok Pahlawan, bocah kecil berseragam sekolah dasar, jika tak menyerahkan telur kerang langka di kantongnya. Pahlawan berjuang keras mengarungi samudra untuk mendapatkan telur kerang langka guna mengobati mata ibundanya yang juga buta. Tapi kini hiu ganas buta itu mengancam memangsa dirinya jika tidak menyerahkan telur itu. Pahlawan bingung. Ia merajuk dan merayu hiu itu agar tidak meminta telur kerang langka, tapi si hiu tetap memaksa. Negosiasi kemudian terjadi. Pahlawan yang gigih dan pantang menyerah kemudian berhasil membuat kesepakatan dengan si hiu. Ia mau menyerahkan telur kerang langka itu, namun si hiu harus membantunya mencari obat lain guna menyembuhkan mata ibundanya. Si hiu setuju. Dan pahlawan kembali berjuang mengarungi samudra sampai ke berbagai benua untuk mencari obat buat ibundanya.


Dongeng tentang Pahlawan itu tidak ditonton dan didengarkan oleh anak-anak SD, tapi justru para mahasiswa Universitas Indonesia, aktivis LSM, akademisi, serta juga seniman dan budayawan yang menontonnya ketika pendongeng Aceh yang unik, Agus Nur Amal atau Agus PM Toh, mementaskannya di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia. Bak kembali ke masa kanak-kanak yang penuh keceriaan dan kegembiraan, para penonton atau pendengar dongeng dewasa itu tertawa tergelak hampir di sepanjang pertunjukan. Agus, dengan busana khas Aceh berwarna hitam, membawa semua hadirin kembali menjadi kanak-kanak yang selalu menjalani kehidupan dengan semangat kegembiraan, kepolosan, dan ketulusan. Anak-anak yang secara spontan tertawa atau menangis ketika bergembira atau bersedih. Anak-anak yang secara gigih berjuang untuk membantu orang lain tanpa pamrih apa pun. Inilah sifat-sifat kebaikan yang mampu memunculkan jiwa kepahlawan pada orang-orang yang memilikinya.


Namun seiring bertumbuh dewasanya seseorang, sifat-sifat yang mengandung potensi kepahlawanan itu terkikis, menipis, dan pada sebagian besar orang bahkan sama sekali habis. Hilang. Lenyap tanpa bekas.  Terjadilah kemudian pertikaian, perkelahian, saling jegal, saling fitnah, kekerasan, pembunuhan, bahkan pembantaian. Kehidupan lalu menjadi begitu mengerikan. Bahkan anak-anak masa kini terancam oleh kehidupan yang mengerikan ini. Ruang-ruang untuk kejujuran, ketulusan, kepolosan, persahabatan, tanpa terasa semakin menyempit.


Di zaman ini, anak-anak sudah sejak lahir diisap masuk ke dalam kotak kaca bernama televisi yang tidak memiliki dongeng-dongeng indah yang sederhana, mendidik, dan mengarahkan mereka pada imajinasi bernilai kepahlawan seperti dalam dongeng PM Toh.  Yang ada di televisi hanya sinetron-sinetron yang justru berpotensi merusak potensi kepahlawanan pada jiwa anak-anak. Mungkin masih ada satu-dua produk sinetron televisi yang cukup baik sebagai pengganti dongeng yang semakin hari semakin musnah. Tapi itu sangat jarang. Hanya satu-dua dalam kurun waktu yang lama. Mengapa? Sederhana saja, karena produk semacam itu umumnya tidak laku. Sebuah televisi swasta yang pernah menampilkan Agus PM Toh, terbukti tidak cukup mampu mempertahankan acara dongeng PM Toh yang mereka tayangkan.  Acara-acara dongeng lainnya yang pernah dicoba diproduksi dan ditayangkan oleh sejumlah televisi swasta lainnya, juga rata-rata bernasib sama. Menyedihkan melihat anak-anak tumbuh tanpa dongeng-dongeng yang sederhana tapi sungguh mampu mengembangkan imajinasi kepahlawanan mereka.


Dongeng Pahlawan dipentaskan Agus PM Toh dalam sebuah konferensi tentang demokrasi dan perlawanan terhadap tirani modal yang menguasai masyarakat Indonesia dan masyarakat di negara-negara lainnya. Konferensi yang berlangsung pada awal Agustus ini memang tidak secara khusus membahas persoalan-persoalan anak di Indonesia masa kini. Namun, karena tujuannya untuk mencari wajah Indonesia baru yang lebih baik di masa datang, maka nasib anak-anaklah sebenarnya yang menjadi pokok soal utama dalam acara tersebut. Nasib anak-anaklah yang dibicarakan dan dibahas oleh para pemikir, seniman dan budayawan, ahli ekonomi dan politik yang menjadi narasumber dalam acara itu. Dan persoalan Indonesia baru yang lebih baik, lebih damai dan sejahtera, adalah tanggung setiap rakyat Indonesia tanpa membedakan apa status sosial-ekonomi, agama, suku, profesi, ataupun jenis kelamin. Lalu apa wujud sumbangsih paling konkret dan paling penting yang bisa diberikan oleh setiap rakyat Indonesia tak peduli dia miskin atau kaya, lelaki atau perempuan, Aceh atau Papua, Islam atau Hindu?


Jawabnya sederhana. Mari beramai-ramai menjadi Agus PM Toh! Ya, mari kita kembali mendongeng untuk anak-anak kita! Dulu, entah berapa puluh tahun yang lampau, masih banyak orang tua mendongeng untuk meninabobokan anak-anak mereka. Kini, tradisi ini semakin terancam punah. Ini sangat menyedihkan, karena bahkan di negara-negara maju sekalipun, tradisi mendongeng masih dicoba dipertahankan oleh banyak orang tua. Mengapa? Karena dongeng memang penting dan efektif untuk mendidik dan menaburkan benih-benih kebaikan pada jiwa anak-anak. Karena dongeng terbukti berhasil menjadikan dirinya sebagai sarana pendidikan dini yang disukai anak-anak. Jadi, wahai semua orang dewasa di Indonesia, mari mulai mendongeng untuk anak-anak kita demi masa depan Indonesia yang lebih baik. (*)

©2010 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

    Tidak ada data 5 Artikel terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Wajah Baru VHRmedia

21 Januari 2009 - 14:20 WIB

Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM

16 Januari 2009 - 23:54 WIB

Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid

16 Januari 2009 - 21:33 WIB

Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror

16 Januari 2009 - 21:15 WIB

LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III

16 Januari 2009 - 21:4 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Tidak ada data 5 Berita terpopuler

Arsip Berita »

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua