Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Tokoh

Keluarga Demonstran

Kurniawan Tri Yunanto

Rakyat pasti menang melawan penindasan

rakyat kita pasti akan menang

Rakyat pasti menang merebut kedaulatan

rakyat kita pasti akan menang

Revolusi... revolusi..

revolusi sampai menang

 

Alunan lagu itu dinyanyikan ribuan buruh ketika menggelar perayaan Hari Buruh Internasional di Bundaran Hotel Indonesia 1 Mei 2008. Suara pun menggema bercampur dengan sesaknya manusia dan polusi Jakarta. Sayup-sayup terdengar suara gadis mungil di antara suara ribuan buruh yang terbakar semangatnya.

 

Siapa sangka, suara lantang itu keluar dari mulut anak yang baru berusia 6 tahun. Seakan tidak ia mau kalah dengan teriakan ibu dan ayahnya, gadis mungil itu pun juga ikut menyuarakan ketertindasan yang di rasakan ribuan buruh. “Awaslah Inggris dan Amerika..musuh rakyat sedunia…yang hendak hancurkan persatuan…dengan sesuka hatinya… Hancurkanlah...siapa...musuh kita yang mana...itulah Inggris Amerika...Hidup buruh,” teriak gadis mungil ini sambil memegang kertas bertuliskan ‘Republik Mimpi Yes, SBY-JK Sangat Demo-Crazy.’

Gadis yang kini masih duduk di taman kanak-kanak nol besar itu, bernama Hilva Berlin Zettira. Dia merupakan anak Subari dan Sofrul Khoirina. Keduanya merupakan pekerja pabrik PT. Inspiran Anditama, sebuah perusahaan garmen di kawasan industri Jatake, Tangerang. Hilva sendiri mengaku senang ikut membantu perjuangan kedua orang tuanya. “Karena ibu baik, saya ikut,” jawabnya singkat.

Sejak dalam kandungan, Hilva kecil sudah sering diajak ibunya beraktifitas dalam serikat buruh di Tangerang. Bahkan sejak usia 2 tahun, dia juga pernah ikut kedua orang tuanya berjalan kaki ke Istana Negara, untuk memperjuangkan nasib buruh. Menurut Hilva, dia kasihan dengan kondisi orang tuanya yang serba terjepit. “Kerjanya di mesin panas, trus langsung capek, langsung istirahat,” kata Hilva.

Menjelang hari yang populer dengan sebutan May Day, perusahaan tempat kerja kedua orang tua Hilva mulai di dera permasalahan. Perusahaannya terancam tutup dan akan di-take over-kan ke pengusaha lain. “Dari 1480 karyawan, 445 adalah karyawan tetap dan selebihnya karyawan kontrak termasuk suami saya,” ujar Khoirina, ibu Hilva, disela yel-yel ribuan buruh.

Selain bekerja dalam perusahaan yang sama, Khoirina dan suaminya, keduanya juga aktif dalam pengurus Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI). Tak heran kalau Hilva sering diajak beraktifitas. “Saya tidak mampu bayar pengasuh. Sehabis pulang sekolah dia juga sering sendirian di rumah, kebetulan rumah kita dekat dengan saudara,” katanya.

Bagi Khoirina, sistem ketenagakerjaan di Indonesia masih sangat merugikan kepentingan pekerja. Selain tidak ada kepastian kerja, kebijakan pemerintah lebih mengedepankan kepentingan pemodal. Bahkan ketika dia memperjuangkan hak buruh di perusahaannya, ancaman PHK selalu ada di depan mata. “Kita tetap berkomitmen agar karyawan dipekerjakan kembali dengan status karyawan tetap,” katanya.

Menurut Subari, ayah Hilva yang sampai detik ini masih sebagai karyawan kontrak, akar permasalahan terletak pada manajemen perusahaan. Kebijakan perusahaan berdampak pada kehidupan keluarga buruh ini. Meski sudah bertahun-tahun bekerja, keluarga yang mendambakan punya rumah sendiri ini, tetap belum bisa mewujudkan impiannya. Mereka hanya mampu menyewa kamar di daerah Jatake Asem, Jatiuwung, Tangerang seharga Rp 200 ribu perbulan, belum termasuk listrik. “Kemampuan kami hanya segitu, belum lagi untuk kebutuhan yang lain. Akan tidak cukup dengan gaji yang serba pas-pasan,” katanya.

Subari dan Khoirinah berharap agar anak semata wayangnya tidak senasib dengan mereka. “Ini (unjuk rasa) untuk pendidikan saja sebenarnya. Besok kalau nalarnya sudah bisa mencerna, tinggal kasih pengarahan. Kenapa beras mahal, kenapa ayahnya begini. Kalau dia sudah mengerti, akan gampang kasih pengarahannyak,” katanya.

Pilihan Subari ternyata membawa hasil. Hilva merasa senang ketika diajak berunjuk rasa atau ikut memberi pelatihan di serikat buruh. Dia semakin bangga dengan anaknya tersebut. Meski baru duduk di TK nol besar, dan sering ikut aktifitas ayahnya, hal itu justru membuat si anak aktif. “Nilainya justru bagus-bagus. Dia juga sudah mulai bisa menghapal angka dan nama hewan dalam bahasa Inggris,” katanya.

Semangat keluarga buruh ini, terus menggema seiring lagu-lagu perjuangan yang mereka nyanyikan:Jangan kembali pulang/sebelum kita yang menang//Walau harus mati di medan juang/demi rakyat ku rela berkorban…//

(Foto: Kurniawan Tri Yunanto)

©2008 VHRmedia.com


Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

PKL Surabaya Tolak Perda Penggunaan Jalan

20 November 2008 - 13:38 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua