| 20 November 2008 |
Tokoh
Keluarga Demonstran
2 Mei 2008 - 19:14 WIB
Kurniawan Tri Yunanto

Rakyat pasti menang melawan penindasan
rakyat kita pasti akan menang
Rakyat pasti menang merebut kedaulatan
rakyat kita pasti akan menang
Revolusi... revolusi..
revolusi sampai menang
Alunan lagu itu dinyanyikan ribuan buruh ketika menggelar perayaan Hari Buruh Internasional di Bundaran Hotel Indonesia 1 Mei 2008. Suara pun menggema bercampur dengan sesaknya manusia dan polusi Jakarta. Sayup-sayup terdengar suara gadis mungil di antara suara ribuan buruh yang terbakar semangatnya.
Siapa sangka, suara lantang itu keluar dari mulut anak yang baru berusia 6 tahun. Seakan tidak ia mau kalah dengan teriakan ibu dan ayahnya, gadis mungil itu pun juga ikut menyuarakan ketertindasan yang di rasakan ribuan buruh. “Awaslah Inggris dan Amerika..musuh rakyat sedunia…yang hendak hancurkan persatuan…dengan sesuka hatinya… Hancurkanlah...siapa...musuh kita yang mana...itulah Inggris Amerika...Hidup buruh,” teriak gadis mungil ini sambil memegang kertas bertuliskan ‘Republik Mimpi Yes, SBY-JK Sangat Demo-Crazy.’
Gadis yang kini masih duduk di taman kanak-kanak nol besar itu, bernama Hilva Berlin Zettira. Dia merupakan anak Subari dan Sofrul Khoirina. Keduanya merupakan pekerja pabrik PT. Inspiran Anditama, sebuah perusahaan garmen di kawasan industri Jatake, Tangerang. Hilva sendiri mengaku senang ikut membantu perjuangan kedua orang tuanya. “Karena ibu baik, saya ikut,” jawabnya singkat.
Sejak dalam kandungan, Hilva kecil sudah sering diajak ibunya beraktifitas dalam serikat buruh di Tangerang. Bahkan sejak usia 2 tahun, dia juga pernah ikut kedua orang tuanya berjalan kaki ke Istana Negara, untuk memperjuangkan nasib buruh. Menurut Hilva, dia kasihan dengan kondisi orang tuanya yang serba terjepit. “Kerjanya di mesin panas, trus langsung capek, langsung istirahat,” kata Hilva.
Menjelang hari yang populer dengan sebutan May Day, perusahaan tempat kerja kedua orang tua Hilva mulai di dera permasalahan. Perusahaannya terancam tutup dan akan di-take over-kan ke pengusaha lain. “Dari 1480 karyawan, 445 adalah karyawan tetap dan selebihnya karyawan kontrak termasuk suami saya,” ujar Khoirina, ibu Hilva, disela yel-yel ribuan buruh.
Selain bekerja dalam perusahaan yang sama, Khoirina dan suaminya, keduanya juga aktif dalam pengurus Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI). Tak heran kalau Hilva sering diajak beraktifitas. “Saya tidak mampu bayar pengasuh. Sehabis pulang sekolah dia juga sering sendirian di rumah, kebetulan rumah kita dekat dengan saudara,” katanya.
Bagi Khoirina, sistem ketenagakerjaan di Indonesia masih sangat merugikan kepentingan pekerja. Selain tidak ada kepastian kerja, kebijakan pemerintah lebih mengedepankan kepentingan pemodal. Bahkan ketika dia memperjuangkan hak buruh di perusahaannya, ancaman PHK selalu ada di depan mata. “Kita tetap berkomitmen agar karyawan dipekerjakan kembali dengan status karyawan tetap,” katanya.
Menurut Subari, ayah Hilva yang sampai detik ini masih sebagai karyawan kontrak, akar permasalahan terletak pada manajemen perusahaan. Kebijakan perusahaan berdampak pada kehidupan keluarga buruh ini. Meski sudah bertahun-tahun bekerja, keluarga yang mendambakan punya rumah sendiri ini, tetap belum bisa mewujudkan impiannya. Mereka hanya mampu menyewa kamar di daerah Jatake Asem, Jatiuwung, Tangerang seharga Rp 200 ribu perbulan, belum termasuk listrik. “Kemampuan kami hanya segitu, belum lagi untuk kebutuhan yang lain. Akan tidak cukup dengan gaji yang serba pas-pasan,” katanya.
Subari dan Khoirinah berharap agar anak semata wayangnya tidak senasib dengan mereka. “Ini (unjuk rasa) untuk pendidikan saja sebenarnya. Besok kalau nalarnya sudah bisa mencerna, tinggal kasih pengarahan. Kenapa beras mahal, kenapa ayahnya begini. Kalau dia sudah mengerti, akan gampang kasih pengarahannyak,” katanya.
Pilihan Subari ternyata membawa hasil. Hilva merasa senang ketika diajak berunjuk rasa atau ikut memberi pelatihan di serikat buruh. Dia semakin bangga dengan anaknya tersebut. Meski baru duduk di TK nol besar, dan sering ikut aktifitas ayahnya, hal itu justru membuat si anak aktif. “Nilainya justru bagus-bagus. Dia juga sudah mulai bisa menghapal angka dan nama hewan dalam bahasa Inggris,” katanya.
Semangat keluarga buruh ini, terus menggema seiring lagu-lagu perjuangan yang mereka nyanyikan:Jangan kembali pulang/sebelum kita yang menang//Walau harus mati di medan juang/demi rakyat ku rela berkorban…//
(Foto: Kurniawan Tri Yunanto)
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran20 November 2008 - 15:59 WIB
- Ribuan Buruh Jatim Demo di Kantor Gubernur19 November 2008 - 15:51 WIB
- Pekerja Sea Master Restaurant Tuntut Pembayaran Gaji18 November 2008 - 16:40 WIB
- Buruh Surakarta Tuding Pemerintah Dikendalikan Pemilik Modal11 November 2008 - 16:0 WIB
- Tolak SKB 4 Menteri, Demo Buruh Ricuh di Istana6 November 2008 - 18:48 WIB
Kisah Terkait
- Pojok Indonesia di Hong Kong26 Agustus 2008 - 14:48 WIB
- Tolak Bala ala Serikat Pekerja (3, habis)12 Agustus 2008 - 11:54 WIB
- Tolak Bala ala Serikat Pekerja (2)11 Agustus 2008 - 15:31 WIB
- Tolak Bala ala Serikat Pekerja (1)8 Agustus 2008 - 14:21 WIB
- Riyal Membawa Sial 8 Januari 2008 - 13:53 WIB
Agenda
Berita Terkini
Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak
20 November 2008 - 16:54 WIB
Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran
20 November 2008 - 15:59 WIB
UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%
20 November 2008 - 15:19 WIB
PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban
20 November 2008 - 14:25 WIB
PKL Surabaya Tolak Perda Penggunaan Jalan
20 November 2008 - 13:38 WIB
Inspirasi
Politik Aspal di Sepotong Jalan
31 Oktober 2008 - 9:48 WIB
SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala
Berita Terpopuler
Amrozi Cs Dieksekusi Pukul 00.15 WIB
9 November 2008 - 3:53 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (2)
9 November 2008 - 8:24 WIB
Tolak SKB 4 Menteri, Demo Buruh Ricuh di Istana
6 November 2008 - 18:48 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (1)
9 November 2008 - 8:21 WIB
Pembela Amrozi Cs Ancam Lapor Mahkamah Internasional
7 November 2008 - 18:30 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







