| 03 September 2010 |
Sikap
Matinya Tukang Gorengan
11 Maret 2008 - 11:32 WIB
FX Rudy Gunawan
Saat harga minyak goreng mulai melejit, kira-kira beberapa minggu sebelum kondisi Soeharto mulai kritis, seorang tukang gorengan diberitakan mati gantung diri. Mungkin peristiwa itu sudah mulai terkikis dari memori Anda, tertumpuk oleh begitu banyak peristiwa lain yang lebih penting, lebih dramatis, atau lebih menyedihkan. Penderitaan seorang tukang gorengan barangkali hanya sebuah peristiwa kecil yang tidak terlalu penting bagi banyak orang. Tapi bagi saya, seorang tukang gorengan sama pentingnya dengan seorang pejuang hak asasi sekaliber Munir atau seorang Marsinah. Ia juga sama hebatnya dengan seorang diktator seperti Marcos atau Soeharto yang bisa berjaya sebagai diktator selama puluhan tahun. Tukang gorengan itu juga seorang pejuang yang tak kalah hebatnya dibandingkan para aktivis Greenpeace yang sangat getol memprotes tindakan-tindakan para perusak lingkungan. Mengapa ia begitu hebat di mata saya?
Ia hebat karena penderitaannya sebagai rakyat kecil adalah penderitaan yang memungkinkan seorang diktator seperti Soeharto atau Marcos terus berkuasa sampai kematian merenggut nyawa mereka. Berkat penderitaan merekalah, para diktator bisa berpesta pora menghamburkan kekayaan negara yang kemudian melahirkan gerakan-gerakan perlawanan dari para pembela rakyat. Dalam mata rantai ini, rakyat seperti tukang gorengan yang mati bunuh diri lalu pantas menyandang gelar martir bagi kehidupan yang lebih baik. Memang, nasib mereka diperjuangkan, dijadikan pertaruhan politik, atau ditindas secara kejam seolah merekalah kaum lemah paling tak berdaya, tapi sebenarnya merekalah yang paling kuat. Merekalah yang paling kuat menghadapi penindasan dan penderitaan. Merekalah yang paling kuat menahan badai kerusuhan politik. Mereka jelas menjadi korban dalam banyak lapisan peristiwa yang didalangi oleh para elite politik, tapi mereka tetap bertahan.
Seorang tukang gorengan juga sama hebatnya dengan Munir atau Marsinah, karena api semangat perjuangan seorang Munir atau seorang Marsinah bersumber dari rakyat kecil seperti tukang gorengan itu. Nasib dan kehidupan merekalah yang mengobarkan darah perlawanan seorang pejuang kemanusiaan. Cerita perjuangan orang-orang semacam Munir atau Marsinah tak akan pernah lepas dari akar perjuangan hidup rakyat kecil seperti tukang gorengan itu. Bayangkanlah bagaimana seorang tukang gorengan menjalani kehidupannya. Jika Anda seorang eksekutif muda, seorang karyawan bank, seorang manajer pabrik sabun, seorang birokrat pemda, atau seorang mahasiswa, dan ternyata tidak bisa menemukan bayangan kehidupan tukang gorengan, cobalah beli gorengan untuk menemani secangkir teh yang baru Anda seduh. Saat itu, ngobrollah dengan tukang gorengan untuk mengetahui seperti apa kehidupannya. Mungkin Anda perlu beberapa kali membeli untuk membangun keakraban dengan si tukang gorengan sampai dia mau bercerita tentang kehidupannya. Abaikan dulu soal kolestrol atau darah tinggi akibat minyak goreng curah.
Setelah tiga-empat kali ngobrol mungkin bayangan seperti ini akan terbangun di benak Anda: "Tukang gorengan hidup di rumah petak kontrakan di daerah yang kumuh dan sumpek. Ia memiliki seorang istri dan tiga anak yang semuanya sudah putus sekolah di tingkat sekolah dasar. Istrinya sakit-sakitan dan tak bisa lagi menjadi buruh cuci freelance sehingga jatah makan mereka semakin berkurang karena tak ada tambahan penghasilan. Si tukang gorengan harus berutang untuk menambah modal jualannya setiap hari. Dari hari ke hari seiring kenaikan harga tempe dan minyak goreng, utangnya makin menggunung...."
Anda bisa meneruskan kisah ini sampai sejauh-jauhnya untuk mengeksplorasi penderitaan rakyat kecil seperti tukang gorengan. Di luar profesi ini, kehidupan rakyat kecil lainnya juga tak kalah penuh oleh cerita pilu yang tak ingin Anda simpan dalam memori otak belakang. Dari cerita rekaan itu, mungkin sebagian Anda tetap tidak bisa memahami mengapa seorang tukang gorengan harus bunuh diri karena harga minyak goreng melambung? Bunuh diri memang bukan solusi yang baik dari sudut pandang agama khususnya. Tapi kematian seorang tukang gorengan yang bunuh diri tidak akan menjadi sia-sia jika sesudahnya pemerintah berupaya keras menurunkan harga minyak, harga tempe, dan harga bahan kebutuhan lainnya. Kematian seorang tukang gorengan juga tidak menjadi sia-sia jika para koruptor dan pengusaha kaya lantas berhenti melakukan pemiskinan dan mempermainkan nasib rakyat. Kita bisa menambahkan daftar ketidaksia-siaan ini untuk diri kita di bidang masing-masing.
Jadi, ketika seorang tukang gorengan mati bunuh diri, apakah dia kalah dalam perjuangannya sebagai rakyat? Ya, dia kalah, tapi kekalahannya adalah sekaligus kemenangan jika kemudian menggerakkan kita untuk berbuat sesuatu guna memperbaiki keadaan di sekeliling kita. (*)
©2010 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Tarif Rawat Rumah Sakit Jiwa Naik 100%16 Januari 2009 - 11:19 WIB
- Dirikan Serikat Pekerja, 6 Buruh Dipecat 12 Januari 2009 - 14:23 WIB
- Jaksa Resmi Ajukan Permohonan Kasasi12 Januari 2009 - 12:50 WIB
- Tarif Rumah Sakit Daerah Jatim Segera Naik9 Januari 2009 - 16:10 WIB
- Kontras: Muchdi Pr Alihkan Perhatian Masyarakat9 Januari 2009 - 16:5 WIB
Kisah Terkait
- Jalan-jalan ke Kampung Amrozi (2, Habis)19 November 2008 - 17:54 WIB
- Mereka Juga Terlilit BBM (2)10 Juni 2008 - 11:39 WIB
- Mereka Juga Terlilit BBM (1)9 Juni 2008 - 14:6 WIB
- Mereka yang Tak Terkucuri BLT (3, habis)29 Mei 2008 - 11:10 WIB
- Mereka yang Tak Terkucuri BLT (2)28 Mei 2008 - 15:23 WIB
Agenda
Berita Terkini
Wajah Baru VHRmedia
21 Januari 2009 - 14:20 WIB
Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM
16 Januari 2009 - 23:54 WIB
Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid
16 Januari 2009 - 21:33 WIB
Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror
16 Januari 2009 - 21:15 WIB
LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III
16 Januari 2009 - 21:4 WIB
Inspirasi
Politik Aspal di Sepotong Jalan
31 Oktober 2008 - 9:48 WIB
SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala
Berita Terpopuler
Tidak ada data 5 Berita terpopuler
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







