Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Tokoh

Pencatat Perjalanan dari Selatan

Fransisca Ria Susanti

SAYA berdiri di depannya, mengenalkan diri, dan menyebut nama. Ia memandangi saya, seperti tak percaya. Kemudian senyumnya mengembang. Nama panggilan saya memang persis sama dengan salah satu tokoh dalam Stalking the Elephant Kings, buku nonfiksi pertamanya yang berkisah tentang catatan perjalanannya ke Laos. Bedanya, tokoh tersebut laki-laki dan menantu putri terakhir Kerajaan Laos.

 

"Saya akan menulis tentang Indonesia kapan-kapan. Negeri itu punya sejarah menarik," ujarnya saat saya temui pada acara makan siang yang digelar Foreign Correspondent's Club, awal Maret lalu.

 

Namanya Christopher Kremmer. Ia datang di Hong Kong untuk menghadiri Hong Kong Literary Festival 2008 yang digelar akhir Februari hingga pertengahan Maret. Empat buku yang ditulisnya telah membuat namanya populer di jajaran penulis dengan genre creative nonfiction. Buku terakhirnya, Inhaling the Mahatma, bahkan membuatnya - oleh para kritikus - disejajarkan dengan Vidiadhar Surajprasad Naipaul, penulis Inggris kelahiran Trinidad yang punya karakter khas dalam narasi dan mendapatkan penghargaam Nobel Sastra 2001.

 

Kremmer lahir di Sydney, Australia. Ia menyelesaikan studi sarjana di bidang penulisan di University of Canberra, sebelum terjun sebagai jurnalis media cetak dan broadcasting. Ia pernah menjadi koresponden Australian Broadcasting Corporation (ABC) untuk kawasan Asia Selatan dan Vietnam, juga menjadi kontributor tetap untuk surat kabar Sydney Morning Herald dan The Age.

 

Saat ini Kremmer menjadi instruktur workshop penulisan nonfiksi di Australia dan sejumlah negara, serta sedang mengambil riset doktoral di University of Western Sydney untuk penulisan kreatif.

 

Agenda Kremmer di Hong Kong, awal Maret lalu, salah satunya juga karena undangan panitia Literary Festival 2008 agar menjadi instruktur penulisan creative non-fiction. Pesertanya dibatasi hanya 15 orang dan panitia mengutip HK$ 650 per kepala untuk workshop yang berlangsung tak sampai sehari.

 

Namun tak hanya untuk itu Kremmer datang. Saat saya temui Kremmer usai meluncurkan ulang Inhaling The Mahatma dan menggelar dialog yang diikuti sekitar 50 orang. Meski dialog digelar di Hong Kong, hanya dua orang bermata sipit yang saya lihat di sekitar tempat itu. Lainnya, wajah-wajah Eropa dan orang berkulit gelap yang sekilas saya tahu berasal dari India.

 

Buku terbaru Kremmer yang diluncurkan ulang hari itu memang berkisah tentang India, tentang masa-masa sulit yang mesti dilalui negeri berpenduduk lebih dari 1 miliar itu dalam memasuki modernisasi, juga konflik antaragama dan kasta yang seperti tak pernah mandek. Buku ini tak hanya informatif, lewat upaya Kremmer mewawancarai sejumlah politisi India, termasuk pertemuannya dengan Rajiv Gandhi dan Rahul Gandhi, tapi juga dituturkan dalam pilihan bahasa yang mengalir, dengan detail deskripsi yang menawan.

 

Terlibat

KREMMER, dalam semua buku nonfiksinya, tak berusaha menjaga jarak dengan objek yang ditulis. Ia malah terkesan terlibat, bahkan dalam emosi yang melingkupi para narasumbernya.

 

Dalam Stalking the Elephant Kings - yang kemudian diterbitkan ulang sebagai Bamboo Palace - Kremmer berhasil menyeret pembaca dalam kemurungan penduduk Laos yang dipaksa melupakan sejarah para keluarga kerajaan, pasca-berkuasanya partai komunis di negeri tersebut.

 

Hal sama terjadi dalam buku The Carpet Wars yang berkisah tentang kehidupan sosial politik masyarakat Afghanistan. Dalam narasinya, Kremmer menyeret pembaca untuk melihat bagaimana dunia Barat selama ini memiliki kesalahpahaman yang akut terhadap komunitas masyarakat muslim.

 

Namun keterlibatan Kremmer paling terlihat jelas dalam buku terbarunya, Inhaling the Mahatma. Mungkin karena dia sendiri akhirnya memutuskan menikah dengan seorang perempuan jurnalis asal India pada tahun 1992. Pernikahan yang membuat dia memiliki koneksi intim dengan keluarga India dengan seluruh sejarah dan tradisi yang melingkupinya.

 

Kremmer menyebut tulisannya tentang India itu sebagai yatra atau sebuah ziarah. Buku itu tak hanya sebuah catatan perjalanan fisik, tapi juga spiritual. Sebuah upaya untuk memahami India bukan hanya dari kaca mata orang "bule", melainkan sepenuhnya sebagai India.

 

Pengalaman bertahun-tahun sebagai jurnalis menjadikan Kremmer tetap bisa menjaga displin perihal pencarian fakta dan akurasi data. Ini membuat semua buku nonfiksi yang ditulisnya, juga Inhaling the Mahatma, tak sekadar "asal bicara".

 

Satu hal lagi, pengalaman awal Kremmer sebagai penulis kisah fiksi, membuat gaya bahasa yang dipakainya dalam penulisan nonfiksi mengalir seperti sebuah novel. Dia bisa mendeskripsikan ruang, benda, suasana dengan sangat detail. Selain mengandalkan ingatan, dia mengaku berhasil menggambarkan detail tersebut karena bantuan catatan di memonya, tape recorder, dan juga mengunjungi ulang tempat-tempat yang ditulis, juga menemui kembali para narasumbernya. Ia mengaku terinspirasi karya-karya Tom Wolfe - salah satu pelopor genre creative nonfiction - dan juga Vikram Seth.

 

Ketertarikan pada sejarah, kisah-kisah perjalanan, politik kontemporer, dan rasa bahasa yang terasah lewat tulisan-tulisan fiksi membuat trilogi "buku Asia"-nya, Bamboo Palace, The Carpet Wars, dan Inhaling the Mahatma, bisa dinikmati laiknya novel.

 

"Saya berencana membuat novel fiksi setelah ini," ujar Kremmer saat saya tanya tentang rencana dia selanjutnya. Namun menurut dia, novel itu masih akan berkisah banyak tentang Asia. "Tapi kalau soal Indonesia, saya akan menulis nonfiksinya. Indonesia punya sejarah luar biasa," ungkapnya.

 

Siang itu, melihat Kremmer, saya nyaris tak percaya bahwa ia orang Australia. Selain kulit putihnya, hampir seluruh ucapan dan tindak-tanduknya menunjukkan ia orang Asia. Perjalanan ke negeri-negari Asia dan interaksi dengan penduduk setempat membuat Kremmer jauh dari sekadar sebagai pengamat. Dan lewat buku-bukunya, agaknya dunia dipaksa untuk melihat perjalanan manusia-manusia Asia secara lebih adil. (E4)

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

    Tidak ada data 5 Berita terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

    Tidak ada data 5 Kisah terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

    Tidak ada data 5 Artikel terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua