Voice of Human Rights News Center

English English 21 November 2008  

 

Tokoh

Pemberontakan Si Rambut Panjang

Fransisca Ria Susanti

Anggota parlemen ini cinta mati pada Che. Gigih memperjuangkan kebebasan, juga buruh migran Indonesia.

 

Ia bukan sosok asing di Hong Kong. Hampir semua aktivitas demonstrasi yang mengusung isu demokrasi atau hak asasi manusia (HAM) melibatkan sosoknya. Terakhir kali ia terlibat dalam aksi di depan Central Government Office (CGO), Jumat 9 Mei lalu, memperingati Mother's Day. Bersama puluhan pekerja perempuan lokal, ia menyerukan tuntutan agar pemerintah Hong Kong memberikan upah layak bagi para perempuan pekerja.

 

Namanya Leung Kwok-hung. Rambutnya panjang, perawakannya tinggi, dan gemar mengenakan jins dan berkaos oblong. Gambar sablon di kaosnya tak pernah berubah. Selalu gambar wajah yang sama, meski ia berganti kaos warna merah, putih, atau hitam. Sablon di kaosnya bergambar Ernesto "Che" Guevara, tokoh revolusioner asal Argentina yang berjuang untuk Kuba dan tewas di Bolivia. Leung sepertinya cinta mati pada sosok ini.

 

Dalam setiap perjumpaan dengan Leung, di mana pun, ia selalu terlihat dengan kaos "Che". Sepertinya seluruh isi lemari bajunya hanya berisi kaos "Che". Dalam aksi di depan CGO, Jumat itu, ia mengenakan kaos warna hitam kusam dengan potret Che hasil jepretan Alberto Korda.

 

Sebelumnya, pada 5 Mei, mengenakan kaos oblong putih, masih dengan gambar Che tentu saja, Leung menggelar aksi. Bersama kawan-kawannya, lelaki yang akrab dipanggil "Long Hair" karena rambut panjangnya itu menggelar acara di Times Square, sebuah mal di kawasan Causeway Bay, dan bersitegang dengan pemilik mal tersebut. Pasalnya, acara yang digelar hari itu adalah sesuatu yang dianggap "ilegal" oleh pemerintah Hong Kong. Mereka melakukan siaran langsung dengan radio gelombang FM102.8 MHz yang frekuensinya tak direstui oleh pemerintah. Namun toh mereka bergeming.

 

Berkali-kali acara live broadcast mereka berurusan dengan polisi. Leung pun mesti keluar masuk pengadilan karena tudingan mengganggu ketertiban umum. Namun sepertinya hal itu tak membuat mereka surut.

 

Masih di bulan Mei, tiga hari sebelum acara di Times Square tersebut Leung Hair tampak di tengah-tengah kerumunan orang yang tengah antusias menyambut pawai obor Olimpiade 2008 yang bakal melintasi Hong Kong.

 

Berbeda dari para penyambut yang mengenakan kaos merah dengan tulisan "Go China!" dan melambai-lambaikan bendera China serta Hong Kong sekaligus, Leung malah membawa banner berisi slogan soal HAM. Mengaitkan penerapan HAM dengan pelaksanaan Olimpiade yang bakal digelar di Beijing. "Free political prisoners now", begitu tuntutannya. Ia juga memilih kaos putih, bukan merah, masih dengan gambar kepala Che.

 

Sehari sebelumnya Leung tampak bergabung dengan ribuan orang pekerja, baik lokal maupun migran, memperingati May Day. Di depan wartawan ia bahkan sempat mengatakan bahwa buruh migran perlu melakukan mogok jika pemerintah tetap juga abai terhadap kesejahteraan mereka.

 

Pembangkang

Penampilan jalanan Leung membuat orang pasti tak menyangka ia adalah anggota parlemen Hong Kong, perwakilan dari kawasan New Territories. Di parlemen, Leung anggota Finance and House Committee dan juga anggota panel untuk constitutional affairs, perumahan, ketenagakerjaan, transportasi, dan layanan kesejahteraan.

 

Sebelum menjadi anggota parlemen, lelaki kelahiran Hong Kong tahun 1956 ini memang dikenal sebagai aktivis jalanan. Ia mempoklamasikan diri sebagai Trotskyist dan bergabung dengan April Fifth Action, kelompok sosialis yang namanya diambil dari insiden Tiananmen pertama pada 5 April 1976. Kelompok ini bersuara keras terhadap kebijakan pemerintah China. Bagi mereka, selama belum ada demokrasi di China, tak akan ada juga demokrasi di Hong Kong.

 

Leung sendiri membikin kaul tak akan memotong rambut panjangnya sebelum pemerintah China meminta maaf atas tragedi Tiananmen tahun 1989 yang merenggut ratusan jiwa. Namun, dalam kenyataannya, ia harus memotong rambutnya saat sering keluar masuk penjara.

 

Saat terpilih menjadi anggota parlemen di tahun 2004, kebiasaan "jalanan" Leung tak juga hilang. Dalam acara pengambilan sumpah sebagai anggota parlemen ia memilih mengenakan kaos bergambar Lapangan Tiananmen di bagian depan dan Che Guevara di bagian belakang, sementara anggota perlemen lainnya tampil rapi dengan jas dan dasi.

 

Saat koleganya mengangkat tangan kanan dengan takzim untuk pengambilan sumpah sebagai anggota parlemen, Leung justru mengangkat tangan kirinya yang dibalut dengan pita hitam sebagai bentuk solidaritas terhadap korban tragedi Tiananmen. Selain itu, saat anggota lain hanya mengucapkan sumpah standar, Leung memilih menambahkan kalimat sendiri dalam janji yang ia ucapkan. Ia mendesak pemulihan nama baik para korban tragedi Tiananmen 1989. Ia juga minta agar China membebaskan para tahanan politik dan mengakhiri kebijakan satu partai. Melengkapi "pembangkangan"-nya, hari itu Leung juga meneriakkan slogan "Hidup demokrasi!, Hidup rakyat!"

 

Ulah "urakan" Leung ini tak berubah hingga sekarang. Terlebih sejak tahun 2006 ia juga bergabung dengan League of Social Democrats, kelompok demokratik kiri aliran Trotskyist.

 

Dalam putaran pemilihan Chief Executive Hong Kong tahun lalu Leung juga berulah. Ia menggelar protes di lokasi Chief Executive Donald Tsang tengah menyampaikan pidato. Ia mengenakan topeng babi, juga jubah, untuk menggambarkan dirinya sebagai salah satu karakter dalam Animal Farm (novel satire populer karya George Orwell). Ia memprotes bahwa pemilihan Chief Executive tak demokratis karena dilakukan lewat Komite Pemilihan yang beranggotakan 800 orang. Ia dan kelompok pan-demokratik lainnya mendesak agar Hong Kong segera memiliki hak pilih universal, satu orang satu suara, baik untuk memilih Chief Executive maupun seluruh anggota parlemen.

 

Populer di Kalangan BMI

Tak hanya publik Hong Kong yang mengenal Leung. Warga Indonesia yang merantau di Hong Kong sebagai pekerja rumah tangga juga mengenalnya dengan baik. Leung bahkan pernah menjadi orator yang memimpin demonstrasi ribuan buruh migran Indonesia (BMI) saat menggelar rally ke CGO pada November 2006. Dengan mikropon di tangan Leung berteriak lantang, "Ka yan kung!" Sebuah kalimat dalam dialek kantones yang artinya naikkan upah.

 

Ia juga membuka kantornya di Central untuk kunjungan para buruh migran, juga kelompok minoritas lainnya, yang hendak mengadukan nasib. Ia bersikap ramah kepada setiap orang yang mengajaknya bicara, juga para BMI yang berebut berfoto dengannya di tengah aksi massa dan orasi yang digelar.

 

"PRT asing adalah tulang punggung perekonomian Hong Kong. Adalah kewajiban pemerintah untuk memperhatikan mereka, termasuk lewat kenaikan gaji," kata Leung saat saya temui di tengah aksi massa dengan kelompok migran pada Maret lalu.

 

Bersama beberapa anggota parlemen lainnya, Leung gencar memperjuangkan kenaikan gaji PRT asing, juga pembuatan aturan standar upah minimum bagi seluruh pekerja di berbagai sektor. Selama ini tak ada standar upah minimum untuk pekerja. Leung dan sejumlah anggota di parlemen, termasuk Lee Cheuk-yan yang juga menjabat sebagai Sekjen Hong Kong Confederation of Trade Unions (HKCTU), tengah memperjuangkan agar pemerintah menetapkan upah minimum HK$30 per jam untuk semua sektor. Satu dolar HK sama dengan Rp 1.150.

 

Leung menekankan bahwa aturan tersebut juga mesti diberlakukan untuk PRT asing yang selama ini mendapatkan upah minimum HK$ 3.480 per bulan. "Saya hanya berharap gerakan buruh migran bisa bersatu dengan gerakan pekerja lokal di sini, sehingga tuntutan kesejahteraan bisa kita desakkan bersama-sama," ungkapnya.

 

Ia mengatakan hal tersebut sambil berdiri. Kedua tangannya menyilang di belakang punggung. menjauhkan asap dari batang rokok yang mengepul di tangannya. Sayang sisa abu dan aroma tembakau masih menempel di sekujur kaos hitamnya. Juga di nafasnya. Sebuah kebiasaan tak sehat yang gagal ia hentikan, meski Hong Kong membuat aturan ketat soal larangan merokok per Januari 2007. Sepertinya ia memang memilih menjadi "pembangkang" seumur hidup dan tak pernah menyesalinya.

 

Sejumlah kalangan yang sinis menilai Leung hanya mencari sensasi. Tapi cobalah datang ke Hong Kong dan cari tahu tentang dia di kalangan buruh migran atau kelompok marjinal lainnya. Bagi mereka, Leung adalah pahlawan.

 

Di kalangan BMI, sikap "jalanan" Leung justru menjadi penawar sakit hati atas ulah pejabat negeri sendiri yang kerap memperlakukan mereka sebagai orang asing. Dalam peringatan Hari Buruh 1 Mei lalu, Leung tak segan berbaur dengan ribuan BMI yang tengah mendengarkan orasi di depan kantor CGO.

 

Beberapa BMI menyapanya, "Mister Long Hair". Dan Leung menjawab dengan senyum serta lambaian tangan kanan. Sementara tangan kirinya memegang bungkus rokok. Sebuah arloji warna krem melilit di pergelangan tangannya, juga bergambar Che Guevara. (E4)

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

    Tidak ada data 5 Artikel terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua