| 07 Oktober 2008 |
Tokoh
Ariyo dan Kekuatan Dongeng (1)
2 Juli 2008 - 13:5 WIB
Liza Desylanhi

MALAM itu panggung utama Bobo Fair diramaikan anak-anak. Mereka menikmati suara renyah seorang pendongeng. Tawa dan komentar anak-anak bersahutan di sela-sela dongeng yang dibawakan Ariyo. Memasuki cerita kedua, anak-anak semakin merapat. Mereka kian antusias mendengarkan cerita itu. Mereka yang tadinya duduk di kursi belakang pindah ke hamparan karpet di bagian depan. Mereka lesehan, bergabung dengan anak-anak lain.
Ekspresi anak-anak itu beragam. Kadang mereka terbahak. Sebentar kemudian melonggo. Kadang-kadang melompat terkejut saat ceritanya menegangkan. Saat selingan lagu disuguhkan, anak-anak ikut bernyanyi sambil menggoyangkan badan.
Moch Ariyo Faridh Zidni, nama lengkap pendongeng itu. Pria kelahiran 28 tahun lalu itu menggabungkan dongeng dengan musik. Ariyo mengakui sering mengawinkan dongeng dengan seni lain.
"Jadi, aku bisa menggunakan suara, gerak tubuh, mimik wajah. Kadang aku suka eksperimen bikin dongeng sambil nyanyi duet," kata alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu. "Atau bikin satu dongeng sama tarian. Kadang mendongeng pakai boneka tangan alias finger puppet, atau pakai tali atau kertas, origami."
Ariyo sering juga menggabungkan dongeng dengan out bond. Dia mengaku terinspirasi film Pirates of Carabian. Jadi, tak ada batasan dalam mendongeng. Baginya mendapatkan inspirasi untuk variasi mendongeng modalnya cuma satu: sensitivitas. Pendongeng harus sensitif dalam menggali cerita dari sumber mana pun, mulai dari nonton film, petunjukan wayang, teater, ilustrasi komik, koran, dan yang paling penting: rajin membaca buku. Semua bisa dijadikan sumber inspirasinya.
"Termasuk mendengarkan cerita tema. Curhatan-curhatan temen itu bisa jadi dongeng," katanya. "Ambil satu segmen bagian cerita dia yang konyol yang lucu-lucu bisa jadi dongeng."
Sudah satu dekade Ariyo serius menggeluti dunia dongeng. Ia tertarik pada dunia dongeng setelah mengikuti mata kuliah bacaan anak. Salah satu bahasan mata kuliah tersebut adalah pendekatan terhadap anak-anak melalui story telling. Suatu hari seorang dosen mengajaknya mendongeng di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Di sana, Ariyo merasakan dongeng berdurasi 30 menit yang dibawakannya untuk menghibur anak-anak yang menjalani rawat inap begitu berarti. Sejak itu dia terpanggil untuk mendongeng. Foto: VHRmedia.com/Dian Ali Rahman(Bersambung..)
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
- MA Serukan Hapus Penjara terhadap Anak13 Juli 2007 - 15:32 WIB
- 217 Orang Diselamatkan dari Perbudakan15 Juni 2007 - 14:50 WIB
- China Pekerjakan Anak-anak 11 Juni 2007 - 14:24 WIB
Kisah Terkait
- Si Buyung dalam Bekapan Nikotin2 Juni 2008 - 14:39 WIB
- Bawa Aku Pulang!1 Maret 2007 - 13:8 WIB
Agenda
Berita Terkini
Warga Taman BMW Bertahan
7 Oktober 2008 - 17:46 WIB
11 Parpol Tak Penuhi Kuota Caleg Perempuan
7 Oktober 2008 - 16:59 WIB
ASEAN Siapkan Aturan Perlindungan Buruh Migran
7 Oktober 2008 - 16:11 WIB
Komnas HAM: Stop Diskriminasikan Warga Miskin
7 Oktober 2008 - 15:42 WIB
Pemprov Papua Tuntut 30% Pajak PT Freeport
7 Oktober 2008 - 14:16 WIB
Inspirasi
Pendatang dan Makelar yang Menjengkelkan
10 September 2008 - 9:17 WIB
DUA tahun lalu saya membeli tanah dan mendirikan rumah - yang belum juga rampung hingga sekarang - di kampung di pinggiran kota Semarang. Gebyog, Kecamatan Gunungpati, itulah kampung saya sekarang.
Saya memang memilih tinggal di kampung, jauh dari keramaian. Jujur, saya menyingkiri
Berita Terpopuler
Penumpang Kereta Bekasi-Jakarta Membeludak
2 Oktober 2008 - 14:29 WIB
Lebaran Pluralis di Kalimalang
1 Oktober 2008 - 11:16 WIB
Arus Mudik Berlanjut Hingga Hari Ini
2 Oktober 2008 - 13:2 WIB
Bom Bunuh Diri Terus Terjadi di Irak
2 Oktober 2008 - 14:47 WIB
Pengesahan RUU MA Hari Ini Batal
6 Oktober 2008 - 12:32 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







